Pewaris Yang Kabur

Pewaris Yang Kabur
¹⁴³. Meminta maaf


__ADS_3

Tut Tut Tut...


Alana memandangi ponsel yang ada di tangan Hendrik.


Jadi foto-foto itu sebenarnya milik ayahnya?


Belum selesai dari kebingungannya, dia merasakan Hendrik menariknya ke pelukan pria itu dan menahan dagu Alana agar mereka bertatapan.


"Bukankah sudah ku bilang? Mengapa kau tidak bisa mempercayaiku? Apakah aku benar-benar tidak berarti di hatimu hingga kau tidak bisa mempercayaiku?" Tanya Hendrik yang kini balas menunjukkan wajah sedihnya pada Alana.


"Itu,, maaf, aku hanya--"


"Sebelumnya aku menyuruhmu dan Agung tetap berada di balkon, tapi sepertinya kalian tidak mempercayaiku dan pergi mengintipku,, dan sekarang foto-foto itu juga,, sepertinya aku memang tidak berarti untukmu hingga kau tidak bisa menaruh kepercayaan padaku." Ucap Hendrick dengan suara yang mengandung kesedihan lalu pria itu melepaskan pelukan mereka dan berbalik meninggalkan Alana kedalam ruang kerjanya.


Alana terpaku di tempatnya melihat perubahan situasi yang terjadi sangat cepat.


Setelah beberapa detik perempuan itu berjalan ke pintu dan mengetuk-ngetuk pintu.

__ADS_1


Tok tok tok...


"Hendrik,, maafkan aku,, aku benar-benar tidak berniat seperti itu,," ucap Alana sembari mengusap air mata yang membanjiri pipinya.


"Hendrik??" Alana kembali berkata setelah beberapa menit dan tidak ada suara yang menjawab dari dalam.


Padahal di dalam ruangan itu, Hendrik berdiri tepat di ambang pintu memandangi pintu yang menghalanginya dengan Alana.


'Aku harus melakukan ini, karena di masa depan mungkin ada banyak hal yang bisa membuat Alana meragukanku. Kalau aku tidak tegas padanya agar dia mempercayai kau sepenuhnya, maka mungkin saja kejadian seperti ini akan kembali terulang.' pikir Hendrik yang merasa bahwa Alana terlalu cepat memutuskan sesuatu.


Jika baru seperti ini saja sudah membuat Allah hendak meninggalkannya, maka bagaimana ketika perempuan itu salah paham tentang perjodohan nya dengan perempuan di luar sana?


Hendrik masih terdiam beberapa menit sampai terdengar Alana sudah agak sesak nafas lalu pria itu memutar handle pintu dan melihat Alana berdiri tertunduk di depannya.


"Hendrik,," Alana langsung mengangkat wajahnya lalu melemparkan dirinya memeluk pria itu.


"Maaf,, seharusnya aku mempercayaimu.. maaf,, maaf,," kata Alana terus terisak hingga air matanya menodai pakaian yang dikenakan oleh Hendrik.

__ADS_1


Hendrik menghela nafas lalu balas memeluk Alana dengan erat sembari mendaratkan beberapa ciuman di puncak kepala perempuan itu.


"Aku juga minta maaf,, aku juga salah,," kata Hendrik dengan suara pelan sambil menggosok-gosokkan hidungnya di rambut harum milik Alana.


"Aku janji,, di masa depan aku tidak akan pernah meragukanmu lagi, aku akan sepenuhnya mempercayaimu." Kata Alana yang masih belum bisa mengatur nafasnya dengan baik.


Tadinya dia sangat takut kalau pria itu akhirnya menjadi sangat kecewa karena dia sudah tidak mempercayai Hendrik.


Untunglah kini Hendrik mau mendengarkannya.


"Kau harus percaya padaku,, bahkan di masa depan jika ada sesuatu yang mengganggumu, kau tidak boleh mempercayai siapapun selain aku. Kau mengerti?" Tanya Hendrik.


"Ya,, aku tahu,, aku tahu,," jawab Alana.


Mendengar jawaban Alana yang masih sesegukan, Hendrik kemudian mengulurkan tangannya membawa dua kaki perempuan itu agar melingkar dipinggangnya lalu mereka kembali ke kamar.


"Jangan menangis lagi,, ada Agung yang tidur di sini," kata Hendrik sembari duduk di pinggir ranjang tanpa melepaskan Alana dari gendongannya.

__ADS_1


"Maaf,," akhirnya Alana berani mengangkat wajahnya menatap Hendrik.


"Iya, sudah kumaafkan,, lihat wajahmu jadi berantakan seperti ini." Hendrik memegang kepala perempuan itu lalu mencium sisa-sisa air mata Alana sampai bersih.


__ADS_2