
Setelah dokter tiba di kamar Alana, pria itu melihat Alana dan anak kecil yang duduk di atas ranjang sembari menangis memegangi tangan ibunya.
"Dia,,," dokter yang bernama Bara melihat ke arah Hendrik lalu ke arah Agung, silih berganti.
"Dia putraku," ucap Hendrik yang mengerti bahwa pria itu sedang bingung dengan kemiripannya dengan Agung.
"Ahh, lalu,," Bara melihat Alana yang terbaring di tempat tidur.
"Dia ibunya," lagi jawab Hendrik.
"Oh,," Bara mengangguk-anggukkan kepalanya sembari memperhatikan Alana.
"Kita hanya perlu menunggu dia siuman. Jadi,, dimana kamarku?" Tanya Bara yang merasa lelah setelah perjalanan mendadak nya dari luar negeri.
Hendrik menatap tajam saat pria itu belum memeriksa Alana, tetapi dia sudah menanyakan kamar untuk beristirahat.
Bara menghela nafas, "Hei,, dia bukannya sakit jantung atau sesak nafas yang perlu pertolongan pertama. Aku tidak bisa mengobati nya kalau dia berada dalam keadaan tidak sadarkan diri.
'Lagi pula aku sudah sangat lelah dalam perjalananku jadi aku butuh istirahat untuk mengembalikan energiku." Ucap Bara pada Hendrik lalu pria itu menatap Agung yang masih sesegukan di samping ibunya.
"Pria kecil,, jangan menangis di samping ibumu saat dia sedang tertidur, nanti tangisanmu akan terdengar di mimpinya." Ucap Bara mengejutkan Agung.
__ADS_1
Pria kecil itu mengangkat wajahnya yang berlinang air mata melihat Bara dengan tatapan aneh.
"Aku berkata sungguh-sungguh," ucap Bara lalu beranjak meninggalkan kamar itu.
Hendrik menghela nafas melihat Bara yang telah pergi lalu pria itu mendekat ke arah Agung.
"Jangan sedih, dia adalah dokter yang hebat dia pasti mengatakan yang sejujurnya." Ucap Hendrik dijawab anggukan Agung sambil menahan isakannya.
Akhirnya dua pria itu hanya terdiam sembari memegang masing-masing salah tangan Alana sampai kira-kira dua jam berlalu.
Saat itu mereka terkejut ketika pintu kamar dibuka dengan keras oleh seseorang.
"Apa yang terjadi?" Tanya Romi melihat mata sembab cucunya dan Alana yang terbaring pucat di tempat tidur.
"Dia pingsan," jawab Hendrik.
"Ayo pindahkan dia ke kamarnya, Aku tidak mau dia kembali terkejut saat mendapati dirinya berada di tempat yang asing." Kata Romi dengan cemas karena dia terlalu takut penyakit Alana semakin parah jika mereka terlalu memaksa Alana menerima keadaan.
"Tidak!" Tiba-tiba suara seorang pria yang tak lain adalah bara.
Bara memasuki kamar itu sembari berjalan dengan tenang melihat perempuan yang terbaring di tempat tidur.
__ADS_1
"Aku sudah mendengar ceritanya dari Hendrik, ini hanya langkah yang perlu ia lewati untuk menerima keadaan. Kita tunggu dia sampai senyuman lalu lakukan terapi nya," ucap Bara.
Romi langsung menatap Bara, "Sudah banyak dokter yang melakukan terapi pada anakku, tetapi tidak ada satupun yang berhasil. Apa kau yakin tidak akan memperparah penyakitnya?" Tanya Romi dengan cemas.
Selama beberapa hari terakhir putrinya sudah semakin membaik sejak kehadiran Hendrik, kalau tiba-tiba mereka melakukan terapi yang beresiko, dia tidak mau kalau sampai putrinya kembali lagi seperti dulu.
Sama sekali tidak mau keluar dari villa, tidak mau bertemu dengan oleh siapapun kecuali dia dan Agung.
"Saya tidak bisa mengobati pasien yang keluarganya tidak mempercayai saya," kata Bara sambil melihat pada Hendrik.
Hendrik langsung menghela nafas lalu pria itu berdiri melepaskan genggamannya pada tangan Alana.
"Tuan Romi, dia adalah dokter terbaik yang saya kenal, tolong beri kesempatan," kata Hendrik.
Sesaat Romi melihat dua pria didepannya lalu menoleh pada Alana dan Agung.
Agung menganggukkan kepalanya sebab dia sangat percaya kepada Hendrik yang merupakan ayah kandungnya.
Tidak mungkin Hendrik mau melukai Alana, apalagi pria itu sangat memperhatikan mereka.
"Baiklah, tapi kalau terjadi sesuatu pada putriku,, Jangan harap kalian masih memiliki kesempatan untuk benafas!!" Kata Romi.
__ADS_1