Pewaris Yang Kabur

Pewaris Yang Kabur
¹⁶¹


__ADS_3

Meninggalkan Alana dan Agung, Hendrik bersama Dirga pergi ke depan villa untuk berbicara.


"Apa yang terjadi?" Tanya Hendrik pada Dirga.


Dirga menatap Hendrik dengan cemas lalu pria itu berkata, "Seperti yang kita rencanakan, Tuan Hans memang membangkrutkan perusahaan Wijaya.


"Tetapi kemarin malam baru saja terdengar kabar bahwa Tuan Hans melarikan diri ke negara K. Namun saya merasa bahwa itu bukanlah Tuan Hans karena pria yang terekam CCTV itu bisa berjalan dengan normal sementara menurut mata-mata kita yang ditempatkan di kediaman keluarga Gonedra bahwa Tuan Hans berada dalam keadaan koma.


"Jika pria itu benar-benar sadar maka tidak mungkin langsung memiliki tenaga untuk melarikan diri seperti yang ada di rekaman CCTV." Ucap Dirga sambil memperhatikan Hendrik yang terlihat berpikir menelaah setiap penjelasannya.


"Kalau begitu mungkin saja orang itu masih ada di dalam negeri." Ucap Hendrik.


"Tidka Tuan, mata-mata kita yang berada di keluarga Gonedra mengatakan bahwa pada pukul 12.00 malam kemarin Hans tiba tiba di bawa secara rahasia meninggalkan kediaman. Sepertinya dia dipindahkan ke sebuah tempat yang tersembunyi lalu mereka mengalihkan perhatian semua orang ke negara K" kata Dirga menjelaskan.


"Kalau begitu, dia pasti melarikan diri untuk mencari pengobatan. Lalu bagiamna keluarga Wijaya?" Tanya Hendrik.


"Seseorang sudah menyelidikinya dan Tuan Wijaya telah diseret ke penjara, sementara putrinya dikabarkan menghilang." Jawab Dirga.

__ADS_1


"Menghilang?" Hendrik betanya dengan bingung.


"Ya, terakhir kali ada yang melihatnya diseret ke dalam mobil oleh orang-orang berpakaian hitam yang tidak dikenali. Kemungkinan adalah suruhan Tuan Hans," jawab Dirga.


"Hah, biarkan saja itu, lalu apa informasi terbaru dari mata-mata kita yang bersama dengan Black?" Tanya Hendrik.


"Tidak ada, sejauh ini Black sangat berhati-hati dalam bertindak, mereka tidak mau menggunakan bawahan sembarang jadi kita tidak memiliki informasi apapun." Ucap Dirga membuat Hendrik menghela nafas.


"Ya sudah, semakin bergetat keamanan di tempat ini, mungkin saja pria itu memiliki rencana lain," kata Hendrik lalu pria itu berbalik memasuki Villa.


Hendrik langsung menghentikan langkah kakinya dan melihat beberapa orang sudah mengepung tempat mereka.


"Sial!!" Umpatnya langsung berlari ke dalam rumah lalu menuju pintu samping melihat Alana dan Agung masih sementara bermain ayunan.


Pria itu dengan wajah tegang nya langsung berlari kearah dua orang itu dan menyambarnya secara bersamaan.


"Ayah!!!" Agung sangat terkejut sampai pria kecil itu berteriak dalam gendongan Hendrik.

__ADS_1


"Ada orang jahat,, jangan berteriak!!" Ucap Hendrik langsung masuk ke Villa lalu menuju ruangan rahasia bawah tanah yang membawa mereka ke sebuah jalan.


"Ada apa?" Tanya Alana saat ia diturunkan Hendrik dari pelukan pria itu.


"Cepat masuk," kata Hendrik membuka pintu mobil yang selalu disiapkan di ruang bawah tanah.


Melihat wajah Hendrik yang sangat panik, Alana mengerti untuk tidak bertanya apapun, perempuan itu masuk ke mobil bersama dengan Agung lalu mobil itu berlari melaju dengan kecepatan tinggi di terowongan bawah tanah.


"Ini pertama kalinya aku naik kendaraan ini,, kita mau ke mana? Apakah kita akan meninggalkan Villa??" Agung berseru sangat senang sembari duduk di pangkuan Alana menatap ke arah depan.


Berusaha tersenyum, Hendrik kemudian berkata, "Ya,, Ini perjalanan yang akan menyenangkan."


"Wah,, benarkah?!!" Seru Agung lalu melihat pada ibunya, "Apakah ibu sudah baik-baik saja meninggalkan Villa?" Tanyanya.


"Ya,"jawaban Alana begitu dipaksa karena sejujurnya dia belum siap untuk bertemu dunia luar.


Tetapi melihat bagaimana paniknya Hendrik ketika membawa mereka ke tempat itu, maka dia memberanikan dirinya sembari memeluk Agung dengan erat.

__ADS_1


__ADS_2