Pewaris Yang Kabur

Pewaris Yang Kabur
⁵⁸. Siapa Tuanmu?


__ADS_3

Ketika Hendrik kembali ke kamarnya, pria itu segera membersihkan diri lalu dia membuka sebuah kotak hitam berisi ponsel yang tidak diketahui siapa pun selain dirinya.


Setelah mengaktifkan ponsel itu Hendrik kemudian menekan satu-satunya nomor ponsel yang tersimpan di sana.


Drrt.... Drrt... Drrt...


Sembari menggenggam benda pipi di itu di dekat telinganya, Hendrik menunggu orang di seberang untuk mengangkat telepon.


Tapi setelah panggilan pertama berakhir, panggilan itu tidak diangkat jadi dia melakukan panggilan kedua dan ketiga namun semuanya berakhir sama, tak terjawab.


Dengan wajah yang tampak tenang dan ekspresi yang datar Hendrik kemudian menggerakan 2 jempolnya di atas layar dan mengirim pesan pada orang di seberang telepon.


"Saya sudah kembali." Ketiknya lalu mengirim pesan itu dan meletakkan ponselnya di atas nakas.


Setelahnya Hendrik keluar dari kamarnya dan mendapati Raffi sedang menunggunya di sana.


"Makan siang sudah siap," kata pria itu.


"Baiklah." Jawab Hendrik lalu kedua pria itu segera pergi ke ruang makan.


Hendrik duduk sendirian di meja panjang yang berada di ruang makan setelah beberapa saat terdiam memandangi makanan di depannya, dia kemudian menatap Raffi.

__ADS_1


"Duduklah." Perintahnya membuat Raffi sangat terkejut.


Selama dia mengikuti Hendrik, pria itu tidak pernah membiarkannya makan bersama, dia juga tidak berani melakukannya sebab sejak pertama kali dia bertemu Hendrik aura pria itu sudah membuatnya ketakutan setengah mati.


Tapi sekarang?!


"Tuan, saya--"


"Mau membantah?!" Suara Hendrik yang penuh penekanan akhirnya tidak bisa dilawan oleh Raffi, pria itu segera berjalan kelas salah satu kursi kosong dan duduk disana dengan tubuh yang tegang.


"Makanlah," kata Hendrik membuat tangan gemetar Raffi mengambil sendok dan mulai makan bersama pria itu.


Setiap kali makanan yang masuk ke dalam mulutnya dia selalu berpikir bahwa makanan itu mengandung racun yang berasal dari Tuan Hendrik.


Makan siang itu berlangsung dengan sangat hening sampai ketika Hendrik tiba-tiba bertanya "Siapa Tuanmu?"


Raffi langsung menghentikan gerakan tangannya yang akan menyuap makanan saat mendengar pertanyaan pria itu.


"Tuan saya adalah tuan Hendrik." Jawabnya dengan insting yang merasakan bahwa Hendrik mengajaknya makan siang karena ada sesuatu yang penting dan kali ini akan sulit dia lalui.


"Kau yakin dengan jawabanmu?" Kembali tanya Hendrik membuat perasaan Raffi menjadi semakin tidak tenang.

__ADS_1


Selama 5 tahun mengikuti Hendrik, dia tidak pernah mendengar pria itu bertanya seperti itu. Tapi mengapa sekarang mempertanyakannya?


"Saya berani bersumpah dengan nyawa saya." Ucap Raffi meyakinkan Hendrik.


"HM, bagaiman dengan Hans?" Tanya Hendrik membuat Raffi mematung.


'Apakah dia ingin aku memilih antara ayahnya dan dirinya?' Raffi menelan air liurnya, selama ini dia bekerja untuk keluarga Gonedra, ia mengikuti perintah dari Hendrik dan juga mengikuti perintah dari Hans.


Jadi jika disuruh untuk memilih antara keduanya maka dia tidak akan bisa melakukannya sebab 2 orang itu adalah dua orang yang sama-sama keras dan menakutkan.


"Tuan, Saya bekerja untuk keluarga Gonedra." Jawab Raffi.


"Itu artinya kau memiliki dua Tuan?" Tanya Hendrik.


"Itulah yang selama ini saya jalankan." Jawab Raffi mencari sisi aman.


"Yang artinya, kedepannya kau mungkin akan berpihak pada salah satu dari anggota keluarga Gonedra dan membelot pada yang lainnya?" Ucap Hendrik sembari mengangkat wajahnya dan menatap pria yang kini terdiam.


Selama 5 tahun dia sudah mengumpulkan kekuatan menarik banyak orang dari sisi Hans ke sisi-nya tetapi Rafi ini, dia belum melakukannya.


Dia sengaja tidak melakukannya karena tidak mau bila Hans sampai curiga, tapi sekarang, Kalau pria itu masih terus bekerja untuk Hans, maka segala sesuatu yang ia lakukan di ibukota tidak akan berjalan lancar.

__ADS_1


Mata-mata Hans ada di sisinya.



__ADS_2