Pewaris Yang Kabur

Pewaris Yang Kabur
⁹⁴. Melihat Hendrik


__ADS_3

"Pria ini,, dia menelpon!!" Alana melemparkan ponsel itu ke meja.


Ponsel itu membentur bunga yang ada di atas meja lalu terjatuh dan tanpa sengaja tombol terimanya tersentuh oleh benda padat yang akhirnya membuat panggilan itu terhubung.


Alana melototkan matanya dengan wajah pucat ketakutan tak berani mendekati ponsel itu.


Ia bahkan menahan nafasnya karena saking tegangnya dirinya.


"Agung, ini ayah, Bagaimana hadiah ponsel dari ayah? Apa kau menyukainya?" Suara seorang pria yang terdengar familiar di telinga Alana membuat Alana terpaku di tempatnya dengan jantung yang terus berdegup kencang.


Ia hanya terdiam beberapa waktu Sampai akhirnya suara dari seberang telepon kembali lagi terdengar.


"Agung? Apa kamu masih disana? Ayah baru saja tiba di Villa dan akan memasak makan malam untukmu, apa yang ingin kau makan?" Tanya Hendrik dari seberang telpon.


Alana terus terdiam, ia tidak berani menyentuh peonsel itu, dia hanya duduk sembari memeluk kedua kakinya dan melihat layar ponsel yang terus menyala.


'Jadi itu bukan temannya Agung tetapi ayahnya Agung,, pantas saja mereka sama-sama membuatku takut! Pantas saja suaranya terdengar familiar, suaranya mirip dengan Agung,' Pikir Alana.


"Halo? Agung??" Kini suara pria dari seberang telepon terdengar sangat panik, tapi Alana tidak ada niat untuk berbicara.


"Agung?? Apa kau baik-baik saja? Kenapa tidak menjawab ayah? Ayah akan datang ke situ!" Kata seorang pria dari seberang telepon sebelum nada panggilan yang diputus menghiasi kamar Alana.

__ADS_1


"Dia kemari??" Alana sangat takut, bagaimana kalau dia bertemu pria itu dan akhirnya pria itu melukainya???


"Aku harus mengunci pintu!!" Ucap Alana segera berlari ke pintu kamarnya untuk mengunci pintu.


Sayangnya, perempuan itu belum tiba ketika pintu kamar terbuka memperlihatkan Romi yang datang dengan senampan makanan di tangannya.


"Ayah!! Ayo cepat masuk!!" Kata Alana langsung mendekati ayahnya lalu mengunci pintu setelah Romi masuk ke kamarnya.


"Ada apa?" Romi bertanya dengan bingung sembari melihat wajah putrinya yang pucat ketakutan.


"Jendela!!" Alana tidak menghiraukan ayahnya, ia kini melihat ke arah jendela lalu perempuan itu berjalan menuju jendela dan menutup tirai


"Ada orang jahat kemari!!" Ucap Alana dengan dada naik turun sembari mata yang panik memperhatikan keluar jendela.


Tiba-tiba matanya melotot saat melihat seorang pria berjalan di bawah taman dengan langkah terburu-buru menuju villa mereka.


"Itu dia!!!" Alana langsung memegang kemeja ayahnya lalu memeluk pria itu sambil menyembunyikan wajahnya di dada Romi.


Tubuhnya gemetar ketakutan.


Romi melihat ke luar jendela dan mendapati Hendrik sedang melangkah terburu-buru di bawah taman.

__ADS_1


"Tenanglah,, itu hanya tetangga yang tersesat. Ayah akan menemuinya dan menyuruhnya meninggalkan Villa kita." Ucap Romi.


Emosi putrinya tidak stabil dan perempuan itu juga belum makan obat jadi pastilah depresinya semakin parah.


Tapi saat ini Romi merasa Alana memiliki perkembangan yang pesat sebab perempuan itu sudah tidak pingsan saat melihat Hendrik dari kejauhan.


Dan inilah yang diinginkan dokter.


'Sepertinya jalan kesembuhan putriku sudah mulai terbuka.' pikir Romi memeluk putrinya.


"Ayah tidak boleh menemui pria itu, dia pria yang jahat yang menyebalkan seperti Agung. Aku bisa merasakan kalau pria itu sangat jahat dan harus dihindari!!" Ucap Alana dengan sangat yakin.


"Baiklah,, tapi Agung masih di luar, bagaimana kalau ayah menjemput Agung?" Tanya Romi.


"Tidak!! Pria itu adalah Ayah dari Agung, dia datang kemari untuk menjemput Agung, jadi ayah tidak perlu keluar untuk bertemu dengan orang jahat itu!!! Biarkan dia membawa anaknya supaya Villa ini menjadi tenang tanpa kehadiran mereka lagi!!" Kata Alana membuat Romi tercengang.


Dari mana Alana mengetahui semuanya itu?


"Lana, dari mana kau tahu?" Tanya Romi.


"Tidak penting!! Yang penting orang itu sama menyebalkannya dengan Agung!!" Jawab Alana.

__ADS_1


__ADS_2