Pewaris Yang Kabur

Pewaris Yang Kabur
⁵⁴. Pria kecil di rumah Alana


__ADS_3

Sesuai dengan jadwal yang telah diatur oleh sekretaris pribadi ayahnya, akhirnya Hendrik meninggalkan ibu kota dan pergi ke luar negeri.


Di luar negeri dia kuliah sembari menjalankan bisnis ayahnya sampai dia terkenal akan kehebatannya membangun perusahaan.


Menguasai pasar bisnis di luar negeri, akhirnya Hans menjadi orang tua paling berbangga setelah dia berhasil mengubah anaknya piang pecundang menjadi seorang pahlawan besar untuk perusahaan nya.


"Aku dengar putramu akan kembali ke dalam negeri?" Kin bertanya pada Hans di acara ulang tahun salah satu rekan bisnis mereka.


Karena saat itu Hans dan Kin tidak hanya berdua saja melainkan bersama banyak orang maka dengan segera pertanyaan kin menarik perhatian semua orang dan kini menatap ada Hans untuk mendapat jawabannya.


"Ha ha ha...." Hans tertawa senang "Iya, setelah 5 tahun belajar di luar negeri dia akan kembali ke mari dan mewarisi perusahaan di sini." Ucap Hans mengagetkan semua orang.


"Itu benar,, orang muda harus mengambil alih bisnis orang tua mereka. Kalau bukan anak-anak kita yang melanjutkan bisnis, maka tidak ada lagi yang bisa." Ucap Kin menyanjung Hans.


"Benar sekali, saya sangat penasaran melihat Putra Tuan Hans setelah 5 tahun tidak terlihat. Pastilah sekarang sudah sehebat Tuan Hans." Semua orang mulai menyanjung Hans dan mereka juga tak luput bertanya-tanya kapan pastinya Hendrik akan kembali ke dalam negeri dan mewarisi seluruh usaha Hans.


"Ya, acara penyambutan Putra Saya pasti akan mengundang kalian semua." Kata Hans sambil terkekeh dia tampak sangat senang pada malam hari ini.


Setelah 5 tahun, ia akhirnya bisa membanggakan putranya. Putranya akan kembali ke dalam negeri dan semua orang akan melihat kehebatannya!

__ADS_1


Tak jauh dari situ seorang pria yang mendengarkan percakapan mereka segera berjalan ke arah belakang dan meninggalkan gedung acara.


"Tuan," pria itu menaiki sebuah mobil mewah yang terparkir tak jauh dari tempat acara.


"Apa yang terjadi?" Tanya Romi.


"Tuan muda dari keluarga Gonedra akan kembali ke dalam negeri. Meski mereka belum membicarakan kapan waktu pastinya tetapi sepertinya hal itu akan terjadi dalam waktu dekat." Kata Sang bawahan pada tuannya.


Romi terdiam dengan pandangan lurus ke depan membayangkan Hendrik, dari mata-mata yang ia bayar dia sudah mendengar kehebatan Hendrik menangani masalah-masalah di luar negeri.


'Akhirnya dia kembali juga,' Romi sudah menahan diri selama 5 tahun dia menahan diri untuk tidak mengganggu dan bisnisnya.


Waktu yang cukup panjang untuk menunggu sembari melihat putrinya yang terus menderita di bawah kebahagiaan Hans dan keluarganya.


"Kembali ke villa Ardan." Perintah Romi lalu sang sopir segera menggerakkan mobil sesuai dengan tujuan yang dimaksud oleh Romi.


Duduk di dalam mobil selama hampir 1 jam, mereka akhirnya tiba di sebuah Villa yang bernama Villa Ardan.


Setelah kejadian 5 tahun yang lalu saat putrinya mendapat musibah yang sangat besar makaroni memutuskan untuk pindah ke Villa Ardan Ardan memiliki arti tanda baik.

__ADS_1


"Kakek...!!!" Baru saja Romi memasuki rumah ketika seorang pria kecil datang menghampirinya.


"Cucu kakek!!" Langsung sambut Romi membawa pria berumur 4 tahun itu ke gendongannya lalu mereka berjalan bersama ke arah seorang perempuan yang sedang duduk di depan TV.


"Kalian belum tidur?" Tanya Romi pada Alana yang masih duduk sambil menatap layar TV.


"Belum ayah." Jawab Alana sambil tersenyum kaku.


"Tidurlah Sekarang, hari sudah larut." Kata Romi menggendong cucunya ke lantai atas untuk membawa pria kecil itu ke kamarnya.


"Kakek, hari ini ibu tidak pernah meninggalkan layar TV, apakah sakit ibu kambuh lagi?" Tanya Agung ketika Romi telah memberikan Agung di tempat tidurnya.


"Tidak, jangan khawatir. Ibumu baik-baik saja." Ucap Romi.


"Aku tahu ibu baik-baik saja tapi ibu selalu memikirkan orang yang bernama Hendrik. Hari ini aku mendengar Ibu menyebut namanya sebanyak 21 kali. Padahal seharian ini Ibu hanya menonton TV." Ucap Agung membuat Romi menghela nafas.


"Kakek akan berbicara dengan Ibumu. Sekarang pria kecil ini harus tidur dan bangun pagi-pagi sekali untuk mengikuti kelas! Mengerti?!"


"Baik Kakek!!" Ucap Agung dengan patuh menutup matanya.

__ADS_1


"Selamat tidur cucuku," Romi mendaratkan sebuah ciuman hangat di kening Agung sebelum keluar meninggalkan kamar pria kecil itu.



__ADS_2