Pewaris Yang Kabur

Pewaris Yang Kabur
⁸⁴. Harga diri yang tinggi


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Agung terbangun dan berlari ke kamar kakeknya lalu melompat ke ranjang Romi.


"Kakek bangun!!!" Teriaknya mengguncang tubuh kakeknya.


"Hm,," Romi mengerjapkan matanya lalu melihat ke arah jam diatas nakas.


"Cucuku, ini baru pukul 4 dini hari, masih ada beberapa jam untuk tidur jadi kembalilah ke kamarmu." Kata Romy menutup matanya membuat Agung mendengus kesal.


"Kakek tidurlah,, aku akan pergi ke kamar Ibu." Ucap Agung melompat dari tempat tidur lalu pria kecil itu berjalan ke kamar sebelah.


Tok tok tok...


Tidak ada jawaban.


Tok tok tok....


Masih tidak ada jawaban.


Tok tok tok....


"Huh! Kenapa orang dewasa sangat sulit bangun pagi?!" Kesal Agung memonyongkan bibirnya lalu pria kecil itu berpikir selama beberapa detik sebelum kembali ke kamarnya.


Ia mengambil jaket dari lemarinya lalu memakainya bersama topinya dan berlari ke lantai bawah.


Dari dapur terdengar beberapa suara-suara kecil karena pelayan sedang menyiapkan sarapan.

__ADS_1


Agung mengabaikannya lalu pergi ke pintu keluar dan menyelinap ke Villa sebelah.


"Tuan muda," seorang pengawal yang berjaga di depan pintu terkejut melihat pria kecil dengan wajah kemerahan muncul di depannya.


"Pintu!" Ucap Agung memandang pengawal itu, dia tidak biasa berinteraksi dengan para pengawal sebab di rumahnya para pelayan tidak berani menampakkan diri padanya.


"Ah, baik!" Jawab pengawal itu segera membuka pintu untuk Agung lalu Agung memasuki Villa dan naik ke lantai dua.


Segera, pria kecil itu memasuki kamar Hendrik dan melihat tempat tidur telah kosong.


"Dimana dia?" Kata Agung membuka pintu kamar mandi dan mendapati ruangan itu juga kosong.


"Kau di sini?" Tiba-tiba suara seorang pria dari belakang Agung yang mana pria itu baru saja memasuki kamar.


"Ikuti aku," ucap Hendrik membuka pintu kamar lalu berjalan ke lantai bawah diikuti Agung yang bertanya-tanya dalam hatinya ke mana mereka akan pergi.


Ternyata, Agung dibawa ke meja makan, terlihat di atas meja makan sudah tersedia berbagai macam masakan.


"Duduklah," ucap Hendrik.


Agung segera duduk disalah satu kursi dan menelan air liurnya melihat makanan yang tampak menggiurkan di depannya.


Segera Hendrik mengambil salah satu piring kosong lalu mengisinya dengan makanan dan meletakkannya di depan Agung.


"Makanlah," kata Hendrik.

__ADS_1


Agung tidak mengatakan apapun, pria kecil itu hanya mengambil sendok dan garpu nya lalu mulai mencicipi masakan ayahnya yang sangat enak di lidahnya.


"Apakah ibu menyukai makanan yang kemarin kau bawakan untuknya?" Tanya Hendrik di sela-sela makan mereka.


Agung langsung menghentikan pergerakan tangannya dan menatap Hendrik selama beberapa detik.


"Dia memakannya." Jawab Agung.


"Begitu ya, baguslah." Kata Hendrik sembari tersenyum.


Pria kecil di depannya tidak mengatakan bahwa Alana menyukai makanannya, tetapi karena pria kecil itu mengatakan Alana memakannya maka dia akan menganggap bahwa Alana menyukai masakannya.


"Aku tidak mengatakan kalau ibu menyukainya." Kembali kata Agung dengan wajah datarnya memasukkan makanan ke mulut nya.


Pokoknya, dia tidak boleh terlalu mudah memberi muka pada pria di depannya.


"Aku tahu, aku sudah menyiapkan makanan untuk Ibumu dan juga kakekmu. Bawalah nanti supaya mereka bisa sarapan," jawab Hendrik.


"Lalu, mengapa kau menyuruhku pagi-pagi sekali datang kemari?" Tanya Agung.


"Itu karena aku harus berangkat pagi-pagi sekali untuk bekerja. Kau tidak perlu kemari sampai malam nanti karena aku mungkin pulang larut malam." Ucap Hendrik.


"Huh! Siapa juga yang mau datang kemari mencarimu?!" Ucap Agung dengan judes dijawab senyuman Hendrik.


Putranya benar-benar mirip dengan Alana, memiliki harga diri yang tinggi!

__ADS_1


__ADS_2