
Satu minggu telah berlalu, dan Alana sudah menunggu Sejak satu minggu itu di depan kampus namun Hendrik tidak pernah datang ke kampus.
Perempuan itu bertanya-tanya tentang menghilangnya Hendrik yang tiba-tiba.
"Haruskah aku ke rumahnya lagi dan mengeceknya? Tapi,, kenapa aku harus melakukannya? Dia hanya kacung! Tidak lebih...!!!" Alana begitu gelisah sudah 1 minggu dia gelisah karena tidak bertemu dengan Hendrik.
Namun, Alana tidak mau mengakui perasaannya, dia selalu berpikir dia hanya merasa kuatir kepada Hendrik sama seperti ayahnya yang mengkhawatirkan pria culun itu.
Alana masih berkutat dengan pikirannya sendiri saat seorang pria berteriak ke arahnya.
"Alana!" Arga menghampirinya.
"Hei,," ucap Alana tersenyum menyambut kedatangan pria itu.
"Aku datang ke rumahmu tapi ternyata kau sudah berangkat lebih dulu. Maaf aku terlambat menjemputmu karena kemarin malam ada acara pertemuan yang tidak bisa dihindarkan, aku pulang subuh dan kesiangan." Ucap Arga yang terlihat merasa bersalah pada Alana.
"Tidak apa, sebaiknya kau cepat pergi bekerja atau kau mungkin terlambat." Ucap Alana.
"Ya,, tapi sebelum itu aku ingin memberikan ini untukmu sebagai permintaan maafku." Arga mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya.
"Ini untukku?" Tanya Alana.
"Ya, kau boleh membukanya setelah aku pergi." Ucap Arga lalu pria itu segera berbalik ke mobilnya melambaikan tangannya pada alanna lalu memasuki mobilnya.
__ADS_1
Alana memperhatikan mobil yang berjalan pergi lalu tatapannya kembali melihat kotak kecil di tangannya.
"Hah,, Apakah pria itu benar-benar berpikir untuk menikah denganku? Sangat menyebalkan!!" Ucap Alana melempar kota kecil itu ke tanah dan kembali berdecak kesal.
"Si kacung sialan itu! Berani-beraninya dia tidak datang menemuiku selama 7 hari berturut-turut!" Geram Alana segera meninggalkan tempat itu dan pergi ke salon milik temannya.
"Alana!" Emily berseru senang saat melihat temannya yang kaya raya itu kembali lagi ke salonnya.
"Aku butuh bantuanmu lagi." Kata Alana tanpa berbasa-basi.
"Aahh,, soal penyamaran itu? Tapi motor yang kau Kendarai tempo hari sudah dibawa oleh kakakku jadi--"
"Tidak usah pikirkan itu, aku bisa menggunakan taksi." Ucap Alana lalu kedua perempuan itu segera memasuki ruangan khusus.
Alana dengan cepat disulap menjadi seorang pria.
Mendengar ucapan Emily, Alana mengatup erat giginya dan menatap dirinya di cermin.
'Apa yang kupikirkan?! Apakah aku merindukan kacung itu hingga melakukan hal gila seperti ini?!' Alana menggerutu pada dirinya sendiri sebab dia benar-benar tidak mengerti dengan perasaannya.
Mungkinkah hanya karena rasa kasihan dan dia melakukannya sampai sejauh ini?!
"Hei, kenapa kau malah melamun dan tidak menjawab pertanyaanku?!" Ucapan Emily menyadarkan Alana dari lamunannya lalu perempuan itu tersenyum kikuk.
__ADS_1
"Kau akan bingung kalau aku menceritakannya padamu karena aku sendiri juga tidak memahaminya. Seorang temanku yang selalu dibully di kampus tiba-tiba menghilang selama 7 hari aku hendak mencarinya." Ucap Alana yang menjelaskan dengan singkat.
"Apa?!" Emily sangat terkejut "Sejak kapan Alana si perempuan sombong ini tiba-tiba peduli pada orang lain?!" Ucap Emily tak percaya.
"Aku tidak perduli. Ini hanya karena prihatin saja!" Ucap Alana menyangkal.
"Jangan bicara omong kosong! Apakah seorang pria?!" Tanya Emily dengan sorot mata meniti Alana untuk melihat perubahan wajah Alana.
"Hmmm,, ya." Jawab Alana dengan sedikit menghela nafas.
"Astaga...!! Kau jatuh cinta!!" Emily sangat terkejut sampai suaranya sangat besar karena sebuah fakta baru yang sangat mencengangkan nya.
Alana yang tidak pernah menyukai seorang pria kini ditaklukan oleh seorang pria culun yang menjadi korban pembullyan di kampus!
"Hei.. kapan aku bilang aku jatuh cinta?!" Alana langsung protes pada Emily yang menyimpulkan tanpa bukti yang konkrit!
"Kau tahu kalau dalam hal percintaan aku ini jelas lebih baik darimu! Sekarang dirimu malah tidak mengakui perasaanmu sendiri, lama-lama kau akan menyesal!" Ucap Emily membuat Alana terdiam.
Menyesal? Apakah sekarang dia sudah menyesal?
Alana kembali ingat ketika dia berpamitan pada Hendrik untuk pergi berkencan.
Saat itu,, Alana menggertakkan giginya dan berdiri.
__ADS_1
"Aku pergi." Ucap Alana berlalu meninggalkan Emily yang kini tersenyum dibalik punggungnya.