Pewaris Yang Kabur

Pewaris Yang Kabur
⁶³. Selamat pagi Alana


__ADS_3

"Perjanjian itu, bagaimana dengan warisanmu? Kapan kau akan menyerahkan semuanya padaku dan menyingkirkan ayahmu?" Tanya Romi tanpa berbasa-basi.


"Warisan itu,, ayahku belum membahasnya. Tapi seharusnya Tuan tidak perlu memikirkannya lagi sebab tanda tangan saya sudah tuan miliki, Jadi kapan pun warisan itu jatuh ke tangan saya, Tuan langsung memiliki kuasa untuk memindahkan semuanya atas nama Tuan." Ucap Hendrik.


Romi terdiam mendengarkan ucapan Hendrik, memang benar begitu, tetapi yang ia khawatirkan jika suatu saat Hans berubah pikiran dan malah mencari orang lain untuk melanjutkan bisnisnya.


Kalau sampai itu terjadi maka sia-sia semua tanda tangan Hendrik yang ia miliki, tidak ada gunanya tanda tangan itu ketika Hendrik pada akhirnya tidak mendapat sepeserpun warisan dari Hans.


"Aku mengerti, kalau begitu pembicaraan ini berakhir di sini." Kata Romi yang merasa tidak perlu mengatakan apapun tentang Alana pada pria di depannya.


"Tunggu sebentar, Tuan sudah berjanji setelah pembahasan kita selesai Tuan akan memberitahu saya kabar Alana." Ucap Hendrik.


Romi yang berdiri dan hendak meninggalkan ruangan kini berhenti di tempatnya dan berbalik menatap Hendrik.


"Dia baik-baik saja." Ucapnya.

__ADS_1


"Kalau begitu bolehkah saya bertemu dengannya?" Tanya Hendrik sembari menahan perasaan rindunya pada Alana.


Hendrik tersenyum "Kau tidak punya hak untuk bertemu dengannya. Dia juga tidak pernah mencarimu setelah 5 tahun ini." Ucap Romi membuat Hendrik mengatur perak giginya dan menahan nafasnya.


Sebegitu benci nya Alana padanya hingga perempuan itu tidak pernah menanyakannya?


"Kalau begitu bisakah saya sekedar melihatnya saja? Saya sangat ingin melihatnya meskipun hanya dari jauh." Kata Hendrik dengan sorot mata penuh kerinduan pada Alana.


Meski Romi bisa melihat perasaan tulus pria didepannya, tetapi pria itu masih memiliki hati yang dingin ketika dia mengingat bagaimana Hendrik dan ayahnya yang badjingan itu telah membuat masa depan putrinya menjadi hancur!


Hendrik yang ditinggalkan sendirian langsung memejamkan matanya dan menghela nafas dengan panjang.


'Jangan memaksa, ini hukuman untukmu karena 5 tahun yang lalu kau sudah berani menyentuhnya, padahal saat itu kau tahu dia berada di bawah pengaruh obat. Mengetahui kabarnya baik-baik saja sudah cukup bagimu Hendrik...' ucap Hendrik dalam hati.


Akhirnya, Hendrik tidak punya pilihan lain selain meninggalkan hotel xx dan kembali ke Villa.

__ADS_1


Pria itu langsung membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur dan memandang foto Alana yang selalu ia simpan di kamarnya.


"Akan ku usahakan untuk menemuimu lagi." Ucap Hendrik lalu pria itu berusaha memejamkan matanya agar masuk ke dalam mimpi.


Berharap bisa bertemu Alana dalam mimpi, tetapi seperti biasa mimpinya hanya berisi kegelapan, tidak ada cahaya, tidak ada suara apapun sampai akhirnya dia kembali terbangun.


Mengerjapkan matanya dan menatap jendela yang kini ditembus oleh cahaya matahari, Hendrik kembali meraih foto Alana yang tergeletak di bantal di sebelahnya.


"Selamat pagi Alana," katanya berusaha tersenyum pada perempuan di foto yang ia pegang lalu mendaratkan sebuah ciuman kecil pada kaca foto itu.


"Aku harap hari ini kau baik-baik saja. Aku merindukanmu," katanya.


Hendrik memandangi foto itu selama beberapa menit sebelum meninggalkan tempat tidurnya dan memulai rutinitas paginya.


__ADS_1


__ADS_2