Pewaris Yang Kabur

Pewaris Yang Kabur
¹⁴². Foto rahasia Hendrik


__ADS_3

"Tidak,, Aku tidak pernah merahasiakan seorang perempuan darimu, kau satu-satunya yang kumiliki!!" Hendrik mempererat pelukannya pada Alana, dia tidak akan membiarkan perempuan itu pergi, tetapi dia juga tidak bisa memperlihatkan foto-foto itu pada Alana.


"Lepas!! Sampai kau bisa menjelaskan semuanya padaku, baru aku akan memaafkanmu!!!" Teriak Alana terus meronta-ronta membuat Hendrik semakin pusing bagaimana cara menangani masalah tersebut.


"Baiklah,, aku akan menjelaskannya, tapi bisakah kau tenang dan dengarkan?" Tanya Hendrik sembari memutar otaknya tentang bagaimana dia akan mengatakannya pada Alana tanpa membuat perempuan itu bersikeras untuk melihat foto-foto tersebut.


"Tidak ada yang perlu didengarkan! Melihat sikapmu sekarang, seharusnya kau memang memiliki hubungan dengan perempuan itu sampai menyembunyikan rahasia dariku!! Perempuan itu bisa mengetahui tentang foto-foto itu tapi aku tidak bisa mengetahuinya!!


"Ini menandakan sebenarnya siapa yang paling memiliki arti di hatimu!!" Ucap Alana terus terisak dengan tubuhnya yang terus memberontak agar Hendrik melepaskannya.


"Baiklah, karena kau tidak mau diam, maka aku akan mendiamkanmu dengan caraku." Kata Hendrik lalu mendorong perempuan itu ke dinding dan menjepitnya diantara dinding dan tubuhnya.


Satu tangan pria itu memegangi 2 tangan Alana dan meletakkannya di atas kepala Alana sementara kakinya menahan kaki Alana hingga perempuan itu tak bisa lagi meronta-ronta.


Tangan Hendrik yang lain memegang dagu Alana dan melihat wajah perempuan itu dipenuhi air mata.


"Itu foto yang diinginkan Ayahmu, kau bisa bertanya pada ayahmu untuk melihat foto itu, kalau dia mengizinkannya, aku akan membiarkanmu melihatnya." Ucap Hendrik.


Dia tidak bisa menolong dirinya sendiri, pokoknya dia harus meminta bantuan pada Romi.

__ADS_1


"Ayahku?" Tanya Alana sambil mengerutkan keningnya, jangan-jangan pria didepannya ini hanya bermuslihat untuk menghindar!


"Ya,, coba telepon ayahmu sekarang dan tanyakan padanya. Kalau dia setuju, aku akan memperlihatkannya padamu." Ucap Hendrik.


Alana menatap dalam mata Hendrik, ia berusaha mencari kebohongan di mata pria itu, tapi dia tidak menemukannya.


"Kau yakin?!!" Tanya Alana masih dengan tatapan tak percaya nya menatap pria di depannya.


"Tentu saja,, mana mungkin aku membohongimu?" Ucap Hendrik memperhatikan Alana, "Tapi sebelum itu, kau harus janji untuk bersikap tenang. Jangan meronta lagi, ok?"


Alana terdiam sesaat memandangi pria di depannya sebelum mengangguk dengan enggan.


Alana masih dalam keadaan marah, tetapi melihat Hendrik bersungguh-sungguh maka perempuan itu mengambil ponsel Hendrik lalu menelpon kontak Romi.


"Ayah, ini aku," ucap Alana saat panggilan itu sudah terhubung.


"Ya putriku, ada apa? Suaramu serak?" Apakah Ayah harus menjemput kalian berdua ke situ?" Tanya Romi dari seberang telpon.


"Tidak, Aku hanya ingin menanyakan foto-foto yang dibawa perempuan pada Hendrik, foto-foto itu,, Apakah foto-foto itu milik ayah?" Tanya Alana dengan tatapan melihat Hendrik untuk mengawasi pria itu.

__ADS_1


"Foto-foto? Foto apa itu?" Tanya Romi yang tidak mengerti.


Jawaban Romi dari seberang telepon membuat Alana menggertakkan giginya lalu dia melepaskan ponsel itu dari telinganya untuk menekan tombol reject.


Romi sendiri tidak tahu tentang foto itu,, jadi dia menyimpulkan Hendrik telah berbohong.


Tapi ia belum menekan tombol reject ketika Hendrik menghalanginya.


Pria itu merebut ponsel dari tangan Alana lalu menekan tombol speaker.


"Itu adalah foto yang kita cari cari selama 5 tahun ini. Aku sudah menemukannya, tetapi Alana tidak sengaja melihatnya dan memaksa untuk melihatnya kare--"


"Tidak,, jangan perlihatkan padanya. Itu barang rahasia yang tidak boleh diketahui oleh sembarang orang. Apakah Alana masih di situ?" Tanya Romi.


"Ya Ayah,, Mengapa kalian memiliki barang rahasia seperti itu?!" Tanya Alana tak yakin.


"Putriku, ini adalah masalah bisnis, Kau tidak perlu tahu, sudah ayah sibuk, jangan lupa tidur lebih awal dan mimpi indah." Kata Romi.


Tut Tut Tut...

__ADS_1


Panggilan telepon diakhiri Romi.


__ADS_2