
Alana dan Agung masih sementara menikmati jus mereka ketika Agung melihat ayahnya turun dari lantai 2 sembari membawa jaket.
Yang satu adalah jaket untuk perempuan dan yang lainnya adalah jaket untuk anak kecil.
"Pakai ini," ucap Hendrik menyerahkan jaket pada dua orang yang duduk menatapnya.
"Kita mau kemana?" Tanya Agung.
"Kita akan pergi keluar," ucap Hendrik tersenyum.
"Jalan-jalan?!!" Agung berseru sangat senang mengambil jaket itu dan dengan cepat memakainya.
Tetapi setelah memakai jaketnya, Agung melihat ibunya hanya duduk memegang jaket yang tadi diberikan oleh Hendrik.
"Ibu tidak pakai jaketnya?" Tanya Agung pada Alana.
Dia masih sangat kesal pada Hendrik karena pria itu sudah menyembunyikan sesuatu darinya jadi dia merasa enggan untuk pergi bersama pria itu.
Alana menghela nafas dan berkata, "Ibu--"
"Kalau kau tidak mau pergi ya sudah, aku dan Agung pergi berdua saja." Kata Hendrik membawa Agung ke gendongannya.
Seketika, Agung berada dalam kedilemaan, ia sangat ingin jalan-jalan untuk melihat dunia luar, tetapi dia juga merasa tidak tega untuk meninggalkan ibunya sendirian di rumah.
Hendrik sudah membawa Agung ke depan pintu dan hendak membuka pintu ketika Agung berkata, "Ayah,, Aku tidak bisa pergi kalau Ibu tidak pergi."
__ADS_1
Hendrik melihat pria kecil di gendongannya tampak begitu dilema atas dua pilihan.
"Baiklah, kita tidak pergi," ucap Hendrik mengambil ponsel dari sakunya lalu melakukan panggilan telpon.
"Makanannya dipindahkan ke apartemenku." Ucapnya pada orang di seberang telepon lalu menutup panggilan tersebut.
Alana bisa mendengar ucapan pria itu tetapi dia tetap berkeras hati dan tidak mau memaafkan Hendrik sebelum pria itu menceritakan semuanya.
Setelah menelpon, Hendrik meletakkan Agung ke lantai lalu pria itu berjalan membuka tirai.
"Wah!!!!" Agung berseru sangat senang melihat pemandangan di luar.
Langit malam yang dipenuhi bintang-bintang dan bangunan yang menjulang tinggi dengan lampu-lampu menghiasi tiap-tiap lantai gedung.
Itu pertama kalinya Agung melihat pemandangan seperti itu jadi dia dengan semangat menempelkan tangan dan wajahnya ke jendela.
"Bisa," ucap Hendrik membuka pintu lalu membiarkan Agung keluar.
"Eratkan kancing jaket mu, Ayah tidak mau kau jatuh sakit karena terkena angin malam." Kata Hendrik mengingatkan putranya saat melihat baju Agung tidak dikancing dengan benar.
"Baik!!" Jawab Agung memperbaiki kancing bajunya sebelum kembali melihat pemandangan indah di depannya.
Hendrik memperhatikan Agung sangat terpukau dengan pemandangan itu, tapi dia segera berbalik mendekati Alana yang masih duduk sembari menonton TV.
Pria itu duduk di samping Alana lalu memeluk Alana dengan erat.
__ADS_1
"Lepaskan aku!!" Kesal Alana sambil merontah.
"Hah,,,," Hendrik menghela nafas dengan panjang lalu menarik paksa perempuan itu ke pangkuannya.
"Jangan marah,, aku akan menceritakannya." Ucap Hendrik.
Alana memandangi pria yang memangkunya, "Kau pikir aku kan peecaya?" Tanya Alana.
"Baiklah, kalau begitu tidak usah," ucap Hendrik menurunkan Alana dari pahanya lalu pria itu berdiri sambil menghela nafas.
Ding dong!
Bel apartemen berbunyi jadi Hendrik langsung berjalan ke arah pintu dan membukakan pintu untuk beberapa orang yang datang membawa makanan.
"Atur semuanya di balkon," ucao Hendrik.
"Baik Tuan," jawab para pelayan lalu berjalan ke arah balkon mengatur meja kursi dan makanan yang mereka bawa.
"Tuan, bunga untuk Nyonya diletakkan di mana?" Salah satu pelayan bertanya saat melihat Allah yang sedang duduk menonton TV.
Hendrik melihat bunga itu lalu melihat Alana yang tampak cuek.
"Buatmu saja," katanya kesal.
"Eh? Tapi Tuan--"
__ADS_1
"Kau tuli?!" Bentak Hendrik membuat pelayan itu tak berani lagi berkata apapun.
Sang pelayan tidak berani berkata apapun lagi, dia hanya berdiri memegangnya bunga itu.