Pewaris Yang Kabur

Pewaris Yang Kabur
⁶⁴. Pewarisku satu-satunya


__ADS_3

Setelah berpakaian, Hendrik seperti biasa selalu menikmati kopi di balkon kamarnya. Dan kali ini dia kembali melihat seorang pria kecil yang duduk di taman sembari memandang selembar kertas yang entah apa isinya.


'Pria kecil itu... Apakah dia selalu sendirian?' dari sudut matanya Hendrik memperhatikan pria kecil itu.


Dia belum pernah melihat wajah pria kecil itu secara jelas, sebab pria kecil itu selalu duduk menyampinginya di kursi taman.


Namun entah kenapa dalam hatinya Dia sangat penasaran dengan pria kecil itu. Padahal selama ini dia menjauhi anak kecil karena dia memiliki masa lalu yang sangat kelam tentang masa kecilnya.


"Raffi," panggil Hendrik tanpa mengalihkan pandangannya dari pria kecil itu.


"Ya Tuan," jawab Raffi segera memasuki kamar Hendrik dan mendekati pria itu untuk mendapat perintah.


"Selidiki pemilik rumah di sebelah, Aku penasaran siapa Anak kecil itu." Ucap Hendrik.


Raffi segera melihat kearah anak kecil yang duduk di taman, tidak biasanya Tuannya memperhatikan seorang anak kecil.


"Akan saya lakukan." Jawab Raffi.


"HM, ada berapa jadwal hari ini?" Tanya Hendrik.


"Pukul 9 pagi Tuan akan bertemu dengan Nona Patra." Jawab Raffi.


"Batalkan janji itu," ucap Hendrik.


"Tapi Tuan, Tuan Hans mungkin akan curiga kalau janji Ini dibatalkan. Bagaimana kalau Tuan menemuinya sebentar lalu langsung meninggalkannya?" Saran Raffi.

__ADS_1


"He,, kau masih berpihak pada ayahku?!" Tanya Hendrik kini menatap Raffi dengan sorot mata tajam nya.


"Saya tidak berani tuan, tapi Tuan Hans baru saja mengganti salah satu pengawal yang--"


"Lalu apa yang kau lakukan?!! Mengapa tidak mencegahnya?!!" Teriak Hendrik kini menjadi marah.


"Maaf Tuan, kalau saya mencegahnya maka Tuan Hans akan mencurigai saya dan--"


"Lalu kamu membiarkan pengawal itu memata-matai ku??!!! Itu yang kau inginkan?!!" Teriak Hendrik dengan marah.


"Tuan--"


"Pergi dan urus pengawal itu! Atau tinggalkan Villa ini!!" Teriak Hendrik dengan marah.


Hendrik menggertakkan giginya merasa kesal dengan Raffi. Pria itu lalu berdiri mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Datang ke sisiku." Ucapnya.


"Baik Tuan," jawab pria dari seberang telepon lalu panggilan itu segera diputuskan.


"Aku tidak bisa mempercayai Raffi, kemungkinan besar dia akan menghianati ku hanya karena sebuah ancaman dari ayahku." Hendrik menghela nafas dengan kasar lalu pria itu kembali duduk melanjutkan minum kopinya.


Setelah 30 menit, akhirnya kopi dalam gelas Hendrik telah habis pria itu segera berdiri dan berangkat ke kantor.


Raffi duduk di kursi penumpang depan sembari memegang erat ipad-nya.

__ADS_1


Dia tidak berani berkata apapun, takutnya Hendrik menjadi lebih marah lagi dan mengusirnya.


"Mulai pagi ini kau tidak perlu lagi bekerja denganku." Tiba-tiba kata Hendrik membuat punggung Rafi menegang dan pria itu mengangkat wajahnya melihat Hendrik.


"Tuan Muda, apa maksud Tuan?" Tanya Raffi.


"Aku bilang hari ini Kau dipecat!" Ucap Hendrik dengan suara datarnya.


"Tapi Tuan--"


"Hentikan mobilnya." Ucap Hendrik.


Segera sang supir menghentikan mobil lalu turun dari mobil itu sebelum mobilnya kembali berjalan.


Dari spion mobil Hendrik memperhatikan Raffi yang memandangi kepergian mobilnya 'Aku tidak bisa mengambil resiko, orang yang tak punya pendirian tetap seperti dia tidak bisa kupercayai.' pikir Hendrik.


Akhirnya, Hendrik segera tiba di kantor Godnedra, pria itu berjalan memasuki lift dan langsung naik ke lantai paling atas Dimana kantor CEO berada.


"Kau sudah datang," Hans langsung menyambut putranya dengan pemandangan menjijikkan saat Hendrik melihat ayahnya di pagi hari sudah mengundang perempuan-perempuan murahan ke kantornya.


"Aku hanya datang mengecek kantor baruku." Ucap Hendrik.


"Baiklah, kau boleh melihat-lihat, karena mulai besok tempat ini akan menjadi milikmu. Pewaris ku satu-satunya." Ucap Hans sambil tersenyum.


__ADS_1


__ADS_2