
Alana ditarik oleh Agung sampai mereka melihat Hendrik sudah berdiri menunggu mereka.
"Lho??" Alana mengerutkan keningnya sembari melangkahkan kakinya ke arah Hendrik.
Pria dengan jas hitam beserta bunga kecil di dada sebelah kirinya, rambut yang disisir rapi dan wajah yabg tersenyum bahagia.
"Bukankah kau pergi ke luar negeri?" Alana bertanya dengan bingung saat ia dan Hendrik kini hanya berjarak 5 langkah saja.
"Ya,, setelah ini aku akan pergi ke luar negeri,,, bersamamu," ucap Hendrik mengulurkan tangannya lalu Agung memindahkan tangan Alana yang ia pegang ke genggaman ayahnya.
Alana kebingungan apalagi saat Hendrik menariknya semakin dekat ke arahnya.
"Ayo," ucap Hendrik lalu membawa mereka semakin mendekat ke pintu masuk Allah besar pernikahan mereka.
Alana kebingungan melihat foto-foto mereka dipajang di sekitar pintu masuk.
Foto keluarga mereka saat berlibur di taman bermain dan beberapa foto yang lain yang entah diambil di mana. Alana lupa, lebih tepatnya malas berpikir.
Alana tidak punya waktu untuk berpikir banyak, dia hanya melangkahkan kakinya mengikuti Hendrik hingga mereka berdiri di ujung karpet merah.
"Ini,," Alana melihat altar di depan mereka.
Para tamu undangan dan dekorasi ruang pernikahan yang begitu megah.
Perempuan itu tercengang sampai ia mendengar suara pembawa acara.
__ADS_1
"Kedua pengantin memasuki ruang resepsi!" Seru pembawa acara.
Hendrik langsung menoleh pada Alana sembari tersenyum ke arah perempuan itu, "Ayo," ucapnya.
Alana terbengong melihat senyum Hendrik yang begitu memukau, tetapi ia mengikuti pria itu melangkahkan kakinya hingga mereka berjalan di karpet merah menuju altar yang masih berjarak beberapa puluh meter dari mereka.
Plok plok plok....
Orang-orang tidak mengetahui identitas Alana, tetapi mereka mengetahui Hendrik, jadi orang-orang yang diundang di sana bertepuk tangan dengan meriah meski mereka kebingungan.
Mengapa mereka diundang ke tempat itu, sedangkan mereka tidak dekat dengan Alana maupun Hendrik. Terlebih, nama pengundangnya adalah Romi!!!
Tetapi, ketika di belakang mereka seorang pria kecil menghamburkan bunga diikuti seorang pria lain yang merupakan Romi, semua orang kini tersadar dan bisa menebak siapa yang menikah hari itu.
"Pasangan yang sangat serasi, jangan-jangan dia adalah putri Tuan Xionir yang selama ini menghilang."
"Ya, benar, tapi sepertinya aku bisa menebak mengapa Tuan Romi menyetujui pernikahan ini. Coba lihat pria kecil yang membawa bunga, bukankah wajahnya tampak seperti perpaduan antara Putri Tuan Xionir dengan calon suaminya?"
"Astaga,, mereka sudah memiliki Putra!!"
Orang-orang berbisik-bisik sembari terus bertepuk tangan menunggu kedua mempelai menaiki altar.
Begitu tiba di altar, Romi dan Agung berpindah ke tempat duduk yang berada di depan lalu membiarkan dua orang itu mengaku janji pernikahan mereka di hadapan pendeta.
"Aku berjanji sehidup semati denganmu!" Ucap Alana dan hendrik bersamaan dengan Alana yang tak bisa menahan rasa haru bahagianya.
__ADS_1
"Kakek, menagap ibu menangis?" Agung bertanya dengan bingung saat melihat ibunya yang baru saja selesai mengaku janji pernikahan tiba-tiba saja meneteskan air matanya.
"Jangan khawatir, Itu adalah air mata bahagia." Kata Romi pada cucunya lalu melihat dua orang yang berada di altar kini berpelukan dengan Alana yang tampak lemas karena rasa haru yang memenuhi perempuan itu.
Tepuk tangan untuk mereka..." Ucap sang pembawa acara
Plok plok plok...
Semua orang bertepuk tangan sesuai dengan instruksi sang pembawa acara.
"Hei, jangan begini, nanti orang-orang berpikir kalau aku memaksamu menikah denganku, makanya kau menangis." Ucap Hendrik menepuk-nepuk punggung Alana sembari menahan perempuan itu agar tubuhnya tidak jatuh ke lantai.
Alana berusaha menenangkan dirinya lalu berdiri tegap di hadapan Hendrik.
Hendrik langsung mengulurkan tangannya menghapus air mata Alana dengan lembut.
"Jangan menangis lagi, acaranya masih begitu panjang." Ucap Hendrik.
"Ya," jawab Alana menganggukkan kepalanya.
Semua orang terdiam melihat bagaimana Hendrik memperlakukan Alana dengan sangat lembut.
"Ya ampun, Mereka terlihat sangat serasi, Dan tatapan pria itu tampak sangat mencintai istrinya."
"Oh,, Aku tidak percaya kalau Putra tuan Gonedra itu ternyata memiliki sisi lembut seperti ini, padahal dulunya ketika dia baru kembali dari luar negeri pria itu selalu bersikap dingin."
__ADS_1
"Hm,, ini pasti karena pria itu mengincar harta milik keluarga Xionir hingga dia bersikap seperti itu."
"O iya, karena keluarganya sudah bangkrut dan ayahnya menjadi buronan, dia akhirnya menggunakan parasnya yang tampan untuk memikat putri Tuan Xionir." Orang-orang terus berbisik sesuai dengan pendapat mereka masing-masing.