
Akhirnya, seperti yang dikatakan Bara, setelah hampir satu jam tertidur, Alana akhirnya mengerjapkan matanya membuat Hendrik dan Agung yang sedari tadi menunggu perempuan itu langsung menatap Alana dengan jantung berdegup kencang.
"Haruskah memanggil dokter?" Agung bertanya pada Hendrik.
"Biar Ayah yang melakukannya," kata Hendrik segera berjalan keluar kamar lalu memanggil Bara dari kamar pria itu.
Ketika dia dan Bara kembali ke kamar, didapatinya Alana sudah duduk di atas ranjang sembari memandang Agung dengan tatapan bingung.
"Apa katamu tadi?" Tanya Alana.
"Aku bilang apakah ibu baik-baik saja?" Ucap Agung menatap Alana.
Perempuan di depannya terlihat berbeda, tetapi Agung tidak bisa menebak apa yang berbeda dengan ibunya.
"Ibu? Siapa ibumu?" Tanya Alana sambil mengerutkan keningnya.
"Kau sudah bangun?" Ucap Hendrik mendekati perempuan itu membuat Alana begitu terkejut melihat Hendri.
__ADS_1
"Hendrik!!" Alana Langsung melompat dari tempat tidur lalu memeluk Hendrik dengan erat.
Pergerakan Alana yang begitu cepat membuat semua orang terpatung di tempatnya, bahkan Romi yang baru saja memasuki kamar juga menghentikan langkahnya menatap Alana yang kini memeluk Hendrik dengan erat.
"Ini kau!!" Ucap Alana mempererat pelukan mereka lalu menatap Hendrik dengan seksama.
"Kenapa kau terlihat berbeda?" Alana bertanya-tanya sembari memperhatikan bagian mana pada Hendrik yang terlihat berbeda.
"Kau mengenaliku??" Tanya Hendrik.
"Hah, tentu saja!! Ayah bilang kau ke luar negeri?!! Aku sangat takut kehilanganmu!!!" Kata Alana kembali memeluk Hendrik dengan erat.
Dia ingat kalau pria itu berjanji padanya dan berpamitan padanya untuk pergi ke luar negeri.
Saat itu dia sangat ingin bertemu Hendrik lalu mengatakan padanya bahwa dia tidak keberatan kalau pria itu tetap tinggal di sisi-nya,, tapi ternyata Hendrik telah pergi ke luar negeri sebelum dia sempat mengatakannya.
"Ya,, aku di sini,, maaf,," ucap Hendrik kini membalas pelukan Alana.
__ADS_1
"Malam itu,, maaf karena aku memarahimu, aku lupa,, aku lupa kalau aku lah yang mengijinkanmu menyentuhku. Padahal,, kau memiliki niat yang sangat baik untukku, tapi aku malah menyalahkan mu dan memarahimu. Untunglah sekarang kau benar-benar sudah di sini." Ucap Alana setengah terisak diperlukan Hendrik.
Romi mendengarkan percakapan Hendrik dan Alana lalu pria itu kembali teringat akan adegan di rumah sakit ketika dia kembali menemui Hendrik.
Saat itu Alana memintanya untuk mempertemukannya dengan Hendrik, Alana sangat memohon padanya tetapi dia menghalangi putrinya sebab saat itu dia masih terlalu membenci Hendrik.
'Seandainya saat itu aku langsung mempertemukan Alana dan Hendrik, mungkinkah putriku tidak akan menderita selama 5 tahun terakhir ini?' Romi merasa sesak memikirkan keputusannya di 5 tahun yang lalu.
Keputusan yang dia kira merupakan keputusan yang paling tepat untuk kebaikan putrinya, ternyata merupakan keputusan yang malah membuat putrinya menderita selama 5 tahun terakhir!!
Tak tahan melihat adegan mengharukan di kamar itu, Romi akhirnya berbalik meninggalkan kamar.
"Kakek?!" Agung memanggil kakeknya, tetapi pintu kamar telah tertutup.
Saat itulah Alana kembali menyadari seorang pria kecil yang juga berada di ruangan itu.
Alana melepaskan pelukannya pada Hendrik lalu menatap Agung dengan seksama.
__ADS_1
"Pria kecil ini??" Alana yang perhatikan wajah Agung lalu wajah Hendrik silih berganti.
"Anakmu?!!" Alana merasakan tubuhnya melemas menyadari saat ini Hendrik telah memiliki seorang Putra kecil yang sangat mirip dengan pria itu.