Pewaris Yang Kabur

Pewaris Yang Kabur
¹⁰³. Alana di kamar pria


__ADS_3

Alana berbaring di bawah selimut tanpa bisa memejamkan matanya karena dia selalu teringat akan Hendrik yang berada di rumahnya.


Meski dia takut pada Hendrik, tetapi dalam hati kecilnya dia tidak bisa mengabaikan pria itu.


Selalu saja teringat!


'Apa yang dilakukan pia itu? Apakah dia sudah tidur?' pikir Alana membalikkan tubuhnya menghadap ke arah kanan.


'Haruskah aku memastikannya?' lagi ucap Alana dalam hati kini kembali berbalik ke kiri menatap jam dinding menunjukkan pukul 01:55.


"Sudah subuh,," kata Alana menghela nafas.


Sudah berjam-jam dia berusaha untuk tidur, tetapi matanya benar-benar tidak bisa dipenjamkan sebab pikirannya sedang teralihkan oleh pria bernama Hendrik.


"Sebaiknya aku periksa sebentar," kata Alana segera turun dari tempat tidur lalu pria itu berjalan ke arah pintu sembari membuka pintu dengan pelan.


Perempuan itu mengintip keluar dan memastikan suasana sangat sepi lalu mengendap-endap ke depan pintu kamar Agung.


'Pria itu pasti berada di kamar putranya.' pikir Alana meraih handle pintu lalu memutarnya dengan pelan dan mendorong pintunya hingga membuat sedikit celah untuk mengintip ke dalam kamar.


Ia langsung melihat ke tempat tidur dan mendapati Hendrik bersama Agung tidur terlelap.

__ADS_1


'Benar, dia di sini, mereka tidur pulas,,' pikir Alana tanpa sadar mendorong pintu itu semakin terbuka lebar lalu perempuan itu memasuki kamar.


'Biar ku lihat lebih dekat untuk memastikan kalau mereka memang tidur,' ucap Alana dalam hati semakin mendekat kearah ranjang.


Dilihatnya kedua orang itu tidur dengan sangat intim, Agung memeluk dengan erat, sementara Hendrik meletakkan tangannya di kepala Agung seolah pria itu memenangkan pria kecil yang sedang tertidur.


'Jika dilihat seperti ini mereka tampak seperti orang baik. Tapi,, pria ini sangat tampan, sayang sekali dia sudah menikah, bahkan memiliki seorang Putra berumur 4 tahun. Heu,, pria beristri!' pikir Alana terus mengamati dua pria yang terlelap di atas ranjang.


"Mmhh!" Tiba-tiba saja Agung yang terlihat tidur lelap kini melenguh sembari mengangkat kakinya menendang selimut.


Deg!


Jantung Alana berdegup kencang karena dia takut ketahuan sedang mengintip dua pria yang sedang tidur.


'Hah! Dasar pria kecil ini, hampir saja membuat jantungku copot!' kata Alana mengusap dada kirinya lalu perempuan itu berbalik untuk meninggalkan dua orang yang sedang terlelap.


Segera, Hendrik membuka matanya lalu tersenyum kearah Alana.


'Dasar Alana!!' pikirnya dalam hati sembari menarik selimut Agung.


Suara yang ditimbulkan tarikan selimut itu langsung menghentikan langkah Alana lalu perempuan itu berbalik melihat kearah ranjang.

__ADS_1


Untung saja pria itu ternyata memejamkan matanya sembari memperbaiki selimut putranya.


'Hah,, dasar!' kembali gerutu Alana lalu perempuan itu berjalan ke pintu.


"Alana? Apa yang kau lakukan?" Tiba-tiba Romi muncul di depan pintu kamar Agung membuat Alana langsung melototkan matanya, dia terlalu malu ketahuan keluar dari kamar seorang pria.


"Ayah,, jangan berisik!!" Kata Alana dengan suara setengah berbisik sembari menoleh kembali ke belakang.


"Bagaimana kalau suara ayahnya membangunkan dua pria yang sedang tertidur itu?" Ucap Alana kesal.


Sangat memalukan baginya!


"Alana, apa yang kau lakukan di kamar seorang pria pada jam segini?" Tanya Romi kini memelankan suaranya.


"Uh,, Ayah,, aku hanya memastikan kalau dia benar-benar hanya tidur di rumah kita dan bukannya diam-diam merampok rumah kita saat semua orang sedang tertidur." Kata Alana berjalan keluar sembari menarik pintu kamar Agung.


Buk!


Ternyata perempuan itu hanya terfokus berbicara pada Romi dan melupakan pintu yang ia tarik hingga tarikannya terlalu keras dan menimbulkan suara.


Deg!

__ADS_1


Deg!


Alana memandang pada pintu yang telah tertutup, 'Ku mohon jangan bangun!!'


__ADS_2