Pewaris Yang Kabur

Pewaris Yang Kabur
³⁰. Unek-unek Alana


__ADS_3

Hendrik menatap perempuan yang dengan tidak tahu malunya berbaring di kasur lelaki.


Setelah beberapa menit Hendrik berlalu ke kamar mandi dengan hati yang masih berkutat.


'Melukai Alana, haruskah aku melakukannya? Tapi perempuan itu sudah mengambil jalur yang berbahaya demi menemui aku. Tapi,,' Hendrik menggelengkan kepalanya 'Jangan terperdaya, dia melakukan ini hanya karena perintah dari ayahnya. Dia ingin supaya aku terus menjadi kacungnya agar pria tua semakin dipermalukan! Dia melakukannya demi keuntungan keluarganya, jadi tidak patut mengasihinya!' Hendrik meyakinkan dirinya sendiri lalu pria itu mengambil obat yang sudah ia siapkan sejak beberapa hari yang lalu.


Setelah mengamankan obat itu di kantongnya Hendrik kemudian keluar dan mendapati Alana sedang memainkan rubik di meja belajar Hendrik.


"Kau itu seperti rubik, aku tidak bisa memahamimu meski aku sudah mempelajarinya berkali-kali." Tiba-tiba kata Alana menghentikan langkah Hendrik.


'Apa maksudnya? Mempelajari berkali-kali? Perempuan itu mempelajari ku?' Hendrik menahan pertanyaannya dalam hati lalu dia berjalan ke arah Alana dan duduk disalah satu kursi kosong.


"Tuan Putri tidak tahu memainkan rubik?" Tanya Handrik.


"Hm,, Aku hanya bisa memainkan nya sampai tahap ini. Selanjutnya terlalu rumit." Kata Alana menyerahkan rubik di tangannya pada Hendrik di mana hanya ada satu sisi yang berwarna sempurna.


Hendrik memperhatikan rubik itu lalu dalam waktu kurang dari 1 menit dia menyatukan semua warnanya.

__ADS_1


"Wow!!!" Alana berseru tak percaya melihat warna-warna rubik itu kini terlihat sangat rapi.


Alanna mengulurkan tangannya mengambil rubik itu dan memperhatikannya "Bagaimana caramu melakukannya?" Tanya Alana.


"Mudah saja." Jawab Hendrik dengan suara datar.


"Kau memang sangat genius," puji Alana masih dengan tatapan terkagum-kagum melihat rubik di tangannya.


Meski dia adalah perempuan yang pandai beladiri tetapi dia tidak terlalu pandai dalam hal pelajaran.


Dia adalah perempuan pemilih yang bahkan dalam hal pertemanan dia masih terlalu pilih-pilih untuk membentuk sebuah lingkungan pertemanan.


Sementara Hendrik yang memperhatikan Alana yang terlalu kagum hanya karena sebuah hal sederhana, pria itu menjadi semakin dilema dalam hatinya untuk melanjutkan rencananya.


"Tuan putri, Kalau boleh tahu kenapa Tuan Putri datang kemari? Bukankah berbahaya kalau ayah saya mengetahui identitas Tuan Putri yang sebenarnya?" Tanya Hendrik ingin memastikan dan memberi kesempatan pada Alana.


Ia akan melanjutkan rencananya sesuai dengan jawaban yang diberikan Alana.

__ADS_1


"Kau ini apaan! Tentu saja aku datang mengunjungi kacung ku! Meskipun kau adalah kacungku, kau tetap milikku dan aku selalu menghargai apapun yang menjadi milikku." Kata Alana sembari mengacak kembali warna warna rubik di tangannya.


"Saya milik Tuan Putri?" Tanya Hendrik sembari mengerutkan keningnya.


"Tentu saja! Kau lihat penampilanku sekarang! Kapan aku berpenampilan sejelek ini? Haiss!! Ini semua karenamu! Kau tidak datang ke kampus selama 7 hari! Apa kau tahu seberapa menderitanya Aku menunggumu di depan kampus setiap pagi?!" Kesal Alana tidak bisa lagi menyembunyikan unek-uneknya pada pria didepannya.


Meski dia berniat menolong Hendrik supaya pria itu tidak terlalu menderita di kampus, namun dia juga tetap kesal pada pria itu karena sudah membuatnya merasa kesal selama seminggu.


"Tuan Putri menunggu saya setiap hari di kampus?" Hendrik ini bertanya dengan tak yakin.


Mengapa Alana harus melakukan hal seperti itu?


Ada pepatah mengatakan kebaikan seseorang menjadi beban bagi orang lain.


Dan saat ini, Hendrik merasakan hal tersebut!


__ADS_1


__ADS_2