Pewaris Yang Kabur

Pewaris Yang Kabur
¹³⁰. Kemustahilan berubah jadi kenyataan


__ADS_3

Hendrik terus menepuk-nepuk punggung pria kecil yang ada di gendongannya sembari berjalan ke arah kamar.


"Sudah menangisnya?" Tanya Hendrik sambil duduk di tepi ranjang tanpa melepaskan Agung dari pelukannya.


Menyadari bahwa mereka hanya tinggal berdua saja, Agung kemudian melonggarkan pelukannya pada Hendrik lalu menatap sekeliling ruangan.


Memastikan di ruangan itu hanya ada mereka berdua, Agung kemudian menyeka sisa-sisa air matanya.


"Apa yang dokter itu lakukan pada ibuku? Mengapa ibuku bisa mengenal dirimu tapi tidak bisa mengenaliku?" Tanya Agung yang merasa kesal sebab Hendrik mendapat pelukan dari Alana tanpa memohon pada Alana sementara dirinya,,,, bahkan untuk pelukan sekalipun dia harus menjebak ibunya dulu baru bisa merasakan nya!!!


"Dia akan segera mengenalimu, sekarang pergi basuh wajahmu supaya kotoran di wajahmu tidak membuat ibumu sakit mata," ucap Hendrik mengangkat Agung dari pangkuannya.


"Apa katamu?!! Kotoran di wajahku?!!" Agung langsung berlari ke arah toilet karena tak bisa menerima jika wajahnya dipenuhi kotoran.


Begitu tiba di depan cermin, Agung melihat wajahnya baik-baik saja, tak ada sedikitpun kotoran di sana kecuali sisa-sisa air matanya yang telah mengering.


"Huh!! Dia membohongiku lagi!!" Gerutu Agung semakin muram memikirkan Alana yang tak memperdulikannya.

__ADS_1


Sementara di luar kamar, Hendrik mengintip pria kecil itu dari pintu kamar mandi lalu keluar dari kamar menemui Alana dan Romi.


"Hendrik," ucap Alana mengangkat wajahnya yang sedari tadi dibenamkan pada pelukan Romi.


"Agung menunggumu di kamar, pergilah hampiri dia," ucap Hendrik.


"Ah,," Alana langsung berdiri memeluk Hendrik lalu berlari ke arah kamar Hendrik.


Jantungnya berpacu cepat, mengingat dirinya telah memiliki seorang Putra yang memiliki wajah yang sangat mirip dengan Hendrik.


Dia merasa sangat bersemangat hingga ketika dia tiba di kamar dia terkejut mendapati kamar itu kosong.


Perempuan itu mendekati pintu kamar mandi dan melihat Agung di sana sedang mencuci muka.


"Aku harus terlihat tampan di depan iBu!! Kali saja kalau aku terlihat tampan dan imut Ibu bisa mengingat ku. Aku ini putra ibu,, ibu pasti menyayangiku!!" Ucap Agung sembari menggosok-gosok wajahnya yang telah dipenuhi sabun.


Mendengar ucapan Agung, Alana terpaku di tempatnya.

__ADS_1


'Jadi ini yang dimaksud Hendrik bahwa Agung adalah pria yang kuat? Selama 4 tahun dia berada di dunia tidak pernah mendapat pengakuan dari ibunya,' Alana menghela nafas, sedikitpun dia tidak ingat bagaimana dia menjalani hari-harinya dengan Agung, tapi mengingat cerita Hendrik,, dia merasa pilu.


Akhirnya Alana menutup pintu kamar mandi itu lalu berdiri di depan pintu untuk menunggu Agung selesai mencuci muka.


Setelah beberapa menit pintu kamar mandi terdengar dibuka dari dalam lalu memperlihatkan seorang pria kecil menatap ke arahnya.


"Ibu,," ucap Agung dengan suara pelan.


Melihat pria kecil yang benar-benar mirip dengan Hendrik, Alana langsung tersenyum "Putraku,," katanya memeluk Agung dengan erat.


Pria kecil yang dipeluk Alana dengan erat masih berada dalam ke lingkungannya hingga dia tak mampu menggerakkan tubuhnya untuk membalas pelukan Alana.


'Putraku.'


'Putraku.'


'Putraku.'

__ADS_1


Suara Alana terngiang-ngiang di kepala Agung sebab Ini pertama kalinya dia mendengar ibunya sendiri memanggilnya dengan sebutan seperti itu.


Kemustahilan yang selama ini memenuhi pikiran Agung akhirnya berubah menjadi kenyataan!


__ADS_2