
"Tuan Putri menunggu saya setiap hari di kampus?" Hendrik kini bertanya dengan tak yakin.
Alana yang tadi fokus pada rubik kini mengangkat wajahnya dan menatap Hendrik dengan tatapan mematikannya "Kau mau aku memperjelasnya lagi?!" Teriaknya kesal.
"Ahh, maaf," jawab Hendrik kini menundukkan kepalanya dan pikirannya menjadi semakin kalut.
Dia berniat melakukan rencananya sekarang karena kebetulan Alana berada di rumahnya.
Tapi sekarang dia merasa dilema setelah mendengar ucapan Alana.
'Kalau Alana hanya memanfaatkan aku saja dan hanya menuruti perkataan ayahnya maka dia tidak mungkin menungguku selama 7 hari berturut-turut. Tapi,,,'
"Kau jangan ke gr-an karena aku menunggumu di kampus selama 7 hari. Aku melakukan ini hanya karena perintah dari ayahku, bukan karena aku benar-benar ingin melakukannya." Ucap Alana membuat Hendrik langsung mengangkat wajahnya dan kembali melihat Alana.
"Perintah dari ayahmu?" Tanya Hendrik.
"Ya,, Ayahku merasa prihatin padamu sebab Dia bilang waktu berumur 5 tahun Kau sangat ceria dan pandai tapi ketika ibu mu meninggal kau berubah menjadi pria kecil yang tidak pernah keluar rumah dan selalu diolok olok sebab bodoh. Ayahku menyuruhku melindungimu suapaya kau tidak terus di tindas di kampus. Jadi,, jangan berpikir aku menyukaimu! Dan meski ayahku sudah menyuruhku untuk berhenti melakukannya aku masih tetap melakukannya karena kau sudah menjadi milikku, kau kacungku!!! Mengerti?!!!" Alana menatap Hendrik dengan mata besarnya yang memberi peringatan pada pria itu.
__ADS_1
"Eh,, ya,, saya mengerti." Ucap Hendrik kini tak bisa melepaskan tatapannya dari Alana.
'Jadi perempuan ini tidak mengerti dengan tujuan ayahnya? Jadi selama ini aku sudah salah menilai Alana?' Hendrik berdiri dan pria itu berlalu kekamar mandi dengan perasaan bersalah.
Ia memikirkan bagaimana ayah Alana sudah menyuruh perempuan itu berhenti tapi Alana tetap menunggunya di kampus selama 7 hari berturut-turut.
Bukankah itu berarti Alana tidak tahu apa pun?
Hendrik mengambil kembali obat di dalam kantong nya dan menatapnya
Sekarang dia tahu bahwa Alana bersikap tulus padanya meski perempuan itu berlindung di balik status kacung dan tuan putri.
Dan dia bukanlah orang yang setega itu untuk membawa Alana terjerat dalam masalah pribadinya dengan ayahnya.
Hendrik cukup lama berada di dalam kamar mandi untuk memikirkan masalah itu dan menenangkan dirinya sendiri sampai Dia teringat sesuatu.
"Ayah sudah tahu kalau Gibran adalah Alana yang sedang menyamar." Segera wajah Hendrik menjadi panik lalu pria itu membuka pintu kamar, mungkin saja ayahnya sudah menculik Alana dan melakukan sesuatu pada perempuan itu.
__ADS_1
Hendrik membuka pintu kamar mandi dan melihat kamarnya telah kosong.
"Gibran?" Ucap Hendrik memanggil Alana sembari berjalan ke balkon kamarnya dan mendapati balkon juga dalam keadaan kosong.
"Gibran..?" Hendrik dengan panik kembali ke dalam kamar dan melihat rubik yang tadi dipegang Alana tela terjatuh di bawah kolong.
Wajah pria itu langsung memucat, Hendrik membuka pintu kamarnya dan mencari Alana di lantai 2.
"Aden sedang apa?" Tiba-tiba suara Lina bertanya karena perempuan itu melihat Hendrik sangat panik mencari sesuatu.
"Temanku, Apakah Bibi melihat temanku?" Hendrik bertanya dengan suara yang begitu mencemaskan Alana.
"Oh, Aden mencari ituan Gibran, tuan besar baru saja memanggilnya, katanya mereka hendak membicarakan sesuatu di ruang kerja tuan besar. Tapi katanya Mereka tidak boleh diganggu sampai beberapa--" ucapan Lina tergantung saat melihat Hendrik sudah berlari ke ruang kerja ayahnya.
"Aden,,," Lina langsung mengejar Hendrik Untuk menghentikan pria itu, bisa gawat kalau tuan besar sampai marah sebab Hendrik yang tidak patuh.
__ADS_1