Pewaris Yang Kabur

Pewaris Yang Kabur
³². Rencana licik Hans


__ADS_3

Alana memegang rubik di tangannya sembari melihat punggung Hendrik yang berjalan ke kamar mandi.


'Kenapa dia terlihat aneh? Apakah aku sudah mengatakan sesuatu yang salah?' dalam hatinya Alana bertanya-tanya, tetapi kemudian dia kembali melihat rubik di tangannya.


Warna yang tadi sudah tersusun rapi kini kembali acak-acakan karena dia terus menggerakan rubiknya secara sembarangan.


'Rubik ini seperti perasaanku kepada pria itu, sangat aneh dan terlalu sulit untuk kupahami. Padahal dia hanya kacung!' gerutu Alana pada dirinya yang terlalu lelah menghadapi Hendrik.


Baru saja Alana menghela nafas dua kali ketika pintu kamar tiba-tiba terbuka dan terlihat Tuan Hans berjalan kearahnya.


"Paman," Alana langsung menyapa pria itu.


"Ini, dapatkah nak Gibran membantu saya sebentar?" Tanya Hans.


"Ahh, tentu saja. Apa yang bisa saya bantu?" Tanya Alana.


"Ini hanya masalah kecil yang ada di ruang kerja saya. Kalau Nak Gibran tidak keberatan bolehkah mengikuti saya ke sana sebentar?" Tanya Hans.

__ADS_1


"Ahh, tentu saja." Ucap Alana lalu kedua orang itu bergegas meninggalkan kamar Hendrik ke ruang kerja Hans.


'Berduaan saja dengan pria tua ini dalam satu ruangan seperti ini,, mengapa membuat perasaanku tidak enak?' Alana menahan nafasnya saat melihat Hans menutup pintu ruang kerjanya.


'Jangan berpikir negatif Alana, lagi pula orang ini mengira bahwa aku adalah pria yang merupakan teman anaknya sendiri. Dia tidak mungkin berbuat macam-macam bukan?' Alana meyakinkan dirinya sendiri lalu melihat Hans yang kini berjalan ke sebuah rak buku.


"Tolong bantu saya di sini," kata Hans menarik sebuah buku tebal dari rak buku.


Alana mengepalkan tangannya dan berjalan mendekati pria itu untuk melihat masalah apa yang membutuhkan bantuannya di sana.


"Ini,!" Wajah Hans langsung berubah lalu pria itu menarik sebuah sapu tangan yang sudah disiapkan di salah satu rak dan membius Alana.


"Mmmhh!!!!!" Alana meronta dengan kuat, ia berusaha menggunakan kekuatannya untuk melawan Hans tetapi sayangnya kekuatan pria itu jauh lebih besar darinya.


Dalam sekejap kesadarannya mulai menghilang lalu perempuan itu terkulai lemas di bekapan Hans.


"Dasar perempuan tidak berguna! Aku akan membuatmu melewati hari ini dengan sangat menyenangkan." Ucap Hans segera menggendong Alana ke pintu rahasia di ruang kerjanya lalu membaringkan perempuan itu di tempat tidurnya.

__ADS_1


Hans berjalan dengan santai ke sebuah meja dan mengambil obat yang biasa ia gunakan untuk para pela-curnya.


"Aku akan melihat bagaimana ayahmu masih bisa menertawakanku setelah Putri satu-satunya berakhir di ranjang ku!!" Tawa Hans sembari meneteskan beberapa tetes obat ke mulut Alana.


Pria itu lalu menyalakan sebuah kamera di di sudut ruangan dan mengambil kamera lain untuk mendapatkan gambar Alana.


"Pria sialan itu ternyata memiliki putri yang sangat menggiurkan." Hans tertawa seperti orang psikopat saat ia mengambil beberapa gambar pada bagian tubuh sensitif Alana yang masih dibungkus oleh pakaian Alana.


"Sial..!!! Sebaiknya menghapus riasannya dulu." Ucap Hans berlalu ke kamar mandi dan mendapatkan handuk yang diberi air hangat lalu mengelap wajah Alana.


"Hah,, kau juga terlihat cantik. Akan menyenangkan kalau aku bisa membuatmu menjadi wanita penghibur ku." Hans memiliki pikirannya sendiri, menggunakan foto Alana untuk mengancam perempuan itu pasti bisa membuat Alana bertekuk lutut di hadapannya dan siap memberikan tubuhnya kapan pun ia mau.


Dengan begitu dia akan menikmati pembalasnanya pada musuh bebuyutannya!


Rencana yang sempurna...!!!


__ADS_1


__ADS_2