Pewaris Yang Kabur

Pewaris Yang Kabur
¹¹⁸. Alana Xionir mengingkari janji


__ADS_3

"Baiklah, tapi kalau kau tidak bisa melakukannya maka kau juga harus menuruti keinginanku,, yaitu tidak pernah lagi menggangguku dan tidak akan pernah lagi memanggilku dengan panggilan ibu." Ucap Alana.


"Setuju!!" Ucap Agung bersorak kegirangan, "Tapi kalau ibu kalah maka ibu harus mau memelukku dan pergi bersamaku ke villa sebelah! Bagaimana?" Tanya Agung dengan mata berbinar-binar.


Ucapan Agung membuat Hendrik tertegun di tempatnya, demi mendapatkan pelukan dari ibu kandungnya sendiri Agung harus melakukan hal seperti ini?


Hati pria itu merasa tersayat-sayat akan keadaan putranya.... Tetapi reaksi Alana....


"Hah? Memelukmu?? Kau ini sangat lucu,, pria dan wanita tidak boleh berpelukan secara sembarangan!!! Juga,, Aku tidak suka pergi keluar dari villa ini!!" Ucap Alana merasa kesal.


Hendrik "..."


Sungguh kasian putranya...


"Ooh,,, jadi ibu takut kalah ya?" Ucap Agung dengan nada suara mengejek Alana membuat Alana yang fokus pada TV kini kembali lagi melihat Agung.


"Hah,, kalah pada anak kecil?? Itu sangat konyol!!" Kata Alana membuat Agung tersenyum.


"Kalau begitu Ibu sudah sepakat dengan tawarannya?" Tanya Agung.


Sesaat Alana memandangi pria kecil di depannya, memang sangat mustahil pria kecil itu bisa mendatangkan Hendrik dalam waktu sekejap, jadi dia mengangguk, "Oke!"

__ADS_1


"Kalau begitu,, Ayo berjanji dengan jari kelingking!" Agung bersemangat mendekat ke Alana mengeluarkan jari kelingkingnya.


"Hah,, Kau pikir aku mau ditipu? Kau melakukan ini hanya karena ingin menyentuh ku bukan?" Alana mendengus kesal.


"Ah,, baiklah,, tidak perlu bersumpah dengan jari kelingking tapi Ibu harus janji kalau dalam sekejap aku bisa mendatangkan pria itu,, maka ibu harus menepati janji ibu untuk memelukku!!" Ucap Agung kembali menekankan janji mereka.


"Iya! Tapi kalau kau tidak bisa melakukannya maka kau juga harus menepati janjimu!!" Ucap Alana.


"Baik!!" Agung berseru kegirangan.


"Lalu dimana dia?" Tanya Alana menatap Agung dengan wajah menantang.


Tidak mungkin Agung bisa mendatangkan pria itu kemari!!!


Hanya 5 hitungan lalu dia akan terbebas dari panggilan ibu yang selalu Agung ucapkan padanya, serta pria kecil itu tidak akan pernah lagi muncul di hadapannya!!


Melihat ibunya sudah menutup mata, Agung Langsung melompat dari sofa lalu berlari ke arah Hendrik sembari menghitung.


"1, 2, 3,,,," Agung mengulurkan tangannya pada Hendrik lalu Hendrik menarik pria itu ke gendongannya dan berjalan kedepan Alana.


Hendrik duduk memangku Agung di sofa yang tadi diduduki oleh Agung.

__ADS_1


"4, 5!" Seru Agung merasa sangat senang.


Alana membuka matanya dan terkejut melihat Agung sudah duduk di pangkuan Hendrik.


"Ka,, kalian!!" Alana berdiri sembari berbicara dengan nada tak percaya nya.


Bagaimana bisa hanya dalam 5 hitungan dan pria itu sudah berada di sana??


Lebih kesalnya lagi, ia melihat dua orang itu tersenyum ke arahnya dengan senyuman yang mirip.


Apa apaan!!!


"Kalian pasti menipuku!!!" Teriak Alana tak percaya.


"Ibu,, bagaimana bisa aku menipu Ibu? Bukankah perjanjiannya sudah sesuai dengan kesepakatan? Waktunya sebanyak 5 hitungan?" Ucap Agung menatap Alana.


"Tidak,, ini tidak mungkin!!!" Ucap Alana tidak terima.


Dua orang itu pasti sudah bersekongkol menjebaknya!!


"Ah,, Apakah kau mau memberikan contoh tidak baik untuk anak kecil? Mengingkari janji? Seorang Alana Xionir ternyata adalah perempuan yang suka ingkar janji,,," Hendrik berbicara sembari menatap Alana dengan perasaan berdegup kencang.

__ADS_1


Dia merasa sangat senang, ternyata perempuan itu tidak lagi gemetaran melihatnya, Alana terlihat tampak biasa-biasa saja.


"Apa katamu??" Alana mengepal erat tangannya,,, Alana Xionir mengingkari janji?!!! Tidak bisa dibiarkan.


__ADS_2