
Alana, Agung dan juga Hendrik seharian menghabiskan waktu di rumah sebab mereka sibuk memilih foto-foto yang akan dicetak.
Ketika pada sore hari, Hendrik meninggalkan Alana dan Agung yang sedang tidur siang.
Pria itu langsung mengendarai sebuah mobil menuju ke sebuah hotel yang akan ia sewa sebagai gedung pernikahannya dengan Alana.
Meski dia bisa menyuruh bawahannya untuk mengecek segala persiapan, namun dia ingin melakukannya sendiri, karena apa yang ia siapkan adalah sesuatu yang spesial untuk calon istrinya.
Begitu tiba, Hendrik terkejut saat dia berpapasan dengan Juan dan putrinya.
'Sial!! Mengapa ada kebetulan seperti ini?' kesal Hendrik sembari melihat dua orang yang kini berjalan ke arahnya.
Dua orang yang sangat mengganggu pemandangan dan merusak suasana hati.
Tampak Sheila begitu antusias mendekati Hendrik, tetapi ketika perempuan itu hendak memegang tangan Hendrik Juan menariknya.
"Ada apa Ayah?" Tanya Sheila sembari menatap ayahnya dengan bingung.
Mengapa dia tidak boleh memegang tangan calon suaminya?
__ADS_1
"Kau tidak perlu mendekatinya lagi, keluarganya sudah bangkrut dan ayahnya menjadi buronan, atau kau masih mau dengan pria miskin yang memiliki Ayah buronan?" Tanya Juan pada putrinya.
Sheila bukanlah orang yang menyukai gosip, jadi dia sama sekali tidak tahu perkembangan-perkembangan seperti itu, yang ada di otaknya hanya berbelanja dan membahas barang-barang branded bersama teman-temannya.
Jadi ketika perempuan itu mendengar kabar bahwa keluarga Hendrik telah bangkrut dan ayah pria itu telah menjadi buronan, perempuan itu terkejut memandangi Hendrik.
"Astaga,, Bagaimana bisa pria tampan sepertimu jatuh miskin?" Pandangan Shela terhadap Hendrik langsung berubah total sebab dia adalah anak sosialita yang tidak bisa hidup tanpa jutaan uang dalam satu hari.
Jadi ketika dia harus menikah dengan seorang pria, maka standar yang harus dipenuhi pria itu sangatlah tinggi.
Namun pria di depannya ini, hanya memiliki wajah tampan dan tubuh yang bagus, tetapi dompetnya begitu kurus kering.
Hendrik melihat ayah dan anak itu lalu berkata, "Terima kasih atas penghinaan kalian berdua, saya permisi," ucap Hendrik berjalan meninggalkan dua orang itu.
"Hm,, Mungkin dia datang untuk merayu seseorang agar memberinya pekerjaan. Kita tinggalkan saja dia," ucap Juan menarik putrinya meninggalkan tempat tersebut.
Sementara Hendrik, pria itu langsung menemui manajer hotel agar dia secara pribadi membicarakan masalah persiapan pernikahannya dengan Alana.
Dia berada di hotel sepanjang hari lalu mengunjungi sebuah butik milik desainer ternama di negara mereka.
__ADS_1
Ia memilih beberapa gaun pengantin dan juga aksesoris untuk Alana sebelum meninggalkan butik dan kembali ke rumahnya.
Begitu tiba di rumah, hari sudah gelap, Hendrik mendengar suara ribut-ribut dari dapur jadi pria itu langsung pergi ke dapur.
"Ibu, ini asin,,," ucap Agung yang baru saja selesai mencicipi telur dadar yang dibuat oleh ibunya.
Mendengarnya, Alana tampak panik, perempuan itu mengambil garpu dan ikut mencicipi masakannya.
"Hm!!!" Alana memperlihatkan wajahnya yang tampak buruk merasakan rasa makanannya yang terlalu jauh dari kata enak.
"Sepertinya kita memang tidak bisa memasak. Bagaimana kalau kita telepon Ayah agar Ayah pulang untuk memasak makan malam kita." Ucap Agung mengambil ponsel yang tak jauh darinya.
Pria kecil itu baru akan menyalakan ponsel ketika Alana berkata, "Tidak!! Ayo kita coba sekali lagi, Ayahmu pasti sangat senang saat dia pulang nanti dan melihat kita berhasil memasak untuknya."
Agung tampak berpikir sesaat, dia tahu, seberapa kali pun mereka mencoba pasti tidak akan berhasil.
Sebab sedari tadi mereka sudah menghabiskan dua rak telur namun telur dadar saja tak bisa mereka buat dengan benar.
Tapi melihat semangat ibunya, Agung akhirnya mengangguk lalu meletakkan ponsel itu.
__ADS_1
Dari tempatnya, Hendrik tersenyum lalu pria itu berjalan meninggalkan dapur.
'Heh,, dasar Alana. Perempuan keras kepala itu akan meledakkan dapur,' ucap Hendrik dalam hati sembari terkikik pelan.