Rivandy Lex : Modern Military

Rivandy Lex : Modern Military
Episode Spesial : Kru dan Pengkhianat


__ADS_3

27 November 2020, jam 15:01, pelajaran akademi telah berakhir, aku, Aurora, dan Evelyn bersiap untuk pulang meninggalkan kelas. Namun, ada seorang gadis yang mengajak kami untuk bermain sesuatu. 


"Rivandy! Ayo main Among Us Simulator! Aku sudah siapkan semua pemain, lho," ajak Akishima sambil merayuku.


Aku harap tidak bermain permainan yang dewasa itu. Akishima sudah mengajakku beberapa kali. Aku sudah memperingatkanya, tapi dia selalu merengek seperti anak kecil. Jadi, aku harus memenuhi permintaan anak kecil itu. 


Aku terpaksa memenuhi permintaannya. Kalau saja ia memainkan hal yang aneh, aku langsung pulang saja. 


Aurora dan Evelyn langsung menyetujui hal itu. Akhirnya, kami pun pergi ke tempat arena untuk mengecek kemampuan militer kami.  Akishima juga sudah membawa Zhukov, Denis, Hammer, Sheeran, pada awalnya ia menolak, dan Saphine. 


Setelah semuanya berkumpul, Akishima segera naik ke panggung dan segera mengumumkan sesuatu.. 


"Akishima. Kita mau main apa nih? Aku ingin tahu nih."


"Denis. Bibi Rita berpesan agar tidak pulang telat. Aku seringkali mendapatkan pesan itu," tegurku pada Denis. 


"Tenang saja, Ri-chan. Ini tidak akan lama, kok," cela Denis.


"Tentu saja. Among Us Simulator," jawab Akishima.


"Permainannya mudah sekali. Ada dua unsur ada permainan ini. Kru atau Pengkhianat. Kru harus menyelesaikan tugas mereka dan mencari tahu siapa yang berkhianat. Sedangkan, seorang pengkhianat harus menggagalkan misi dan membunuh semua kru untuk memenangkan permainan ini," jelas Akishima 


"Aku sudah menyetel semuanya. Seorang pengkhianat diberi pistol dan menembak seseorang untuk bisa membunuh kru. Pengkhianat disini hanya satu orang. Jadi, kalau kalian tidak tahu siapa pengkhianat itu kalian akan kalah. Kalian bisa memilih warna sesuai dengan kesukaan kalian," jelas Akishima mengenai setelan.


"Akishima. Kamu membenci pengkhianat. Kenapa kamu memainkan permainan ini?" Tanyaku sambil berpikir kritis. 


"Jangan khawatir! Ini hanya permainan, kok," jawab Akishima menenangkanku.


"Aku harap aku bisa ditembak oleh Sayangku," harap Sheeran dengan mata cintanya. 


"Kalau kamu ditembak, kamu akan mati, lho," respon Akishima.


"Ok. Ini bisa dicoba untuk pengetahuanku. Aku sedikit mencurigai kalian," komentar Zhukov sambil tersenyum kecil. 


"Kau juga, Zhukov," cocor Akishima. 


"Ayo kita main!" Ajak Aurora dengan mata bintangnya. 


"Kita akan tahu siapa pengkhianatnya, desu," lanjut Evelyn dengan bersemangat. 


"Yosh! Dengan begini, Link Among Us … Start!" 


Kami sedang menuju ke arena dan memilih warna kostum astronaut sebelum memulai permainan. Aku harus mencari warna yang sesuai dengan karakterku. Aku lebih menyukai warna merah daripada hitam. Tapi, itu sudah diambil oleh Akishima. Jadi, aku pilih perak saja.


Peta yang diambil adalah sebuah pesawat yang terdapat di Planet Jupiter. Entah kenapa ini mendapatkan referensi dari mana. Yang jelas, tidak ada yang bisa bertahan di planet Jupiter. 


Sudahlah! Ini hanya fantasi saja. Bukan fantasi yang berada di Nekopoi. Ini adalah fantasi yang dicampurkan oleh teknologi, sehingga ini menjadi Science-Fiction.


Ini semua karena Akishima yang selalu mengajakku nonton Nekopoi. Aku juga tidak mengerti kenapa banyak gadis ingin sekali mengajakku ke ranjang. Apakah aku yang selalu menerima permintaan mereka atau mereka yang sangat tidak masuk akal itu?


Ok. Kembali ke permainan.


Setelah memilih warna kostum astronaut, kami dikirimkan oleh sistem ke peta itu, sehingga kami diceritakan mendarat di Jupiter karena kecerobohan yang dilakukan oleh Astronaut Merah. Jadi, kami harus terseret ke Jupiter dan harus mencari cara agar bisa keluar dari sini.


[Nama | Kostum Astronaut]


[Akishima Renji | Merah]


[Zhukov Rekovic | Hijau]


[Saphine Vera | Biru]


[Aurora Sentinel | Biru Langit]


[Denis Spyxtria | Hitam]


[Evelyn Emily | Coklat]


[Hammer Rizka | Kuning]


[Sheeran Chezka | Ungu]


[Rivandy Lex | Perak]


Kami berkumpul di sebuah rapat dimana ada tombol darurat yang bisa dipakai sekali saja. Kami yang menggunakan pakaian astronaut untuk menjalankan misi. Kami berpisah satu sama lain untuk menyelesaikan misi ini.


Ok. Aku akan melihat statusku sekarang.


[Rivandy Lex | Perak


 Status : Kru


 Proses Misi : 0%


 Misi Panjang : 0/2


 Misi Pendek : 0/3


 Lokasi : Menuju Elektronik]


Aku berjalan sendirian sambil melihat peta dengan seksama. Terdapat misi yang harus ku selesaikan. Terutama memindahkan folder ke tempat lain. Aku segera menjalankan misi lain setelah aku menjalankan misi memindahkan folder. 


