
"Yang artinya, kedepannya kau mungkin akan berpihak pada salah satu dari anggota keluarga Gonedra dan membelot pada yang lainnya?" Ucap Hendrik sembari mengangkat wajahnya dan menatap Raffi.
Raffi yang ditatap Hendrik kini menghentikan pernafasannya sejenak mencari jawaban yang paling tepat.
"Tuan, Saya tidak mungkin membelot dari keluarga Gonedra, hidup dan mati saya untuk keluarga Gonedra." Katanya.
"Sepertinya kau tidak mengerti maksudku," Hendrik tersenyum, "Hari ini kau harus memilih antara aku dan pria itu, karena ke depannya tidak ada lagi situasi seperti sebelum-sebelumnya. Kalau kau tidak bisa memilih salah satu diantara kami, kau bisa tinggalkan pekerjaanmu dan pergilah pada ayahku." Ucap Hendrik memperingatkan Raffi.
Mendengar ucapan pria itu, Raffi langsung mematung ditempatnya, Bagaimana bisa dia menghianati Hans?
Namun pria itu belum sempat berkata apapun ketika Hendrik sudah bangkit berdiri dan berkata "Pikirkan baik-baik."
Raffi terdiam ditempatnya lalu dia memandangi punggung Hendrik yang kini menjauh darinya.
'Apakah Tuan Muda berencana untuk melawan tuan besar? Tapi kenapa?' pria itu bertanya-tanya dalam hati sembari memikirkan nasibnya.
Sementara Hendrik yang meninggalkan ruang makan, pria itu kembali ke kamarnya dan mendapatkan ponsel yang tadi diletakkan di nakas.
Terlihat belum ada balasan dari pria di seberang telepon.
"Apa yang terjadi? Mengapa dia tidak membalas?" Hendrik menggenggam erat ponsel itu.
Sudah lima tahun, apakah Romi telah berubah pikiran?
__ADS_1
Hendrik berdiri dalam di tempatnya dalam keheningan, ia benar-benar ingin menemui Alana, tapi mengapa Romi tidak mengangkat teleponnya?
Selama 5 tahun dia menahan diri untuk tidak mencari tahu tentang Alana, dia takut dia tidak bisa bertahan di luar negeri saat melihat perempuan itu.
Tapi sekarang....
'Aku harus bagaimana?' Hendrik memijat keningnya lalu melemparkan ponsel di tangannya ke tempat tidur.
Pria itu lalu keluar meninggalkan kamarnya dan berjalan-jalan di sekitar villa untuk mencari udara segar yang bisa merilekskan pikirannya.
"Alana," Hendrik mendesah dengan keras sembari melangkahkan kakinya secara sembarang arah di area taman villa miliknya.
Pria itu baru menghentikan langkahnya ketika dia tiba di pagar pembatas yang menghubungkan villanya dengan vila di seberang.
Dari pagar besi yang terkunci di kedua sisi Hendrik melihat seorang pria kecil berumur 4 tahun sedang duduk sendirian sembari *******-***** jarinya. Terlihat sedang sedih.
"Ayah sialan..!!!" Tiba-tiba pria kecil itu mengangkat wajahnya dan berteriak dengan kesal kearah langit.
Dari samping Hendrik tidak bisa melihat seluruh wajah pria kecil itu, tapi terlihat bahwa pria itu pasti memiliki orang tua yang tampan,, wajahnya menurun dari sana.
"Dimana pun Ayah berada aku sumpahi supaya Ayah cepat kembali dan menyelamatkan ibu!!! Kalau tidak,, Aku akan segera menjadi dewasa dan menyeret ayah ke hadapan Ibu supaya kalian bisa bersatu kembali!!!" Terdengar suara pria kecil itu sangat dipenuhi kekesalan.
Setelah berteriak-teriak, pria kecil itu kembali menghela nafas lalu menunduk dan *******-***** tangannya.
__ADS_1
"Ibu,, ibu,, maafkan aku..." Ucapnya kini kembali dalam mode sedihnya.
Semakin memperhatikannya, Hendrik semakin teringat akan dirinya di belasan tahun yang lalu.
Dia juga selalu mengatakan maaf kepada ibunya dan dia selalu merasa kesal pada ibunya tapi berbeda dengan pria kecil yang berharap ayahnya akan kembali pada ibunya, saat itu dia berharap dia bisa membunuh ayahnya!
Hendrik tidak terlalu tertarik dengan pria kecil itu karena dia kecil itu mengingatkan akan masa pahitnya jadi dia segera berbalik untuk kembali ke Villa.
Dia pintu dia bertemu Raffi.
"Tuan," ucap Raffi.
"Kau sudah memutuskan?" Tanya Hendrik.
"Ya, saya akan mengikuti tuan." Ucap Raffi.
"Bagus, sekarang pergi dan cari tahu dimana Romi dan putrinya tinggal. Kau punya waktu sampai malam nanti." Perintah Hendrik.
"Baik Tuan." Jawab Raffi laku pria itu pergi dari hadapan Hendrick untuk melaksanakan tugasnya.
Melihat kepergian Raffi, Hendrik langsung berjalan mendekati seorang bawahan kepercayaannya.
"Awasi Raffi dengan baik," katanya.
__ADS_1
"Baik Tuan." Jawab Sang bawahan.