Pewaris Yang Kabur

Pewaris Yang Kabur
¹⁰⁸. Tak bisa lagi mengancam Hendrik


__ADS_3

Hendrik duduk di dalam mobil yang membawanya keluar dari villanya.


Pria itu memejamkan matanya mencuri kesempatan untuk tidur selama perjalanan sebab kemarin malam dia tidak tidur dengan benar.


'Alana,, tunggu, aku akan segera menyelesaikan semuanya lalu kembali menemuimu.' ucap Hendrik dalam hati sembari menghela nafas menunggu mobil mereka tiba di tempat tujuan.


"Tuan, kita sudah sampai," kata Dirga ketika mobil mereka sudah sampai di perusahaan Gonedra.


Hendrik yang sedari tadi memejamkan matanya membuka kelopak matanya menatap ke gedung tinggi yang ada di hadapannya.


"Ayo," katanya.


Dirga segera keluar dari mobil lalu membukakan pintu mobil untuk Hendrik dan mengawal Hendrik memasuki lift yang mengantar mereka ke ruang pribadi Hendrik.


Sesuai dugaan mereka, hari itu kantor dijaga dengan sangat ketat oleh orang-orang suruhan Hans.


Pastilah karena pria itu berjaga-jaga agar Hendrik tidak bisa kabur darinya jika ada sesuatu yang berjalan di luar kendali pria itu.


"Tuan Hans baru saja tiba di ruangan Tuan, Apakah kita ke ruangan Tuan terlebih dahulu atau ke ruang meeting?" Tanya Dirga.

__ADS_1


"Ayo temui pria tua itu dulu." Ucap Hendrik tanpa ekspresi.


Ting!


Lift berhenti di lantai ruangan Hendrik berada lalu kedua pria itu keluar dari sana mendapati 10 orang pengawal ditempatkan di lantai itu.


'Pria tua itu benar-benar berjaga-jaga,' pikir Dirga dalam hati sembari mengikuti Hendrik yang melangkah ke ruangan CEO.


"Tuan," Dirga kembali berbicara saat Hendrik hendak memasuki ruangan.


"Tunggu di sini," kata Hendrik yang mengerti bahwa Dirga mengkhawatirkannya.


Begitu memasuki ruangannya, Hendrik melihat di dalam ruangan nya masih terdapat 10 pengawal lain yang berdiri di setiap sudut ruangan.


"Kau sudah tiba,," Hans langsung berbicara pada Hendrik saat melihat putranya memasuki ruangan CEO.


"Apa yang membuatmu meninggalkan liburanmu dan begitu terburu-buru kembali ke dalam negeri?" Hendrik berbicara dengan santai sembari berjalan ke arah sofa dan duduk di sofa tunggal dengan wajah yang santai menatap ayahnya yang duduk di depannya.


"Heh,,, Sepertinya kau sudah menyerah untuk perempuan itu hingga kau berani menyentuh ornag-orangku?" Tanya Hans langsung pada inti pembicaraan mereka.

__ADS_1


Dia sangat terkejut ketika mendapat kabar bahwa sekretaris pribadinya yang selalu ia andalkan sudah mati dalam sebuah kecelakaan yang sangat misterius.


Saking misteriusnya kecelakaan itu sampai-sampai orang-orangnya yang ditugaskan menyelidikinya belum bisa mendapatkan informasi apapun.


Penyelidikan masih terus berlangsung.


"Apa maksudmu?" Hendrik bertanya dengan suara dan wajah yang datar.


Meski dia sudah tahu maksud pria di depannya, tetapi tentu saja dia tidak terlalu bodoh untuk mengakuinya begitu cepat.


"Jangan berpura-pura! Satu-satunya orang yang bisa menyentuhnya adalah kau, Mengaku padaku apakah kau yang sudah melakukannya atau tidak?! Kesabaranku ada batasnya!" Gertak Hans pada Hendrik.


"Aku tidak mengerti maksudmu," ucap Hendrik.


Hans terdiam beberapa saat, "Bagus,, sebaiknya kau memang tidak mengerti atau jika aku mengetahui kebenarannya, dan ternyata kau terlibat, kau ak--"


"Ya,, aku akan mati menyusul Ibuku lalu kau akan mencari orang lain untuk meneruskan perusahaanmu, itu yang kau inginkan 'kan?" Sela Hendrik dengan suara mengejek membuat Hans terkejut.


Dulunya setiap kali dia mengancam putranya maka putranya akan selalu menampakkan emosi sebab pria itu terlalu takut kalau dia menyebarkan foto milik Alana.

__ADS_1


Tapi sekarang,,, mengapa pria itu tidak bisa lagi ia ancam???


__ADS_2