Pewaris Yang Kabur

Pewaris Yang Kabur
³⁸. Yang pertama selalu yang paling menyakitkan


__ADS_3

Hendrik tidak punya pilihan lain karena dia membiarkan Alana meninggalkan rumahnya lalu pria itu kembali ke kamarnya.


'Apakah aku salah? Aku hanya ingin bertanggungjawab,, tapi mengapa dia?' Hendrik termenung dalam kamarnya.


Ia sangat tidak mengerti maksud Alana, ketika mereka sedang melakukannya perempuan itu terlihat baik-baik saja dan selalu mengangguk untuk setiap apapun yang ia katakan pada Alana.


'Dia bilang akan menerimaku, tapi mengapa dia berubah pikiran?' Hendrik kembali mengingat kejadian di kamar mandi.


Hendrik "Aku akan melakukannya hanya kalau kau mengijinkannya, aku janji akan bertanggungjawab."


Alana "Tolong lakukan,, aku sangat ketakutan,, aku butuh kamu."


Itulah percakapan mereka, tapi bagian mana yang salah?


Hendrik meremas rambutnya dengan kuat, ia tidak mengerti apa yang terjadi, mengapa Alana tiba-tiba berubah.


Tok tok tok...


Suara pintu yang diketuk membuat Hendrik kembali menggertakkan giginya lalu pria itu keluar dan melihat Lina berdiri di sana.


"Tuan besar menunggu Aden di ruang kerjanya katanya ingin membicarakan hal penting." Ucap Lina.

__ADS_1


"Aku mengerti Bi," kata Hendrik lalu pria pergi ke ruang kerja ayahnya dan melihat Hans sudah menunggunya di sana.


Hans tersenyum menyeringai pada putranya, "Ayah tidak akan basa-basi. Ayah hanya ingin mengatakan padamu supaya mulai sekarang kau mengikuti seluruh keinginan ayah. Atau mungkin foto-foto perempuan itu bisa memenuhi seluruh laman internet dan koran."


Hendrik berdiri di sana mendengarkan ayahnya, hatinya belum sembuh setelah bertengkar dengan Alana dan sekarang pria di depannya ini kembali membuatnya berpikir sangat keras.


"Apa yang kau inginkan?" Tanya Hendrik dengan suara di paksakan.


Dia sangat muak berbicara dengan ayahnya, apalagi sekarang ayahnya sedang mengancamnya.


"Tentu saja kau harus menjadi pewaris ku, selama kau menuruti semua keinginan Ayah maka foto-foto itu tidak akan pernah tersebar, bahkan Ayah tidak akan pernah melihatnya." Ucap Hans sembari tersenyum senang sebab Sekarang dia sudah memiliki kartu untuk mengendalikan anaknya.


"Baiklah. Aku akan melakukannya." Jawab Hendrik dengan singkat lalu pria itu segera meninggalkan ayahnya dan kembali ke kamarnya memikirkan Alana.


Emily sangat terkejut melihat kedatangan Alana yang terlihat bernatakan.


"Apa yang terjadi?" Emily langsung membawa anak ke ruang privat lalu kedua perempuan itu duduk bersama.


Alana segera menangis sesegukan dipelukan Emily dan tidak tahu harus mengatakan apa pada perempuan itu.


Dia butuh menenangkan diri tetapi dia bahkan tidak tahu bagaimana caranya ia menenangkan dirinya sendiri.

__ADS_1


"Jangan menangis, semua masalah memiliki jalan keluarnya." Ucap Emily mengusap punggung Alana.


"Hiks,, hiks,, apa yang harus kulakukan?! Pria itu melecehkan ku!!" Isak Alana mengagetkan Emily.


Melecehkan?


Melecehkan...??!!!!


"Alana, apa yang terjadi? Siapa? Bagaimana, bagaimana bisa?" Emily sangat panik.


Mana mungkin perempuan sebaik Alana mendapat kemalangan yang sangat buruk?


Siapa orang yang berani menyakiti Alana? Lebih tepatnya Siapa yang berani menyentuh anak dari pengusaha terkenal Romi?!


"Bajingan itu...!!! Dia keparat sialan...!!" Isak Alana sembari menggertkakn giginya sembari terisak dengan keras.


"Coba ceritakan pelan-pelan, jangan menangis seperti ini." Ucap Emily merasa prihatin dengan Alana.


Ini pertama kalinya ia melihat perempuan itu berada dalam keterpurukan.


Dan selalu yang pertama menjadi pengalaman yang sangat berat untuk seseorang yang merasakan kesakitan.

__ADS_1



__ADS_2