Pewaris Yang Kabur

Pewaris Yang Kabur
¹⁶⁵


__ADS_3

Menyetir meninggalkan pantai, Hendrik menoleh pada Alana dan Agung yang ada di kursi penumpang.


Ia tersenyum melihat dua orang yang kelelahan itu kini tertidur pulas.


'Ini seperti kembali dari liburan keluarga, padahal kami baru saja keluar dari lubang kematian.' pikir Hendrik menghela nafas sembari mengendarai mobilnya menuju kota.


Ketika dia memasuki kota, pria itu mengeluarkan ponselnya untuk melakukan panggilan telepon bersama Roni.


Tetapi pria itu mengerutkan keningnya kalah panggilan teleponnya yang 3 kali berturut-turut ternyata diabaikan oleh Romi.


"Apakah terjadi sesuatu?" Hendrik bertanya-tanya sembari dengan cemas melajukan kendaraannya ke sebuah hotel di mana Dirga telah menunggunya.


Begitu tiba di hotel tempat tujuannya, Hendrik langsung memarkirkan mobilnya dan melihat Dirga menghampirinya dengan beberapa bagian tubuh pria itu dibalut dengan perban.


"Tuan," ucap Dirga memberi hormat pada Hendrik.

__ADS_1


"Apakah kau sudah memeriksakan diri ke rumah sakit?" Langsung tanya Hendrik saat melihat pria itu tertatih-tatih ketika berjalan.


"Saya sudah diperiksa oleh dokter, tapi ada hal yang lebih penting yang harus saya beri tahu kan pada Tuan." Kata Dirga dengan cemas membuat Hendrik mengerutkan keningnya.


Pria itu melihat ke dalam mobil di mana Alana dan Agung masih terlelap lalu kembali menatap Dirga, "Katakan!" perintahnya.


"Tuan Romi baru saja masuk rumah sakit karena tertembak di bagian dadanya." Ucap Dirga membuat Hendrik langsung menoleh ke dalam mobil karena dia takut dua orang yang ada di dalam mobil mungkin mendengar pembicaraan mereka dan terkejut dengan berita itu.


"Kita bicarakan nanti," ucap Hendrik membuka pintu mobil lalu memeriksa dua orang itu.


Agung menggosok-gosok matanya saat tangan dingin Hendrik menyentuh wajahnya, "Nggg,, ayah,," kata pria kecil itu dengan suara paraunya.


Ia menggendong Alana memasuki hotel diikuti Agung dan Dirga dibelakangnya.


Keempat orang itu memasuki kamar yang telah disiapkan oleh Dirga lalu Hendrik membandingkan Alana di tempat tidur.

__ADS_1


"Jaga ibumu, Ayah harus mengurus sesuatu," kata Hendrik pada Agung sembari mengangkat pria kecil itu ke atas ranjang agar mereka bisa tidur bersama.


Setelah menyelimuti dua orang yang berbaring di tempat tidur, Hendrik lalu keluar dari kamar menemui Dirga.


"Tambahkan orang-orang untuk berjaga di sekitar hotel ini tapi jangan menarik perhatian. Seluruh lantai hotel ini juga harus kau pesan, Tidak ada orang lain yang boleh naik ke lantai ini." Perintah Hendrik pada Dirga diangguki Dirga.


"Antar aku ke rumah sakit," ucap Hendrik kemudian 2 orang itu segera memasuki lift dan melaju ke rumah sakit.


Di perjalanan, Hendrik bertanya pada Dirga, "Bagaimana bisa dia tertembak di dadanya?"


"Ini terjadi tepat Ketika tuan Roni keluar dari gedung lalu beberapa sniper yang di sewa oleh orang-orang Tuan Hans menargetkannya. Untunglah saat itu ada banyak pasukan yang mengelilinginya jadi mereka dengan sigap mengantisipasinya, tetapi satu peluru tak bisa terhadang." Ucap Dirga.


"Sialan!!! Lalu bagaimana dengan para penembak itu?" Tanya Hendrik.


"Tiga dari empat orang itu sudah tertangkap, tetapi satu orang tidak dapat terkejar. Namun ada kabar baik dari mata-mata kita, dia tiba-tiba dimasukkan ke dalam pasukan khusus yang dibentuk di black. Sepertinya Sebentar lagi kita bisa mendapat beberapa informasi darinya." Ucap Dirga diangguki Hendrik.

__ADS_1


"Perintahkan dia untuk tidak bergerak selama beberapa waktu ke depan." Ucap Hendrik.


"Baik Tuan," jawab Dirga yang mengerti bahwa situasi sedang memanas Jadi jika mereka menyuruh mata-mata mereka untuk segera bertindak maka bisa jadi Hans akan segera menyadari keberadaan mata-mata mereka.


__ADS_2