Pewaris Yang Kabur

Pewaris Yang Kabur
¹³⁹. Cemburu Alana


__ADS_3

Cukup lama menghadapi Patra, akhirnya Hendrik berhasil mengusir perempuan itu dari villanya.


Pria itu mengambil berkas yang didapatkan dari Patra Lalu naik ke lantai dua.


Baru saja pria itu memasuki kamar ketika melihat dua orang yang duduk di atas ranjang menatapnya dengan tatapan tajam.


"Ada apa?" Tanya Hendrik sembari meletakkan berkas yang ia di bawah ke dalam sebuah lemari lalu mengunci lemari tersebut.


"Apa itu?!" Tanya Agung dan Alana secara serempak karena mereka sangat curiga dengan berkas yang dibawa oleh pria itu.


Hendrik mengantongi kunci laci tersebut Lalu melihat dua orang yang tampak seperti anak dan ibu macan yang sedang memarahi bapak macan yang menyembunyikan sesuatu dari mereka.


Meski keduanya terlihat marah, Hendrik malah merasakan kehangatan dalam hatinya.


"Hanya sebuah urusan pekerjaan," kata Hendrik berjalan menghampiri dua orang itu.


"Berhenti!!!" Teriak Abung sebelum Hendrik lebih dekat dengan mereka.


"Ada apa?" Tanya Hendrik kebingungan.


Mengapa dua orang di depannya terlihat sangat marah, sementara tadi mereka baik-baik saja.


Apakah karena Patra?


"Siapa perempuan yang kau temui itu? Mengapa kalian terlihat sangat dekat sampai-sampai harus saling menyentuh bibir?" Alana kini bertanya dengan wajah yang cemburu.

__ADS_1


Dia sudah sangat kesal melihat Bagaimana perempuan tadi berani menyentuh bibir Hendrik, meski Hendrik menjauhkan diri dari perempuan itu, tapi tetap saja jari perempuan itu sempat menyentuh bibir Hendrik!!!


Namun, di luar dugaannya ketika dia pikir Hendrik akan meminta maaf, pria itu malah tersenyum lalu mendekat kearahnya.


"Apa yang kau lakukan?!!" Alana sangat terkejut saat pria itu mendorongnya ke tempat tidur lalu menindihnya.


Cup!!


Sebuah ciuman mendarat di bibir Alana membuat wajah Alana memerah dan dengan cepat melihat ke arah Agung.


"Bodoh!!" Teriak Alana mendorong Hendrik dari tubuhnya, dia merasa sangat malu untuk menghadapi putranya sendiri.


"Ayah!! Kau menyakiti ibu!!!" Teriak Agung dalam kemarahannya sembari melompat ke arah Hendrik dan memukuli pria dewasa itu.


"Ayah tidak pernah menyakiti ibumu!" Ucap Hendrik menahan tangan Agung yang hendak memukulinya.


Dia tidak masalah jika Hendrik mencium ibunya, tetapi tadi pria itu membuat ibunya kesakitan karena menindih ibunya.


Tubuh ibunya begitu lemah, Bagaimana bisa ibunya menahan tubuh Hendrik yang barat?!!


"Tenanglah,, ibumu bahkan tidak marah,, itu cara orang dewasa mengekspresikan perasaan mereka pada pasangan mereka." Ucap Hendrik menjelaskan.


"Kau tidak percaya!! Jelas tadi Ibu tampak kesal sakitan dan ketakutan karena ulah ayah!!!" Teriak Agung kini menggunakan kakinya menendang pria di bawahnya.


Hendrik langsung tersenyum lalu dalam satu kali gerakan ia membanting Agung ke samping lalu mengunci badan pria itu di pelukannya.

__ADS_1


"Alana,, jelaskan padanya," ucap Hendrik pada Alana.


Alana memperhatikan Agung yang terus meronta-ronta diperlukan Hendrik, enak saja pria itu meminta bantuan padanya setelah pria itu bertemu dengan seorang perempuan! Bahkan Hendrik dan belum menjelaskan apapun padanya!


"Agung benar,, Ibu sangat tersakiti karena ulah ayahmu,, badan ibu sampai sakit begini,," ucap Alana sambil memperlihatkan ekspresi kesakitan membuat Hendrik tak mampu berkata apapun.


Apakah dua orang ini sedang membalasnya hanya karena dia menemui Patra?


"Lapas!! Lepaskan aku!!!" Agung berteriak-teriak dengan tubuh yang terus meronta diperlukan Hendrik.


"Aku akan kembali ke Villa ayahku,, Agung, Apa kau mau ikut dengan ibu?" Tanya Alana pada Agung.


"Ya!! Aku akan ikut dengan ibu!!" Ucap Agung.


"Kenapa ingin kembali ke sana? Bukankah kalian seharusnya tidur di sini saja?" Tanya Hendrik masih belum melepaskan pelukannya pada Agung.


"Hah,, untuk apa kami di sini? Lagipula kau juga mengundang perempuan lain kemari Jadi kami rasa kami tidak perlu terus berada disini untuk mengganggumu. Kalau kami tidak ada kalau bisa lebih bebas mengundang perempuan lain ke sini dan menikmati waktu kalian." Ucap Alana menyindir Hendrik.


"Alana,, aku tidak begitu?" Hendrik langsung berdiri mengangkat Agung lalu membawa pria itu keluar dari kamar dan mengunci Agung diluar kamar.


Dor dor dor!!


"Buka!!! Buka pintunya!!" Teriak Agung dari balik pintu sembari menggedor-gedor pintu kamar.


Beraninya Ayahnya menguncinya di luar kamar!!!

__ADS_1


Bagaimana kalau terjadi kekerasan??


__ADS_2