Pewaris Yang Kabur

Pewaris Yang Kabur
⁹². Siapa orang itu?


__ADS_3

Layar ponsel menunjukkan foto selfie seorang pria dewasa yang dibalut kaos berwarna hitam sedang tersenyum ke kamera.


"I,,ibu!!!" Agung berteriak sangat panik saat melihat Alana sangat ketakutan.


"Siapa itu??!!" Teriak Alana melemparkan ponsel Agung hingga ponsel itu terjatuh ke lantai.


"Ibu baik-baik saja?" Agung dengan panik memegang tangan Alana.


"Jangan menggangguku?!!!" Bentak Alana pada Agung sebab Dia merasa kesakitan setelah melihat foto orang itu.


"Ibu,,, itu,, temanku,, dia bukan orang jahat Bu," Ucap Agung sembari menatap cemas pada ibunya yang terlihat pucat dan panik.


"Temanmu?!!!" Alana memejamkan matanya sembari memegang kepalanya yang terasa sangat pusing.


"Apakah ibu mengenalnya?" Agung bertanya dengan cemas sembari ketakutan memikirkan cara untuk menyelamatkan ibunya yang terlihat kacau.


"Ahh!!!" Alana tidak menjawab pertanyaan Agung, perempuan itu hanya membaringkan tubuhnya di sofa dan berusaha menahan rasa sakit yang menyelimutinya.

__ADS_1


"Ibu,,, Apa yang harus kulakukan?" Agung berkata dengan panik, di tempat itu hanya ada dia dan ibunya karena Sang Kakek sedang pergi bekerja.


Ayahnya pun tak ada di vila dan tidak mungkin dia memanggil orang lain untuk menolong ibunya, sakit Ibunya bisa tambah parah kalau ibunya bertemu orang asing.


"Jangan berisik!!" Tiba-tiba bentak Alana membuat Agung langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan berdiri meneteskan air matanya melihat ibunya yang kesakitan di sofa.


"Ngghh!!!!!" Nafas alanan memburu menahan rasa sakit di kepalanya.


Alana terus bergerak bergerak di sofa sembari mencari posisi yang nyaman, rasa sakit pada kepalanya sangat menyiksanya hingga dia merasa kepalanya lebih baik meledak daripada menyiksanya secara terus menerus.


'Sepertinya Ibu perlu bantal dan selimut untuk tidur.' pikir Agung segera menghapus air matanya lalu pria kecil itu berlari ke ranjang mendapatkan sebuah bantal dan selembar selimut.


Pria kecil itu membantu mengangkat kepala ala nah lalu mengatasinya dengan bantal kemudian menyelimuti Alana.


"Ibu, maaf,," kata Agung dengan lirih melihat ibunya kini sudah tidak bergerak-gerak lagi tetapi perempuan itu masih memejamkan matanya dan memegangi kepalanya.


"Diamlah,," tiba-tiba kata Alana dengan suara pelan membuat Agung akhirnya terdiam menatap ibunya.

__ADS_1


'Ibu sangat kesakitan, dan Ini semua salahku karena meminta tolong pada ibu untuk menyalakan benda itu.' pikir Agung menatap ponsel yang terjatuh di lantai lalu dia mengambilnya dan menyembunyikannya di kolong sofa.


Alana yang terbaring merasakan kepalanya berdenyut selama beberapa waktu sampai ia merasa tenang dan bisa menguasai dirinya sendiri meski sakit di kepalanya belum juga menghilang.


Perlahan perempuan itu membuka matanya dan melihat Agung dengan mata sembab nya sedang berdiri menatapnya dengan cemas.


"Keluar dari kamarku!" Katanya dengan nada mengancam.


"Tapi Bu--"


"Jangan membantah!" Sekali lagi ancam Alana.


"Baik Bu," ucap Agung tak berdaya sembari melangkahkan kakinya meninggalkan Alana dan melihat ke kolong sofa di mana dia menyembunyikan ponsel yang diberikan oleh Hendrik.


'Aku tidak bisa mengambil benda itu karena posisinya tepat di depan ibu. Semoga Ibu tidak melihatnya sampai ketika kakek pulang kantor.' pikir Agung berjalan dengan cemas ke arah pintu lalu keluar dari kamar ibunya.


Alana yang ditinggalkan memejamkan matanya berusaha melupakan foto yang baru saja ia lihat.

__ADS_1


Tetapi, ketika dia memejamkan matanya, bayangan akan foto itu kembali teringat dan entah kenapa dia selalu merasa marah dan sakit hati setiap kali mengingatnya.


Perempuan itu membuka matanya lalu menggerutu "Siapa sih orang itu? Mengapa aku merasa bahwa dia sudah membuatku menjadi sangat menderita? Padahal,,, aku tidak mengenalnya!"


__ADS_2