Pewaris Yang Kabur

Pewaris Yang Kabur
¹³⁴. Makan siang romantis bersama Patra


__ADS_3

Tiga puluh menit sebelum jam makan siang.


Hendrik masih sementara mengerjakan berkas-berkas pengalihan sahamnya ketika ponsel yang sedari tadi diletakkan di samping mejanya tiba-tiba bergetar.


Drrtt..... Drrtt..... Drrtt.....


Pria itu langsung mengambil ponselnya lalu tersenyum ketika melihat nama pemanggil adalah Putraku.


"Halo," katanya pada orang di seberang telepon.


"Ayah!!!" Tiba-tiba seru seorang pria kecil dari seberang telepon membuat Hendrik tertegun mendengar panggilan yang dilontarkan agung padanya.


Akhirnya pria kecil yang sedari dulu tidak pernah memanggilnya sebagai ayah, kini memanggilnya dengan sebutan ayah.


Hendrik merasakan hatinya berdesir dan tangannya memegang erat ponsel yang sedari tadi menempel di daun telinganya.


"Apa yang barusan kau katakan?" Tanya Hendrik masih dengan jantung yang berdegup kencang.


"Aku mau bilang, apakah ayah akan kembali makan siang bersama kami atau tidak?" Tanya Agung dari seberang telepon semakin mengukir Indah senyuman di bibir Hendrik.


Putranya sedang menelponnya untuk menanyakan acara makan siang mereka.

__ADS_1


Tetapi, karena hari itu Hendrik sudah ada janji untuk makan siang bersama Patra, maka pria itu harus membuat kecewa pria kecil di seberang telepon.


"Maafkan ayah, siang ini Ayah sudah ada janji untuk makan siang bersama seorang pelayan, tetapi makan malam nanti ayah janji akan kembali lebih cepat dan memasak untuk kalian." Ucap Hendrik dijawab helaan nafas dari seberang telepon.


"Jangan marah, kalian boleh membuat daftar menu makanan yang akan Ayah masak nanti malam, ayah akan membuat semuanya." Ucap Hendrik.


"Benarkah?? Kalau begitu aku dan ibu akan membuat daftarnya!!" Seru pria kecil dari seberang telepon membuat Hendrik kembali tersenyum.


"Baiklah, segera kirimkan pada ayah setelah kau selesai membuatnya supaya ayah bisa menyuruh seseorang untuk mencari bahan-bahannya." Ucap Hendrik dengan hati berdesir karena dia merasa dirinya sudah menjadi seorang ayah yang sempurna.


"Baik!!" Jawab Agung dari seberang telepon lalu mereka mengakhiri panggilan telepon itu.


Dirga yang sedari tadi berdiri di dekat Hendrik hanya bisa tercengang melihat Hendrik yang pertama kalinya menerima sebuah telepon dan tersenyum sampai beberapa kali karena pembicaraannya dengan orang di seberang telepon.


"Baiklah, biarkan aku menyelesaikan satu berkas terakhir ini." Ucap Hendrik kembali menunduk menyelesaikan berkas terakhir yang ada di tangannya lalu menorehkan tanda tangannya pada berkas itu.


Setelahnya, pria itu berdiri merapikan jasnya lalu berangkat bersama Dirga ke sebuah restoran yang telah diatur sebagai tempat pertemuannya dengan Patra.


Begitu tiba di sana, Hendrik mengerutkan keningnya menatap Dirga saat melihat restoran itu begitu sepi.


Yang ada dipikiran pria itu bahwa ini adalah sebuah kencan yang tidak dapat diganggu oleh orang lain.

__ADS_1


"Maaf Tuan, ini hanya untuk berjaga-jaga." Ucap Dirga yang bisa membaca pikiran Hendrik.


Padahal, dia mengatur segalanya seperti itu karena permintaan Patra, hari ini perempuan itu begitu sibuk, tetapi karena Dirga berbohong tentang makan siang yang romantis maka perempuan itu akhirnya setuju untuk meluangkan waktu makan siangnya bersama Hendrik.


"Lain kali jangan membuat pengaturan seperti ini. Justru Ini menambah kecurigaan orang-orang." Ucap Hendrik.


"Baik Tuan," jawab Dirga.


Setelah berbicara dengan Dirga, Hendrik lalu melangkahkan kakinya memasuki restoran lalu dia dituntun oleh seorang pelayan menuju sebuah ruangan di lantai 2.


Memasuki lantai dua, ruangan itu dibuat remang-remang dan lampu-lampu yang ada di dalamnya dimatikan diganti menggunakan lilin listrik.


Suasana yang romantis menghiasi tempat itu dengan seorang perempuan yang duduk di sebuah kursi kosong dengan gaun merah membalut tubuh perempuan itu.


"Hei,, sayang," Patra menyapa Hendrik sembari melemparkan senyum terbaiknya.


"Hm,," Hendrik menjawab seadanya sembari melangkahkan kakinya mendekati perempuan itu.


Begitu duduk, Hendrik terkejut mendapat kilatan kamera dari sebuah sudut.


"Apa itu?" Hendrik bertanya sambil melihat ke arah kameraman yang di sewa Patra.

__ADS_1


"Ah,, Aku hanya ingin mengabadikan momen kebersamaan kita seperti ini." Ucap Patra melemparkan senyumnya.


Dia akan menggunakan foto itu untuk mempublikasikan hubungan mereka secara resmi di akun Instagramnya!


__ADS_2