Pewaris Yang Kabur

Pewaris Yang Kabur
¹⁰⁶. Hendrik menghilang di pagi hari


__ADS_3

Begitu membuka pintu kamarnya, Hendrik langsung tersenyum menarik seorang pria kecil yang ternyata menguping mereka di balik pintu.


"Apa yang kalian lakukan?" Tanya Agung yang kini berada di gendongan Hendrik.


Hendrik tidak langsung menjawab, pria itu tersenyum membaringkan Agung di atas kasur lalu ikut berbaring di samping Agung.


"Aku rasa ibumu mulai menyukai ayahmu!" Ucap Hendrik dengan wajah tersenyum menatap langit-langit kamar yang dipenuhi gambar awan.


"Oh," jawab Agung dengan singkat sembari memutar tubuhnya berbaring membelakangi Hendrik.


Pria kecil itu terlihat seperti tidak peduli, tetapi sebenarnya dia melengkungkan bibirnya.


Namun, dia terlalu malu untuk memperlihatkan pada Hendrik bahwa dia merasa senang atas kemajuan yang dialami oleh pria itu.


"Apa kau senang?" Hendrik bertanya sembari menarik Agung ke pelukannya.


"Lepas!! Aku tidak mau dipeluk oleh mu!!" Gerutu Agung sembari meronta dalam pelukan Hendrik.


"Heh,, tidak mau di peluk olehku? Lalu Siapa yang tadi malam memelukku dengan sangat erat sampai sebelah kakinya berada di atas perutku?" Ucap Hendrik menggoda Agung.


Meski masih dini hari, tetapi tidak ada diantara mereka berdua yang merasa mengantuk.

__ADS_1


"Huh!! Jangan mengarang cerita!! Aku tidak pernah memeluk orang sepertimu!!" Gerutu Agung masih terus meronta-ronta dalam pelukan Hendrik.


"Ha ha ha... Tapi aku dengan senang akan memelukmu seperti ini. Ini gratis lho..." Ucap Hendrik mengeratkan pelukannya lalu menggunakan salah satu kakinya menindih kedua kaki Agung hingga pria kecil itu tidak dapat lagi meronta-ronta dengan bebas.


"Ku bilang lepas!! Aku tidak suka tidur sambil dipeluk!!" Gerutu Agung dengan badan yang tegang.


"Aku tidak perduli," jawab Hendrik terus memeluk Agung.


Selama beberapa menit Agung masih bersikap jual mahal dengan meronta-ronta dipelukan Hendrik, tetapi lama-kelamaan pria kecil itu menyerah.


"Huh!! Aku benar-benar tidak suka dipeluk oleh orang sepertimu, kali ini aku mengalah karena tidak bisa mengalahkanmu tapi lain kali aku tidak akan membiarkanmu!!" Ucap Agung dipenuhi nada menggertak.


Dia merasa sangat bahagia, pertama atas kedekatannya dengan Alana dan yang kedua kedekatannya dengan putranya.


'Ini sudah cukup menjadi bekalku untuk pertempuran di depanku.' pikir Hendrik memejamkan matanya.


Akhirnya ayah dan anak itu tertidur pulas dan memasuki dunia mimpi mereka masing-masing.


Ketika pagi hari menjelang, Agung mengerjapkan matanya lalu melihat ranjang itu hanya diisi oleh Nya.


Pria dewasa yang kemarin tidur bersamanya sudah menghilang entah dimana.

__ADS_1


"Huh!! Ternyata dia benar-benar bisa bangun pagi!! Apakah sekarang dia sedang berada di dapur memasak untuk kami?" Dengan semangat Agung melompat dari tempat tidur lalu pria kecil itu berlari ke lantai bawah menuju dapur.


Kosong!


Agung mengerjapkan matanya melihat dapur yang kosong lalu pria kecil itu kembali berlari ke lantai dua memasuki kamar kakeknya.


"Kakek!!!" Teriaknya berlari ke tempat tidur lalu menggoyangkan tubuh kakeknya.


"Hmm, apakah sudah lagi?" Romi bertanya dengan suara yang masih dipenuhi nada mengantuk sebab pria itu kemarin malam juga tidak tidur dengan tenang.


"Pria itu, dia menghilang!!" Ucap Agung dalam ketakutannya sebab Dia teringat akan kata-kata Hendrik padanya.


'Setelah malam ini kita mungkin jarang bertemu.' Mungkinkah pria itu benar-benar pergi???!!


"Aah,, Mungkin dia kembali ke villanya." Jawab Romi sembari menyibak selimut nya.


"O iya!" Agung langsung berlari meninggalkan kakeknya untuk memeriksa Villa milik Hendrik.


Melihat kepanikan Agung, Romi tersenyum dengan kelakuan cucunya, tetapi ketika dia mengingat kembali bahwa Hendrik akan melakukan sesuatu yang besar hari ini Romi tidak bisa menahan kecemasannya.


'Pria itu, ku harap di baik-baik saja.' pikirnya.

__ADS_1


__ADS_2