
Setelah menghubungi Hendrik, X langsung menyebar seluruh orang ke seluruh penjuru ibukota untuk mencari keberadaan Alana dan Hendrik.
Sementara di rumah sakit, Hendrik memasuki sebuah ruangan di mana Romi telah selesai dioperasi dan peluru yang menancap di dada kirinya telah diangkat.
Dia melihat pria yang terbaring lemah di tempat tidur masih belum sadarkan diri, sementara dokter yang berada di sampingnya segera berkata, "Ini sebuah keajaiban karena dia masih bisa bertahan."
Handrik mengangguk, "Dia akan bertahan," kata Hendrik terus memandangi Romi sebelum keluar dari ruangan itu dan melihat Dirga berdiri di depan pintu bersama Glen.
"Bagaimana kondisi Tuan Romi?" Glen langsung bertanya saat melihat Hendrik.
"Dia masih koma, kita hanya perlu menunggu." Ucap Hendrik lalu memperhatikan sekeliling lantai itu, "Apa kau sudah mengatur keamanan untuk berjaga?" Tanya pada Glen.
"Ya, seluruh lantai ini telah dikosongkan, kami juga meletakkan para pengawal di sekitar rumah sakit untuk berjaga-jaga. Seluruh dokter yang menangani Tuan Romi juga diisolasi di lantai ini jadi tidak ada pergerakan keluar masuk." Ucap Glen.
"Bagus,, Lalu bagaimana dengan kebutuhan-kebutuhan dari luar? Siapa yang menanganinya?" Tanya Hendrik yang harus memastikan bahwa orang-orang yang berada di dekat Romi adalah orang-orang yang benar-benar bisa dipercaya.
"Semuanya adalah orang-orang kepercayaan, segala bentuk makanan dan obat-obatan yang diberikan pada Tuan Romi juga akan diperiksa oleh tim kesehatan yang bertugas di sini." Ucap Glen yang mengerti kekhawatiran Hendrik.
__ADS_1
Romi adalah orang yang besar dan orang yang penting dan saat ini nyawanya sedang diburu Jadi mereka harus ekstra hati-hati dalam menjaga pria itu.
Sedikit saja kesalahan bisa berakibat pada hilangnya nyawa Romi.
"Baiklah, kalau bisa perketat lagi penjagaannya." Ucap Hendrik sembari melangkahkan kakinya ke arah lift untuk meninggalkan tempat itu.
Dirga mengikuti Hendrik di belakang sembari berkata, "Tuan, Saya rasa orang-orang dari Black tidak hanya mengincar Romi saja. Jadi saya rasa Tuan perlu menggunakan anti rompi anti peluru untuk berjaga-jaga." Ucap Dirga.
Hendrik berdiri dalam lift mendengarkan ucapan Dirga, "Hm baiklah,,, lalu siapkan tempat tinggal sementara untuk Alana dan Agung."
Dua orang itu meninggalkan rumah Sakit menaiki sebuah mobil yang akan mengantar mereka ke hotel di mana Alana dan Agung ditinggalkan.
Namun Di tengah perjalanan mobil mereka tiba-tiba diikuti oleh sebuah mobil yang sangat mencurigakan.
Dirga yang mengamati situasi langsung menoleh pada Hendrik, "Tuan mobil belakang mengikuti kita." Ucap Dirga.
Hendrik yang sedang duduk tenang langsung melihat mobil di belakang lewat spion, "Alihkan mereka."
__ADS_1
"Baik Tuan," jawab Dirga lalu sampai sopir yang mengendarai mobil segera menancap gas melambung beberapa mobil yang ada di depan mereka.
Kebetulan saat itu kondisi jalanan lumayan padat jadi mereka dengan cepat menyelip di antara mobil-mobil yang ada di jalan raya.
"Tuan, Haruskah kita tetap kembali ke hotel atau tidak?" Dirga bertanya sembari berpegangan melihat ke arah belakang di mana mobil yang mengejar mereka sudah terjebak oleh mobil-mobil lain.
Hendrik memperhatikan mobil-mobil yang terus dilewati oleh mobil mereka, meski mobil-mobil Itu tampak biasa, tetapi belum tentu mobil yang mereka mau lewati adalah mobil biasa.
"Tidak, atur seseorang untuk memindahkan mereka secara diam-diam. Aku yakin selain satu mobil yang tertinggal di belakang mungkin masih ada beberapa mobil lain yang menyamar di antara mobil-mobil yang ada di jalanan. Jika kita kembali ke hotel mereka akan mengikuti kita." Ucap Hendrik.
"Saya mengerti Tuan," Jawab Dirga.
Akhirnya mereka tak punya pilihan lain selain terus melajukan mobil berputar di kota.
Sementara mobil mereka melaju, Dirga menghubungi seseorang.
"Atur sebuah mobil untuk menjemput tuan di cafe xx." Katanya pada orang di seberang telepon lalu mengakhiri panggilan tersebut.
__ADS_1