
Satu jam sebelum peretasan.
Hans duduk bersantai setelah ia selesai berbicara dengan Aristo.
Dia baru saja mendapat pelaporan bahwa perusahaan luar negeri menghasilkan keuntungan 5 kali lipat dari bulan sebelumnya setelah mereka menggunakan sebuah sistem operasi terbaru.
Pria itu memegangi gelas anggurnya merasakan aliran uang yang terus mengalir deras ke rekeningnya.
Namun tiba-tiba, Aristo kembali memasuki ruangannya dengan sebuah berkas yang ada di tangannya.
"Apalagi itu? Apakah itu berkas pelaporan dari perusahaan dalam negeri?" Hans bertanya dengan antusias sebab dia tahu setelah Hendrik kembali ke dalam negeri keuntungan perusahaan dalam negeri juga sangat meningkat.
Sepertinya putranya itu benar-benar bisa diandalkan untuk membangun perusahaan dalam negeri semakin bercahaya seperti perusahaan luar negeri.
"Tidak Tuan,, ini adalah berkas yang dikirim tanpa nama, berkas ini,," Aristo sedikit enggan untuk mengatakannya pada Hans.
__ADS_1
"Berikan!" Ucap Hans meletakkan gelas anggurnya lalu pria itu mengulurkan tangannya mengambil berkas dari tangan Aristo.
Membuka berkas di tangannya dan membacanya, wajah Hans langsung tampak tidak tenang saat ia melihat isi dari berkas tersebut.
Buk!!
Suara berkas yang dilemparkan ke lantai membuat Aristo berdiri dengan tegang di tempatnya.
"Sialan!! Jadi selama ini aku memelihara seorang penghianat disisiku?!! Percuma saja ku khawatirkan dia saat dibunuh oleh Putraku sendiri,,, ternyata!! Sialan!!!" Hans menggertakkan giginya dengan penuh kemarahan.
Dia menyelamatkan Dani ketika pria itu masih remaja dan dipukuli oleh teman-temannya lalu dia melati pria itu menjadi orang yang hebat untuk mengelola perusahaan.
Tapi ternyata, pria itu malah menghianatinya dan bahkan berencana merebut Black dari tangannya!!!
Sangat mengesalkan!!!
__ADS_1
Melihat Hans yang begitu marah dan tidak terima akan kenyataan, Aristo kemudian berkata, "Mohon Tuan jangan marah, saat ini kesehatan Tuan sedang tidak terlalu baik jadi Tuan tidak boleh terlalu emosi."
Hans mendengarkan perkataan Aristo lalu menatap pria itu, "Apa yang kau tahu? Aku membesarkan pria itu seperti membesarkan Putraku sendiri! Bahkan dengan Putraku, aku tidak terlalu memperdulikannya karena dia terus mempermalukanku! Tapi pria itu!!! Dasar tidak tahu malu!!! Untunglah dia sudah pergi menemui Raja neraka!!!" Geram Hans penuh kemarahan.
Aristo melihat Hans begitu marah jadi pria itu diam-diam menghubungi dokter supaya dokter segera datang untuk memeriksa kesehatannya setelah pria itu menggunakan cukup banyak tenaga untuk meledakkan emosinya.
Setelah 30 menit Hans terdiam, pria itu kembali menikmati anggurnya lalu seorang dokter datang menemuinya.
"Tuan, waktunya untuk melakukan pemeriksaan rutin," ucap Aristo pada Hans.
"Sekarang?? Bukankah jadwalnya masih 2 hari lagi?" Tanya Hans sembari menatap kearah dokter yang sudah berdiri di samping Aristo.
"Pemeriksaan kesehatan nya dipercepat, lagipula tidak ada salahnya kalau berjaga-jaga dan melakukannya lebih cepat." Ucap Aristo.
Dia terlalu cemas pada pria itu sebab baru saja pria itu sangat senang lalu menjadi emosi, perubahan yang tiba-tiba ini bisa sangat mempengaruhi kesehatan Hans.
__ADS_1
Memang tidak langsung dirasakan Hans, tapi tidak ada yang tahu untuk beberapa menit kedepan.
Kesehatan pria itu seperti bom waktu yang bisa meledak kapan saja, semuanya tergantung dari suasana hati pria itu.