
Alana melepaskan pelukannya pada Emily lalu perempuan itu menyeka air matanya dan duduk sembari *******-***** jari tangannya.
"Itu,, hiks,, dia bilang dia akan bertanggung jawab. Dia bilang dia akan menolongku jadi aku menyetujui permintaannya. Tapi aku tidak menyangka pria itu malah membawa aku ke kamar mandi dan aku tidak sadar,, setelah itu hal itu terjadi... Dia melakukannya padaku!!" Ucap Alana sambil terisak keras dan kembali memeluk Emily.
"Bagaimana bisa? Mengapa tidak melawannya? Kau kan jago bela diri." Ucap Emily yang sebenarnya bingung harus menghibur Alana dengan cara seperti apa.
Mendengar pertanyaan Emily, Alana kembali mengingat kejadian di kamar mandi dia ingat pertanyaan pria itu.
Hendrik "Aku akan melakukannya hanya kalau kau mengijinkannya, aku janji akan bertanggungjawab."
Alana "Tolong lakukan,, aku sangat ketakutan,, aku butuh kamu."
Segera, wajah Alana membeku.
Mengapa ada hal seperti itu dalam ingatannya?
'Apa aku yang mengijinkannya?" Alana kembali ingat bagaimana sikap bingung Hendrik saat ia marah-marah.
Ini,, membingungkan nya.
"Ada apa?" Emily bertanya dengan cemas saat melihat Alana yang tadi terisak sesegukan kini terdiam seperti orang yang kehilangan jiwanya.
__ADS_1
"Alana?!" Kembali ucap Emily untuk kedua kalinya saat melihat perempuan itu masih tak bergeming.
"Hei,, ada apa? Kau baik-baik saja?!" Emily yang cemas menggoyangkan tubuh Alana saat perempuan itu kini hanya terdiam dan membiarkan air matanya menetes di pipinya.
"Emily,, aku,, apa yang sudah kulakukan?!" Alana kembali merasa sesak lalu perempuan itu memeluk Emily dan menangis dengan sangat keras.
"Emily, hiks,, hiks,, huawwa.....!! Apa yang sudah kulakukan?! Aku..." Tak mampu lagi memikirkan semuanya Alana akhirnya pingsan di pelukan Emily.
Emily yang menyadari perempuan itu terkulai lemas diperlukannya langsung menjadi panik dan berusaha menyadarkan Alana.
Sayangnya, apa yang ia lakukan tidak berhasil jadi perempuan itu segera menelpon 110 dan membawa Alana ke rumah sakit.
"Apa yang harus kulakukan?" Emily bolak-balik di depan ruang pemeriksaan saat dia kebingungan harus melakukan apa.
Tapi kalau dia tidak menghubunginya dan sampai terjadi sesuatu pada Alana maka dia mungkin akan disalahkan atas peristiwa ini.
"Sebaiknya telpon saja." Emily akhirnya meraih ponselnya dan menelepon sebuah nomor yang bernama Ayah di ponsel Alana.
"Putri Ayah, ada apa tiba-tiba menelpon? Pasti kangen ya," jawab seorang pria dari seberang telepon.
"Uh,, halo, selamat Siang Tuan, perkenalkan saya Emily temannya Alana, saat ini saya ingin memberitahu Paman kalau Alana masuk rumah sakit dan--"
__ADS_1
"Apa?! Rumah sakit mana?!" Terdengar suara pria dari seberang telepon sangat panik membuat Emily mengepal erat tangannya karena dia terlalu takut berurusan dengan keluarga Allah.
"Ini,, saya akan mengirim pesan." Ucap Emily langsung mematikan telepon itu dan dengan tangan gemetaran dia mengirim alamat rumah sakitnya.
"Astaga... Berurusan dengan orang kaya seperti mereka sangat menakutkan." Gerutu Emily pada dirinya sendiri.
Akhirnya Emily menunggu sekitar 20 menit sampai seorang pria datang dengan tergesa-gesa.
"Di sana Tuan," pengawal pria itu menunjukkan jalan untuk orang yang dikenal Emily sebagai ayah Alana.
Wajah pria itu tampak sangat menakutkan!!!!
Emily menunggu sampai pria itu masuk lalu dengan hati-hati mendekati sang pengawal dan mengembalikan ponsel Alana.
Setelah itu kemah Emily memilih kabur dari tempat itu karena dia tidak mau bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada Alana.
Sementara di ruang inap, Alana terbaring dengan wajah yang pucat.
Romi menatap putrinya dan melihat bekas kemerahan memenuhi sekujur leher putrinya.
Tanda itu...... Wajah Romi langsung menggelap.
__ADS_1
Siapa yang berani membuat putrinya seperti ini?!!!!