
"Kalau kau tidak berhenti, aku tidak akan mau lagi berbicara denganmu!!" Teriak Agung dengan panik saat mereka mendekati Villa.
"Benarkah?" Hendrik menghentikan langkahnya lalu menatap pria kecil yang terlihat panik di pelukannya.
"Ya!! Ibuku,, dia sakit!! Sakitnya akan semakin parah kalau dia bertemu dengan orang yang bernama Hendrik!!" Ucap Agung membuat Hendrik menyipitkan matanya menatap Agung.
"Benar!! Kemarin saja ketika ibuku tidak sengaja melihat fotomu, ibuku pingsan selama berjam-jam, jadi--"
"Oh,, alasanmu bagus sekali!!" Kata Hendrik mengabaikan pria kecil itu lalu melanjutkan langkah kakinya ke arah Villa.
Tidak ada satupun pengawal yang menghalangi mereka sebab para pengawal dan pembantu di villa itu memang tidak diizinkan menunjukkan diri mereka pada Agung dan juga Alana.
Jadi Hendrik dengan lancar memasuki Villa hingga mereka tiba di ruang tamu.
Jantung Agung berdegup sangat kencang, dia sangat takut kalau ibunya yang tadi menonton di ruang tamu melihat Hendrik.
Tapi untunglah, ibunya tidka ada.
"Tolong berhenti!!!" Teriak Agung saat Hendrik malam melangkahkan kakinya ke arah tangga.
"Jangan berisik!!" Ucap Hendrik melangkahkan kakinya sembari memperhatikan tempat itu.
__ADS_1
Banyak sekali foto Alana dan Agung, tetapi terlihat Alana tidak akrab dengan Agung, serptinya ada jarak di antar dua orang itu.
"Berhenti ku bilang!! Berhenti!!" Agung terus meronta-ronta, tetapi apapun yang ia lakukan tidak dihiraukan oleh Hendrik karena Hendrik memegangnya dengan sangat erat.
"Dimana kamar ibumu?" Tanya Hendrik dengan jantung berpacu cepat, dia sangat merindukan Alana, tetapi dia juga takut bertemu perempuan itu.
Apa yang saat ini dipikirkan Alana tentangnya?
Dia sudah meninggalkan perempuan itu selama 5 tahun!!
Terlebih perempuan itu ternyata ditinggalkannya dalam keadaan hamil dan sekarang sudah memiliki seorang anak berusia 4 tahun!
"Aku tidak akan memberitahumu!!" Teriak Agung.
Kosong!
Hendrik berjalan ke pintu berikutnya.
"Berhenti!! Ku bilang jangan temui Ibu!! Nanti sakitnya tambah parah!!!" Agung semakin gugup, pintu berikutnya yang dituju oleh Hendrik adalah pintu kamar Alana.
"Jangan berbohong," ucap Hendrik terus melangkah.
__ADS_1
Setidaknya dia harus melihat Alana meski itu hanya sekejap.
"Aku tidak berbohong!! Ibu sedang sak--" suara Agung berhenti dan pria itu menatap ke dalam kamar karena Hendrik sudah membuka pintu kamar Alana.
2 pria itu langsung terpaku pada seorang perempuan yang terbaring di atas tempat tidur. Perempuan itu terlelap.
Segera ke tubuh Hendrik melemas dan Agung dengan cepat turun dari gendongan Hendrik lalu berlari ke arah Alana.
"Ibu?" Ucap Agung menyentuh Alana, tapi sepertinya Alana tertidur pulas hingga tidak menyadari kehadirannya.
Sementara Hendrik, pria itu dengan kaki yang terasa berat melangkahkan kakinya mendekati Alana dan melihat wajah Alana.
Masih cantik seperti dulu, dan rambut Alana,,, rambut Alana yang dulunya pendek kini sudah panjang dan terlihat berantakan pada bantal yang dikenakan perempuan itu.
'Huh! Sepertinya tidak masalah kalau aku membiarkan pria ini bersama dengan Ibu sebentar. Lagipula Ibu juga tertidur Jadi Ibu tidak akan menyadari kehadirannya.' Agung tersenyum dan berlari keluar dari kamar Alana.
Pria kecil itu menutup pintu sembari tersenyum senang menunggu di depan pintu.
Meski dia membenci ayahnya, tetapi dia juga tidak bisa menutupi kesenangannya karena bisa bertemu ayahnya.
Lagipula dia cukup sedih setiap kali mendengar ibunya terus mengatakan nama Hendrik tetapi tidak bisa bertemu pria itu.
__ADS_1
'Ibu,, aku menemukan Ayah, semoga ayah tidak sebodoh yang ku pikirkan. Semoga ayah bisa mencari tahu cara untuk menyembuhkan ibu!' pikir Agung dalam hati.
I