
Masih pagi-pagi sekali ketika Agung sudah selesai mandi dan berganti pakaian.
Seperti biasa, pria kecil itu berlari meninggalkan kamarnya dan pergi ke kamar kakaknya untuk membangunkan Romi.
"Kakek...!! Sudah pagi!!!" Teriaknya berlari ke tempat tidur dan melompat ke tempat tidur mengguncang-guncang tubuh kakeknya.
"Mmhh..!!" Romi mengerjapkan matanya dan melihat jam di atas nakas.
"Kenapa cucuku cepat sekali bangun? Ini baru pukul 6." Ucap Romi menatap cucunya yang sudah selesai mandi, rambut pria kecil itu terlihat masih basah karena tidak di keringkan.
"Kakek,, ini hari yang bagus, jadi Kakek harus cepat-cepat bangun dan bersiap ke kantor supaya rezeki kakek tidak dipatok ayam!!" Kata Agung lalu pria kecil itu berbalik meninggalkan kakeknya.
Agung berjalan ke kamar sebelah dan mengetuk pintu kamar Alana.
"Ibu,,?" Ucapnya.
Setelah beberapa kali mengetuk pintu kamar itu, tidak ada yang menjawab dari dalam jadi pria kecil itu menghela nafas dan kembali ke kamarnya.
"Huh! Ibu tidak pernah bangun pagi kecuali dia memiliki kuliah pagi." gerutu Agung berjalan ke nakas samping tempat tidur dan mengeluarkan foto dalam laci.
__ADS_1
"Ayah,, doakan aku supaya hari ini aku berhasil membujuk Ibu agar mau keluar dari Villa untuk mencari ayah!!" Seru Agung sembari tersenyum senang menciumnya foto milik ayahnya.
Tok tok tok...
Tiba-tiba suara pintu diketuk membuat Agung langsung berlari membuka pintu.
"Kakek?" Agung menyapa Romi.
Romi memperhatikan cucunya yang sedang memegangi foto Hendrik, pria itu menghela nafas lalu membawa Agung ke gendongannya.
"Kalau kau terus memegangi foto itu nanti fotonya bisa rusak." Ucap Romi melihat bagaimana pegangan cucunya pada foto Hendrik sangatlah erat seolah-olah foto itu akan terbang kalau dia memegangnya tanpa kekuatan.
Dia sering mencium foto itu, apakah nanti fotonya akan rusak?
"Kakek hanya bercanda." Ucap Romi setelah melihat wajah khawatir cucunya.
"Huh! Kakek nakal!!" Seru Agung mendekatkan foto itu ke dadanya dan tersenyum sangat senang.
Dia sudah berumur 4 tahun dan akhirnya sekarang dia punya kesempatan untuk melihat wajah ayahnya meski hanya pada selembar kertas. Meski begitu, dia tetap senang dan jantungnya selalu berdegup kencang melihat foto Hendrik.
__ADS_1
"Ayo sarapan." Kata Romi mendudukkan Agung pada bangku meja makan.
"Kakek, Kalau Ibu mau pergi keluar Villa Apakah kakek akan mengijinkannya?" Tiba-tiba tanya Agung disela-sela sarapan mereka.
Pertanyaan itu langsung menghentikan gerakan tangan Romi lalu menatap wajah cucunya.
"Kalau Ibu mau keluar villa itu akan sangat baik. Tapi Ibumu tidak suka keramaian, dia senang berada di tempat yang sepi." Ucap Romi.
Sudah berkali-kali dia mengajak Alana untuk keluar dari villa, paling tidak jalan-jalan untuk sebentar saja, tetapi perempuan itu bahkan tidak suka melihat para pelayan berkeliaran di sekitarnya.
Jangankan para pelayan, putranya sendiri selalu ia keluhkan karena pria kecil itu terus berada di sekitarnya, jadi mana mungkin Alana mau keluar dari villa?
"Kalau begitu, biarkan aku membujuk ibu ya?!" Tanya Agung.
"Baiklah." Jawab Romi sembari tersenyum, meski dia tahu kalau cucunya akan kecewa sebab ibunya tidak akan pernah mau keluar dari villa, tapi biarkan Agung mencobanya.
Demi kenyamanan putrinya, dia sudah membuat sebuah program yang disambungkan dengan komputer dan ponsel Alana hingga perempuan itu hanya bisa melihat postingan di 5 tahun terakhir.
Alana tidak pernah mengetahui tren gaya sekarang, atau tahun berapa sekarang, pernah sekali dia memberitahu Alana tetapi perempuan itu malah jatuh pingsan sebab tidak mampu menerima kenyataan.
__ADS_1
"Kalau begitu aku akan membujuk ibu!!" Agung berseru dengan sangat senang karena mendapat persetujuan dari kakeknya.