Pewaris Yang Kabur

Pewaris Yang Kabur
¹⁷⁴. Umpan yang tepat untuk memancing black


__ADS_3

Ambulans berjalan dengan cepat ke rumah sakit dengan Glenn yang telah bertelanjang dada di atas brankar di dalam ambulans.


Hendrik duduk di sudut sembari mengatur nafasnya yang tersengal melihat seluruh pakaian pria itu dirobek menggunakan gunting.


Hendrik juga terkejut melihat luka di sekujur tubuh pria itu sangatlah banyak dan mengerikan.


Dia tidak menyadarinya ketika berada dalam air, tapi sekarang, saat melihat nya seperti itu, dia merasa kasihan pada Glen.


"Kakinya mungkin patah,, cepat siapkan gips!" Kata seorang pria yang adalah seorang dokter yang bertugas lalu mereka mulai merobek celana Glen.


Hendrik membuang muka melihat darah yang terus tercecer membasahi brankar.


Dia duduk memejamkan matanya di dalam mobil ambulans hingga mereka akhirnya tiba di rumah sakit lalu Glenn langsung dilarikan ke IGD.


Sementara Hendrik, dia dijemput oleh orang-orangnya lalu pria itu dituntun untuk mengganti pakaiannya.


Setelah mandi dan berganti pakaian, Hendrik keluar dari ruangan dan mendapati Waldo dan Dirga berdiri menunggunya.


"Tuan baik-baik saja? Apakah Tuan membutuhkan sesuatu?" Dirga langsung bertanya dengan cemas.

__ADS_1


Dia tidak bisa membayangkan jika terjadi sesuatu pada Hendrik, Alana dan Agung mungkin akan mengamuk padanya! Apa lagi Romi!


"Jangan banyak bicara, cepat laporkan situasinya." Ucap Hendrik menatap dua pria yang ada di depannya.


Waldo merupakan asisten Romi yang sudah mengikuti Romi sejak Hendrik masih berkuliah, sementara Dirga, pria itu adalah asisten pribadinya.


Dirga tidak mengatakan apapun, dia hanya berdiri memandang Waldo.


Waldo melihat Dirga yang mengharapkannya berbicara, "Kami sudah mengintrogasi seluruh orang yang terlibat dalam kecelakaan itu dan menemukan mereka adalah anggota biasa dari black. Sedangkan sopir truk yang mengendarai truk, dia diancam untuk menabrak Tuan agar keluarganya bisa selamat.


"Lalu satu lagi, dari informasi yang kami ketahui bahwa pemimpin Black saat ini adalah X, tetapi kami tidak berhasil mengetahui keberadaan Tuan Hans." Kata Waldo


"Kami sudah melakukannya, tetapi tempat yang diberitahukan orang-orang itu sudah ditinggalkan oleh Black. Saat ini kami masih berusaha melacaknya tetapi sampai saat ini belum ada sedikitpun petunjuk." Ucap Waldo.


"Benar-benar tidak bisa menemukan mereka, kalau begitu kita pancing mereka keluar. Aku rasa umpan yang tepat adalah aku sendiri," Ucap Hendrik mengejutkan dua orang yang berada di depannya.


Dirga terkejut, "Tuan, saya tidak menyarankan kalau kita akan memancing mereka dengan Tuan." Ucap Dirga menatap Hendrik dengan tatapan takut.


"Tidak ada pilihan lain. Satu-satunya hal untuk membuat mereka menampakkan diri adalah memancing mereka dengan umpan yang tepat." Kata Hendrik dengan tatapan yang tak bisa digoyahkan.

__ADS_1


Dirga hanya bisa menghela nafas, dia sangat takut kalau pria itu sampai kenapa-kenapa, tapi dia tahu kalau dia tidak bisa menghentikan tekad Hendrik.


"Kalau begitu bagaimana saya harus mempersiapkannya?" Waldo akhirnya bertanya meski dalam hatinya dia juga tidak setuju dengan rencana ini


Sedikit saja kesalahan maka nyawa Hendrik bisa melayang, lalu jika itu terjadi maka dia akan menjadi orang yang paling bertanggung jawab!!!


Romi tidak akan melepaskannya kalau sampai terjadi sesuatu pada Hendrik.


"Mari bicarakan masalah ini di tempat yang tenang." Kata Hendrik lalu Ketiga orang itu segera pergi ke sebuah ruangan yang lebih tenang di rumah sakit itu.


Mereka membicarakannya sampai sore hari lalu Hendrik meninggalkan rumah sakit untuk berpamitan pada Alana dan Agung.


Tidak seperti sebelumnya ketika mobil mereka hanya dikawal oleh satu mobil saja, maka saat ini mobil mereka dikawal oleh belasan mobil di depan dan belakang.


Mobil yang mereka tempati bahkan bukan mobil yang seharusnya ditempati oleh seorang bos, melainkan mobil yang tampak biasa-biasa saja seperti mobil pengawal.


Hal ini dilakukan untuk mengecoh lawan jika mereka menyerang maka setidaknya mereka hanya akan menyerang mobil utama, bukannya mobil pengawal.


"Tuan,, Tuan yakin mau melakukan ini? Sedikit saja kesalahan nyawa Tuan akan dipertaruhkan." Kata Dirga dengan cemas menatap pria yang duduk dengan tenang.

__ADS_1


"Tidak ada pilihan lain, jika kita tidak segera mengakhirinya maka akan ada banyak orang yang terluka. Aku tidak mau kalau Alana dan Agung sampai dikorbankan." Ucap Hendrik memejamkan matanya.


__ADS_2