
Akhirnya, mereka menunggu selama 2 jam lagi sampai akhirnya perempuan yang sedari tadi terbaring di tempat tidur kini mengerjakan matanya.
Bara memperhatikan Alana lalu menatap 3 pria yang juga cemas melihat Alana.
"Keluarlah," perintahnya pada ketiga pria berbeda usia itu.
"Apa maksudmu?" Romi bertanya dengan tatapan cemasnya sebab dia benar-benar tidak bisa meninggalkan putrinya dengan seorang pria asing dalam satu ruangan yang tertutup.
"Waktunya tidak banyak, keluar!" Suara Bara dipenuhi penekanan hingga membuat Hendrik langsung menarik Agung dari tempat tidur.
"Tolong," kata Hendrik pada Romi sembari berjalan keluar kamar menggendong Agung yang terus melihat pada Alana.
Akhirnya, Romi tak punya pilihan lain Jadi dia segera keluar mengikuti Hendrik dan Agung.
Begitu pintu ditutup, Romi menatap pintu itu dengan cemas, "Bagaimana kalau dia melakukan sesuatu yang tidak pantas pada putriku?"
"Tenanglah, ikuti saya," ucap Hendrik berjalan ke sebuah ruangan di lantai itu.
Hendrik duduk di depan komputernya menyalakan komputernya yang memantau CCTV kamarnya.
Ketiga pria itu kini fokus pada layar di CCTV yang mana Bara masih berdiri menatap perempuan yang terlihat mengerjapkan matanya sembari memegang kepalanya yang terasa sakit.
__ADS_1
"Sudah bangun?" Ucap Bara menatap perempuan yang masih berusaha menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya ruangan.
"Ng!!" Alana mengerutkan keningnya dan dan perlahan dia bisa melihat dengan jelas.
Yang pertama ia lihat adalah tangan Bara yang berada tepat di depannya.
"Lihat jariku," ucap Bara memperhatikan Alana dengan seksama.
Begitu melihat mata Alana terfokus pada jarinya, Bara langsung menjentikan jarinya.
Klik!
Seperti tersihir, Alana memandang kosong ke arah jari Bara lalu perlahan Bara menarik tangannya.
"He,, Hendrik!!!" Tiba-tiba seru Alana lalu perempuan itu langsung duduk memegangi wajah Bara.
"I,, ini kau!!!" Kau kamana saja?" Alana meneteskan air mata bahagia nya lalu memeluk pria itu dengan erat.
"Aku mencarimu kemana-mana!!! Ternyata kau sudah dis ini!!!" Kata Alana dengan isakan bahagia mengeratkan pelukannya pada bara.
Dia merasa sangat senang melihat orang yang selama ini dia cari kini berada di hadapannya.
__ADS_1
Sementara dari ruangan CCTV, 3 pria yang melihat itu berada dalam kekesalan mereka.
"Mengapa ibu memeluk pria lain!!!" Agung sangat marah sampai memukul meja dengan sangat keras.
"Tenanglah,, dia sedang mengobati ibumu," ucap Hendrik.
"Mengobati sambil memeluk!!! Aku saja baru sekali memeluk ibuku, tapi kenapa pria itu mendapat kesempatan yang sama denganku???" Agung benar-benar tidak terima, pria kecil itu meronta ronta ingin turun dari pangkuan Hendrik tetapi Hendrik memegangnya dengan erat.
"Jangan gegabah,, ibumu hanya hanya berhalusinasi," ucap Hendrik.
"Ibu berhalusinasi? Apa itu??" Agung bertanya sembari menatap kesal pada layar komputer.
"Dia melihat Bara seperti melihat wajahku, makanya dia begitu, ini terapi untuk menyembuhkan ibumu," ucap Hendrik menjelaskannya pada Agung sebab Dia sudah pernah melihat Bara melakukan hal tersebut pada salah seorang rekannya yang juga mengalami trauma berat.
Perlahan-lahan pasien akan dituntun mulai dari kenangan paling dasar yang dilupakan oleh pasien hingga akhirnya kenangan yang paling menyakitkan bagi pasien.
Alana baru tahap permulaan.
"Alana sudah pernah melakukan terapi ini, tetapi terapi itu gagal, dia melakukannya tepat ketika dia baru saja melahirkan Agung. Saat dia melahirkan Agung dia masih bisa menerima Agung tetapi setelah terapinya, dia tidak bisa lagi menerima Agung. Dia semakin parah hingga tidak mengingat bahwa dia telah melahirkan,," ucap Romi sembari mengepal kuat tangannya.
Jika terapi yang dilakukan Bara kali ini berakhir gagal maka bisa jadi Alana mungkin tidak akan mengingat apapun lagi.
__ADS_1
"Tenanglah,, kita percayakan pada Bara," ucap Hendrik.