
Saat malam tiba, Alana dan Agung kembali ke Villa milik Romi dan tidur bersama di kamar Alana.
Sementara Hendrik, dia tetap tinggal di villanya karena masih harus mengerjakan banyak pekerjaan.
Bekerja sampai subuh akhirnya Hendrik menyelesaikan semuanya dan beranjak meninggalkan ruang kerjanya menuju kamar tidurnya.
Betapa terkejutnya dia ketika dia baru akan memasuki ruangannya lalu melihat seorang perempuan datang terburu-buru ke arahnya.
"Alana,, kenapa kau di sini?" Tanya Hendrik terkejut.
Dia pikir perempuan itu Sudah terlelap di Villa sebelah bersama dengan Agung, ternyata malah berkeliaran di sini.
Tetapi perasaan Hendrik menjadi lebih hangat saat Alana berlari cepat ke arahnya dan memeluknya dengan erat.
"Aku tidak bisa tidur karena memikirkan kacung ku!!!" Ucap Alana dengan suara manjanya menatap Hendrik.
"Jadi subuh-subuh begini kau berlari dari sana hanya karena memikirkanku?" Hendrik tersenyum konyol membalas pelukan Alana.
"Hmm, aku tidak bisa tidur," ucap Alana menikmati pelukan mereka.
"Mau tidur bersama?" Tanya Hendrik.
__ADS_1
"Hm," jawab Alana sembari menyembunyikan wajahnya di dada bidang Hendrik sebab dia merasa malu mengakui bahwa dia menginginkan tidur bersama dengan pria itu.
Akhirnya tanpa menunggu Alana mengatakan sepatah kata pun lagi, Hendrik langsung menggendong perempuan itu ke kamarnya lalu mereka tidur berpelukan.
Tidak ada lagi yang mereka katakan setelah mereka menyentuh kasur sebab keduanya sudah benar-benar kelelahan dan sangat mengantuk.
Keduanya bermimpi dengan indah, tetapi di pagi hari tepat pada pukul 6 mereka tidak mengetahui bahwa sebuah malapetaka datang menghampiri mereka berdua.
Dor dor dor.....!!
"Buka!!!" Teriak Agung dari seberang pintu sembari terus menggedor-gedor pintu kamar milik Hendrik.
"Tidur lagi, aku akan mengurusnya," ucap Hendrik memperbaiki selimut Alana lalu pria itu segera membuka pintu kamar.
Didapatinya putranya berdiri di depan pintu kamar dengan pipi digembungkan pertanda bahwa pria kecil itu sedang dalam kemarahan.
"Kau penculik!!!" Teriak Agung pada Hendrik lalu pria kecil itu berlari ke arah ranjang.
"Ibu!!" Katanya langsung menyusup ke balik selimut lalu memeluk Alana dengan erat.
"Hmm,," Alana menjawab seadanya sebab Dia masih sangat mengantuk karena jam tidurnya belum cukup.
__ADS_1
Melihat peristiwa itu, Hendrik tersenyum menutup pintu kamar lalu berjalan mendekati 2 orang itu memperbaiki selimut mereka.
Terlihat Agung mengabaikannya, tetapi Alana menampakan sebuah senyum kecil meski perempuan itu tidak membuka matanya.
"Tidurlah lagi," ucap Hendrik mendaratkan ciuman di kening Alana lalu di kening putranya.
Perasaannya sangat hangat, segala sesuatu yang menghilang dari hidupnya kini sudah kembali ke dalam kehidupannya.
Maka pada pagi hari itu di awali dengan senyuman membuat Hendrik lebih semangat bersiap untuk pergi bekerja.
Dia membuatkan sarapan untuk 2 orang yang tinggal di rumahnya lalu pria itu bergegas pergi ke kantor.
"Tuan, saya sudah mengatur pertemuan Tuan dengan Nona Patra pada jam makan siang nanti." Ucap Dirga di tengah perjalanan mereka ke kantor.
"Baik, lalu bagaimana dengan Hans? Apa yang sedang dilakukan oleh pria tua itu?" Tanya Hendrik.
"Mereka mengadakan rapat dadakan di black, takutnya mereka sedang merencanakan sesuatu, tetapi orang-orang kita di sana belum memiliki kapasitas untuk mengikuti rapat tersebut, jadi kita tidak bisa mendapat informasi apapun." Ucap Dirga.
"Hm,, baiklah, tetap awasi mereka, hubungi Jaksel dan suruh mereka bersiap untuk meretas seluruh sistem perusahaan di dalam negeri dan luar negeri. Kita akan melakukannya setelah mendapatkan foto-foto Alana," ucap Hendrik.
"Baik Tuan." Jawab Dirga.
__ADS_1