Pewaris Yang Kabur

Pewaris Yang Kabur
¹⁰¹. Merasa sakit untuk Alana dan Agung


__ADS_3

"Ya. Permintaan saya adalah supaya Tuan membawa pergi putra Tuan, saya sudah lelah mendengarnya memanggil saya 'Ibu,'!" Ucap Alana.


Hendrik yang mendengar ucapan Alana langsung menoleh pada putranya.


Bagaimana bisa Alana berbicara seperti itu pada putranya sendiri?


Dan Agung, bagaimana perasaan anak kecil itu?


"Tapi aku tidak mau pergi, aku mau tetap di sini bersama ibu!!" Kata Agung dengan wajah panik nya melihat kearah Alana.


Apakah malam ini adalah malam terakhir dia melihat ibunya karena sekarang Ibunya akan menyerahkannya pada Hendrik?


Dia tidak mau!!!!


"Sudah kubilang berapa kali kalau aku bukanlah ibumu!! Sekarang Ayahmu sudah datang, cepat tanyakan pada dia siapa ibumu yang sebenarnya!!" Ucap Alana memandang kesal pada Agung.


"Tapi,," Agung meneteskan air matanya sembari melihat kearah Hendrik.

__ADS_1


Hatinya terasa berat hingga pria kecil itu tak mampu menahan emosinya lalu turun dari pangkuan Romi.


"Pokoknya aku tidak mau meninggalkan rumah ini, titik!!" Teriak Agung lalu pria kecil itu berlari ke lantai atas meninggalkan 3 orang yang masih duduk di depan TV.


Melihat kepergian Agung, Alana berdecak kesal lalu menatap Hendrik "Tuan lihat sendiri kan Putra Tuan itu, sangat nakal! Saya sampai kewalahan menghadapinya setiap hari. Tolong segera bawa dia pergi dari rumah ini!!" Ucap Alana dengan suara gemetaran sebab dia terlalu takut berbicara dengan Hendrik.


Perempuan itu lalu berdiri dan menatap ayahnya "Aku ke atas dulu," ucapnya lalu melangkah untuk meninggalkan Hendrik dan Romi.


Tetapi dia belum pergi jauh ketika suara Hendrik tiba-tiba menghentikannya "Sepertinya Putra Saya sangat menyukai Nona Alana. Jadi saya tidak tega untuk membawanya pergi sekarang. Perlahan-lahan saya akan membujuknya supaya dia mau pergi bersama saya."


Ucapan Hendrik yang sama sekali tidak diinginkan Alana langsung membuat perempuan itu berbalik menatap Hendrik dengan marah.


"Alana,, jaga sikapmu," Romi berdiri mendekati putrinya saat melihat putrinya tidak bisa mengontrol amarahnya.


Kalau dibiarkan terus, putrinya mungkin akan kembali sakit.


Tetapi Hendrik yang melihat Alana, pria itu tersenyum lalu berdiri menatap Alana "Putraku melakukan itu karena dia ingin mendapat perhatian darimu. Lihatlah bagaimana dia saat ini malah menjauhiku dan tidak mau bersama denganku. Padahal, aku adalah orang tua kandungnya. Dia sangat menyayangimu melebih orang tua kandungnya sendiri." Kata Hendrik.

__ADS_1


Mendengar ucapan Hendrik, diam-diam dalam hatinya Alana merasa bahwa ucapan pria itu memang ada benarnya.


Bagaimana bisa seseorang lebih memilih tinggal dirumah orang asing ketimbang tinggal bersama orang tuanya sendiri?


Tapi ketika dia kembali melihat Hendrik, perasaan aneh kembali menyelimutinya lalu perempuan itu berbalik menatap ayahnya.


"Ayah,, aku tidak suka berbicara dengan orang itu, aku akan pergi ke kamar." Ucapnya lalu bergegas pergi ke lantai 2 tanpa menunggu ayahnya memberikan jawaban.


Setelah Alana menghilang, 2 pria itu kembali duduk di sofa.


"Saya tidak tahu kalau kondisinya seperti ini, saya jadi cemas pada putra saya," ucap Hendrik menghela nafas.


Putranya yang berumur 4 tahun ternyata menghadapi kesulitan untuk berinteraksi dengan ibunya sendiri.


Bahkan untuk memanggil ibunya dengan sebutan Ibu saja, dia selalu dimarahi.


"Agung adalah anak yang kuat, seandainya anak lain yang berada di posisi Agung, mungkin sudah lama anak itu tertekan." Ucap Romi menghela nafas.

__ADS_1


"Dokter akan tiba besok, semoga terapi darinya bisa menyembuhkan Alana." Kata Hendrik menghela nafas.


Dia merasa sakit untuk Alana dan juga putranya, keduanya menanggung beban yang berat akibat peristiwa 5 tahun yang lalu.


__ADS_2