
Akhirnya, setelah berbicara dengan Romi, Hendrik tidak lagi meminta untuk dipertemukan dengan Alana, pria itu dengan tahu diri meninggalkan rumah sakit dan kembali ke kediamannya.
Ketika tiba di rumahnya, Hendrik menghentikan langkahnya saat melihat ayahnya sedang bersenang-senang di ruang tamu bersama dengan beberapa perempuan dan teman-teman ayahnya yang lain.
Hans yang melihat kedatangan putranya dengan luka di sekujur tubuhnya langsung berdiri karena sangat terkejut.
"Dari mana kau?!!" Teriak pria itu pada Hendrik.
Dia pikir putranya sudah bertobat dan akan mengikuti keinginannya setelah Dia memegang foto-foto Alana.
Tapi ternyata putranya kembali ke rumah dengan memar di sekujur tubuhnya dan beberapa darah kering berada di kulit dan pakaian pria itu.
Sangat mempermalukannya di depan teman-temannya!!
"Aku ke atas." Ucap Hendrik lalu dia melangkahkan kakinya ke tangga meninggalkan orang-orang yang sedang berpesta minuman keras di siang bolong itu.
"Whahh,, sepertinya tuan muda Gonedra sudah berubah. Apa kalian semua mendengar suaranya barusan?" Salah seorang pria tua yang sedang membelai seorang perempuan membuka mulutnya dengan rasa tak percaya.
Dia sudah bersama Hans selama puluhan tahun dan selama itu pula mereka tidak pernah mendengar suara Hendrik, mereka akan melihat pria itu hanya berani tertunduk dan tak mampu menatap orang lain.
__ADS_1
Tapi sekarang.....
Hans yang melihat bagaimana orang-orang kini merubah pandangannya pada putranya, pria itu kembali duduk di kursinya dan menghela nafas.
"Mulai sekarang Putraku tidak akan bisa lagi di tindas. Dia benar-benar akan menjadi pewaris ku." Ucap Hans dengan suara ketawanya yang merasa sangat senang.
Benar, putranya sudah berani berbicara didepan semua orang, itu artinya rencananya sudah berhasil!
"Ha ha ha... Kau tampak sangat senang. Bagaimana kalau kita berpesta sampai malam?" Pria tua dengan kepala botak berbicara sembari mengangkat gelas anggurnya.
"Tentu saja..!! Hari ini seluruh kantor diliburkan dari pemimpinnya!!" Sambut Hans yang merasa sangat senang lalu semua orang itu kembali melanjutkan acara minum-minum mereka.
"Hah,, padahal aku sangat ingin menemuinya dan mempertanyakan sikapnya. Mengapa dia tiba-tiba berubah pikiran?" Hendrik menghela nafas dengan panjang karena dia gagal menemui Alana.
Dia benar-benar tidak mengerti dengan Alana, awalnya perempuan itu setuju tapi kemudian menjadi marah.
Tok tok tok...
"Aden.." tiba-tiba suara Lina dari balik pintu menarik perhatian Hendrik.
__ADS_1
Hendrik langsung berjalan kearah pintu dan membuka pintu kamarnya.
"Ini Aden, Tuan Besar menyuruh saya mengantar makanan untuk Aden." Ucap Lina yang berdiri memegang nampan berisi makanan dan minuman.
"Terima kasih Bi," ucap Hendrik menerima nampan itu lalu dia membawanya ke kamar.
"Oya Aden, Tuan Besar juga menyuruh saya berpesan kalau Aden sudah makan supaya Aden pergi ke kantor dengan Tuan Dani." Ucap Lina membuat Hendrik menghentikan langkahnya.
Setelah beberapa saat pria itu menjawab "Aku mengerti."
Setelah Lina meninggalkan kamarnya Hendrik duduk memandangi makanan yang ada di depannya.
"Apakah Alana juga makan dengan baik? Atau mungkinkah Dia tidak bisa makan karena trauma yang ia dapatkan?" Hendrik menghela nafas, dia benar-benar tidak bisa tenang memikirkan Alana.
Ia sangat ingin menemui perempuan itu.
'Ahh,, sekarang Bukan saatnya memikirkan Alana, sekarang aku harus memikirkan bagaimana caranya aku bisa cepat menjadi berkuasa dan perlahan-lahan menguasai perusahaan pria tua itu. Pertama-tama aku harus menarik Dani ke sisiku, dengan pria itu berbelok melawan Hans maka aku yakin aku lebih cepat melumpuhkan pria tua itu.' pikir Hendrik segera menyantap makanannya agar cepat bersiap untuk pergi ke kantor.
__ADS_1