
Setelah sarapan dengan kakeknya, Agung kembali mendekati pintu kamar Ibunya dan mengetuk pintu itu berkali-kali.
"Jangan diketuk lagi, nanti ibumu kembali marah karena kau membangunkannya terlalu pagi." Ucap Romi yang melihat cucunya.
"Huh,,, Ya sudah kalau begitu aku akan mengetuknya setelah jam 8 pagi." Kata Agung sembari berjalan meninggalkan pintu kamar ibunya.
Pria kecil itu turun ke lantai bawah dan pergi ke taman samping rumah sembari membawa foto Hendrik.
Berbeda dengan hari-hari sebelumnya ketika dia pergi ke sana dengan murung maka hari ini dia berlari kecil sembari mengukir senyum di wajah imutnya.
"Sekarang aku sudah punya rencana untuk menemukan ayah! Aku hanya perlu membujuk Ibu supaya mau keluar dari villa!!" Seru pria kecil itu sembari duduk di kursi taman dan memandangi foto ayahnya.
"Hei Ayah,,!! Tunggu saja, dimanapun kau bersembunyi aku pasti akan menemukan ayah dan membawa Ayah kembali pada ibu!" Serunya lalu menciumi foto itu berkali-kali.
Dari villa samping, seorang pria dewasa memandangi tingkah laku pria kecil itu.
"Sekarang dia tidak murung lagi," kata Hendrik ikut menarik sudut bibirnya hingga membentuk lengkungan yang sempurna.
"Tuan," tiba-tiba suara Dirga menarik perhatian Hendrik.
"Ada apa?" Tanyanya.
__ADS_1
"Tuan besar baru saja menelpon dan katanya dia ingin bertemu Tuan di kantor." Ucap Dirga.
"Baiklah. Kita berangkat sekarang." Hendrik kembali melihat pria kecil yang duduk di taman sebelum pergi bersama Dirga.
Ketika tiba di kantornya, Hendrik mendapati ayahnya sudah menunggu di sana Jadi pria itu langsung duduk di sofa dihadapan ayahnya.
"Ayah sudah mendengar tentang apa yang kau lakukan pada Patra, Apa kau sudah bosan mendengarkan Ayah?" Tanya Hans yang tidak mau berbasa-basi karena siang ini dia akan berangkat ke luar negeri, jadi dia harus buru-buru mengejar waktu.
"Ya, aku sudah bosan." Jawab Hendrik dengan tampang bosannya berbicara dengan Hans.
"Kau..!!" Hans menahan nafasnya lalu menghembuskannya dengan kasar.
Buk!!
Sebuah tinju yang keras meratakan meja kaca yang ada di depan Hans. Tinju itu berasal dari putranya hingga tangan Hendrik ini berlumuran darah dan menetes ke lantai.
"Sekali lagi kau mengancamku dengan foto itu, jangan berharap aku masih mau mendengarkan ucapanmu!!" Kata Hendrik dengan tatapan marah melihat ayahnya.
Sudah 5 tahun, dia sudah tidak bertemu Alana, tapi pria itu masih terus menekannya.
Bahkan saat ini, dia juga tidak tahu bagaimana kondisi Alana, bahkan apakah perempuan itu masih hidup atau tidak,, dia tidak tahu apa pun!
__ADS_1
"Ha ha ha...!!" Suara tawa Hans membuat Hendrik menggertakkan giginya dengan keras.
Beraninya pria tua itu menertawakannya saat dia berbicara sesuatu yang penting!
"Baiklah, Ayah tidak akan melakukannya, tetapi sebaiknya kau memperlakukan Patra dengan baik! Hal kedua yang harus kau lakukan adalah membuat perasaan Xionir jatuh terperosok hingga tak bisa diselamatkan!! Curi semua rekan kerjanya!" Ucap Hans lalu pria itu berdiri merapikan jasnya dan meninggalkan Hendrik sendirian.
Hal itu mebuat Hendrik semakin marah.
Buk!!!
Buk!!!
Buk!!!
Pria itu melampiaskan kemarahannya pada barang-barang di sekitarnya hingga pakaiannya menjadi berantakan dan Hendrik terduduk di lantai dalam keadaan kacau.
Bagaimana bisa dia menghancurkan perusahaan Romi?!
Menerima perjodohan itu mungkin masih bisa ia lakukan, tetapi menghancurkan Romi?!!
"Akhhhhh!!!!" Hendrik menjerit keras, kepalanya serasa akan meledak memikirkan dirinya yang berada pada posisi serba salah.
__ADS_1