Pewaris Yang Kabur

Pewaris Yang Kabur
¹⁰⁹. Sudah terlalu mengabaikan Hendrik


__ADS_3

"Ya,, aku akan mati menyusul Ibuku lalu kau akan mencari orang lain untuk meneruskan perusahaanmu, itu yang kau inginkan 'kan?" Sela Hendrik dengan suara mengejek membuat Hans terkejut.


"Oh, Jadi kau sudah tidak takut lagi kalau foto-foto kekasihmu itu tersebar ke seluruh penjuru dunia? Heh,, akan sangat bagus kalau foto-foto itu dijual di web black,, ada banyak pria yang akan menikmatinya." Ucap Hans dengan tatapan mengejek pada putranya.


"Heh, lakukan saja, lagipula sudah 5 tahun berlalu dan Alana juga sudah menghilang, untuk apa lagi aku menahannya? Terserah pada mu saja." Kata Hendrik berdiri merapikan jasnya.


"Aku ada meeting dengan petinggi perusahaan, aku pergi dulu. Oya, dan satu lagi,, sekarang aku meneruskan bisnismu bukan karena foto itu lagi, tapi karena aku ingin terus berada di sisimu hingga bisa menikmati bagaimana kau menjadi tua dan bodoh!


"Saat itu aku akan mengirimmu ke panti jompo hingga kau bisa menikmati hari tuamu dengan baik! Ah,, aku juga akan menyiapkan beberapa wanita untuk menemani mu di panti jompo. Juga,, tentu saja beberapa dokter untuk penyakit menular milik mu,,," Ucap Hendrik tersenyum penuh kemenangan lalu meninggalkan Hans yang kini terkejut dengan ucapan anaknya.


Dari mana Hendrik tahu bahwa dia didiagnosa mengidap penyakit menular??


"Arrghh!!!" Teriak pria itu meraih gelas di atas meja dan melemparkannya ke salah seorang pengawal yang berdiri di sudut ruangan.


Brak!!!

__ADS_1


Segera darah dari tubuh pengawal mengalir ke lantai dengan gelas yang telah pecah di bawah lantai.


Tetapi pengawal itu, dia hanya bisa menahan rasa nyeri di bagian dahinya tanpa berani bergerak sedikitpun.


"Selidiki keberadaan perempuan itu!! Aku ingin melihat apakah putri dari Romi Xioner itu benar-benar sudah menghilang atau hanya karang-karangan saja!!!" Ucap Hans sembari mengepal erat tangannya.


"Baik Tuan," jawab salah seorang pengawal lalu keluar dari ruangan untuk segera memulai penyelidikan nya.


Baru saja pengawal itu keluar ketika salah seorang bawahan Hans yang lain memasuki ruangan.


"Apa yang terjadi? Bukankah seluruh urusan perusahaan sudah ku serahkan pada putraku?" Tanya Hans.


"Ya, tetapi,, ini adalah masalah yang tidak bisa ditangani oleh Tuan Hendrik sendirian." Ucap bawahan itu membuat Hans langsung berdiri dan menggertakan giginya menuju ruang meeting.


Sudah lama orang-orang yang duduk di kursi dewan direksi berusaha melengserkannya.

__ADS_1


Tapi karena mereka terlalu takut akan kekuasaan yang ia miliki maka tidak ada satu pun yang berani padanya.


Mengapa sekarang tiba-tiba memanggilnya dalam meeting?


"Apa yang terjadi?" Tanya Hans sembari berjalan ke lift.


"Belum diketahui pasti, tetapi beberapa klien yang bekerjasama dengan perusahaan kita tiba-tiba mengajukan keluhan yang membuat para dewan direksi meminta kedatangan Tuan di ruang meeting." Ucap bawahan Hans.


"Selidiki masalah ini, juga cari tahu juga riwayat perjalanan Hendrik dalam beberapa hari terakhir." Perintah Hans yang merasa ada sesuatu yang tidak beres di belakangnya.


Awalnya dia dengan tenang meninggalkan perusahaan di tangan Hendrik sebab Dia tahu pria itu tidak akan macam-macam karena satu-satunya hal berharga yang dimiliki Hendrik berada di tangannya.


Tapi sekarang....


'Sepertinya aku sudah terlalu mengabaikan Hendrik,' pikir Hans.

__ADS_1


__ADS_2