Pewaris Yang Kabur

Pewaris Yang Kabur
187. Uang


__ADS_3

Setelah meninggalkan rak kosmetik, Agung tampak buruk sesaat, tetapi ketika dia melihat buah-buah yang begitu banyak di depannya, pria itu langsung berseru "Wah...!! Di sini surga buah!!!"


Suara Agung yang tidak kecil langsung menarik perhatian semua orang hingga mereka semua menatap ke arah ayah dan anak yang sedang berhenti di depan buah anggur.


"Ayah!! Ayo ambil mereka semua!!" Ucap Agung.


"Kau ini terlalu serakah, ambil 3 bungkus saja." Ucap Hendrik mengambil 3 bungkus anggur lalu memasukkannya ke dalam kereta belanja.


Setelahnya, Hendrik memilih beberapa buah-buah lain lagi dan memasukkannya ke dalam kereta belanja.


"Ayah,, apa yang di sana itu?" Tanya Agung sembari menunjuk buah naga.


"Itu buah naga," jawab Hendrik mengambil setengah kilo buah naga lalu memasukkannya ke dalam keranjang.


"Wah,,, kita mendapat banyak buah!!" Seru Agung dengan mata berminar-binar melihat buah-buah yang ada di kereta belanja mereka.


"Anak kecil itu terlihat menggemaskan, dia juga sangat tampan seperti ayahnya!!"


"Mereka pasangan ayah dan anak yang sempurna, aku yakin ibunya juga pasti sangat cantik!"


Hendrik mengabaikan komentar orang-orang dan mendorong kereta belanjanya ke rak makanan.


"Ayah, orang-orang itu membicarakan kita, tidakkah Ayah mendengarnya? Dia bilang aku sangat menggemaskan!!!" Ucap Agung dengan kegembiraan memenuhi seluruh hatinya.


Hendrik menatap putranya lalu menghela nafas, "Apakah kau pria kecil yang haus akan pujian?" Tanyanya pada Agung.

__ADS_1


"Uhh ayah!! Aku hanya mengatakannya saja!" Kesel Agung berbalik memunggungi ayahnya.


Hendrik tersenyum lalu dia mengambil beberapa makanan ringan dan memasukkannya ke dalam troli.


Beberapa saat berputar, akhirnya kereta belanjaan mereka telah penuh. Agung bahkan tidak punya tempat lagi hingga pria kecil itu kini berjalan di samping Hendrik.


"Aku ingin membawa semua barang di sini lalu memberikannya pada ibu." Kata Agung memandang lemah pada kereta belanjaan mereka yang sudah penuh, padahal masih ada begitu banyak barang yang tidak dimasukkan ke sana.


Hendrik tertawa mendengar ucapan putranya, dia hanya mengacak rambut pria kecil itu sembari mendorong kereta belanja mereka ke arah kasir.


"Apa yang kita lakukan di sini?" Agung bertanya-tanya saat melihat sang pramuniaga mengambil satu persatu barang dari dalam troli lalu memeriksanya satu persatu sebelum dimasukkan ke dalam kantong belanja.


"Apapun yang kita ambil dari tempat ini harus kita bayar dengan uang. Tante ini sedang menghitung berapa banyak uang yang harus kita keluarkan agar barang-barang ini bisa kita bawa pergi dari sini." Ucap Hendrik menjelaskan.


'Kenapa di zaman ini masih ada orang yang tidak tahu uang? Dia bahkan sudah berumur sekitar 4 atau 5 tahun, bahkan anak berumur 2 tahun saja sudah tahu uang.' pikir sang pramuniaga yang merasa sangat aneh.


Hendrik ingin menunjukkan contoh uang pada pria kecil itu, tetapi di dalam dompetnya tidak ada selembar pun uang sebab dia hanya menggunakan kartu untuk membayar.


Jadi pria itu menoleh pada sang pramuniaga, "Dapatkah kau membantuku memperlihatkan uang padanya?"


Sang pramuniaga kembali tertegun selama beberapa detik sebelum tersadar dan mengambil selembar uang dari laci.


"Ini," kata Sang pramuniaga menyerahkan uang pada Hendrik.


Hendrik mengambil uang itu lalu memberikannya pada Agung, "Ini namanya uang, setiap kali kita mengambil barang milik orang lain maka kita harus memberikan uang sebagai bayarannya," katamya.

__ADS_1


"Oh,, oh,, uang kni tampak bagus!!! Apakah sangat bernilai?" Tanya Agung.


"Tidak terlalu bernilai. Kau jauh lebih bernilai dari barang itu." Jawab Hendrik.


Agung mengangkat wajahnya menatap ayahnya lalu berpikir sesaat sebelum kembali menunduk melihat uang di tangannya.


Kakek dan ibu juga jauh lebih bernilai dari uang ini, Oh ya nanti setelah pulang aku harus memperlihatkannya pada mereka." ucap Agung merasa sangat senang menempelkan uang itu ke pipinya.


"Jangan,," Hendrik mengundurkan tangannya menarik uang kertas dari pipi Agung.


"Kenapa?" tanya Agung.


"Uang ini sangat kotor Jadi kau tidak boleh menempelkannya ke wajahmu seperti tadi." ucap Hendrik.


Agang mengerutkan keningnya memperhatikan uang kertas di tangannya tampak sangat bersih dan tidak ada sedikitpun noda pada uang itu.


jadi, bagian mana yang kotor?


"Mana kotorannya ayah?" tanya Agung mengangkat uangnya memperlihatkannya pada Hendrik.


Hendrik menghela nafas, "Nodanya memang tidak kelihatan, tetapi uang itu sudah dipegang oleh ribuan orang, jadi ada kuman yang berpindah-pindah dari satu tangan ke tangan yang lain dan berkumpul pada uang itu." ucap Hendrik.


"Oh,,, tapi apakah tidak masalah memegangnya seperti ini?" tanya Agung.


"Iya," jawab Hendrik.

__ADS_1


__ADS_2