Pada saat aku aku melihat ada seorang pengkhianat yang sedang mengendap-endap. Ia segera melancarkan serangan dan tembakan kepada kru lainnya. Aku segera mencegah pembunuhan itu dan melihat siapa pengkhianat itu. Namun, aku hanya melihat mayat yang berserakan itu. Dengan respon cepat, aku melaporkan kejadian pada semuanya agar bisa berkumpul di Cafetaria.


"Lapor! Aku melihat mayat disini!" 

__ADS_1


Kami pun dikumpulkan di Cafetaria. Kami berkumpul untuk melakukan voting untuk mengetahui yang yang membunuh Saphine. 


Dan rapat pun dimulai.


"Jadi, siapa yang menembak hatiku?" Tanya Sheeran dengan mata cintanya. 


"Tidak ada yang menembakmu, Sheeran," jawabku dengan singkat..


"Kita mulai presentasinya," jawabku dengan serius. 


Aku mempresentasikan bagaimana Saphine terbunuh. Dia mati di ruang kendali. Aku juga melihat pengkhianat itu kabur melewati ventilasi. Aku juga hanya melihat Saphine yang tertembak di kepalanya. 


Namun, tidak ada yang menjawab bersama Saphine. Pengkhianat itu menghampiri Saphine dengan bersembunyi dan membunuhnya. 


"Aku tidak tahu siapa berbohong. Jadi, kita lewatkan saja," ucapku pasrah dengan presentasi ini.


"Yosh! Kita lanjutkan lagi!" Lanjut Akishima dengan semangat.


"Aurora. Aku takut, desu. Tolong temani aku, desu!" Rengek Evelyn. 


Aurora menerima itu dan segera menuju ke misi berikutnya. Hammer dan Denis sing percaya satu sama lain. Zhukov pergi sendiri dan mencari pengkhianat itu dibandingkan menyelesaikan misi. Sheeran ingin sekali menemaniku. Aku menerimanya.


[Tidak ada yang Dibuang]


[1 Pengkhianat Lagi]


Aku segera menyelesaikan misi untuk memenangkan ini bersama Sheeran. Akishima sedari tadi curiga pada Sheeran. Maka, ia akan melakukan sesuatu untuk menyelidiki kasus itu.


"Detektif Conan : Berubah!" 


Ia mengenakan pakaian astronaut dengan baju setelan detektif. Ia mengendap-endap dan mengikuti Sheeran. Namun, Sheeran menghilang. Hanya aku yang sedang menjalankan misi. Akishima mencari Sheeran dan melihat ada mayat yang berada di tengah jalan. Tak lama kemudian, ada Evelyn yang melihat Akishima yang sedang menyentuh mayat. Maka dari itu, Evelyn ketakutan dan melakukan laporan. 


"Kya! Imposter, desu! Lapor, desu!" 


Rapat pun dimulai dengan kematian Zhukov. Kami dikumpulkan kembali dan segera tahu siapa pengkhianatnya.


Evelyn : "Akishima, desu. Dia membunuh Zhukov, desu."


Akishima : "Bukan aku! Aku hanya kebetulan lewat saja."


Sheeran : "Evelyn benar. Dia tidak pernah berbohong, kok."


Rivandy ; "Ada bukti lain?"


Akishima : "Menurut Detektif Conan, Sheeran tiba-tiba menjauh dari Rivandy dan segera mencari mangsa. Dan mangsa itu adalah Zhukov. Jadi, terbukti Sheeran yang Pengkhianatnya."


Sheeran : "Eh? Aku hanya disuruh Sayangku untuk menjalankan tugas. Kamunya yang berkeliaran entah kemana. Jadi kau yang Pengkhianatnya.*


Rivandy : "Kau benar. Sudah diputuskan. Akishima yang Pengkhianatnya."


Akishima : "Tunggu. Bukan aku pelakunya!"


Denis dan Hammer : "Vote Akishima!"


Akishima : "Tunggu! Bukan aku!"


Akishima. "Kamu masih percaya padaku?"


Rivandy : "Vote."


Akishima : "Tidak. Jangan vote aku! Aku tidak bersalah!"


[Akishima Dikeluarkan]


[1 Pengkhianat Lagi]


Masih belum. Bukan Akishima. Tapi siapa?


Kami melanjutkan permainan lagi. Aku segera menyelesaikan misi agar bisa memenangkan permainan ini. Aku tidak mau terpaku dengan pengkhianat itu. 


[*^*]


Denis dan Hammer bertemu dengan Sheeran. Mereka menjalankan misi secara bersamaan. Mereka ke Generator untuk memeriksa apakah  mesin bisa dijalankan untuk pulang ke Bumi atau tidak. Denis pergi ke tempat lain untuk menyelesaikan misinya. 


Ketika Denis pergi, Sheeran melakukan aksinya dan menembak Hammer. Lalu, ia masuk ke ventilasi dan menunggu kesempatan yang akan datang. Begitu Denis segera menemui Hammer, dia terkejut dengan sebuah peluru yang mendarat di kepalanya dan mati seketika. 


Sejak itu, Sheeran merencanakan sesuatu bukan untuk permainan. Namun, sesuatu yang lain.


"Tinggal 4 lagi, aku akan mendapatkan apa yang ku inginkan," gumamnya dengan tawa yang jahat.


Pada saat Evelyn pergi ke tempat Admin dan segera memasukkan Kartu ID miliknya. Sheeran membuka ventilasi miliknya dan segera menembak Evelyn. Evelyn yang baru menyelesaikan misi tertembak di kepalanya, sehingga Evelyn dinyatakan mati. Sheeran semakin menjadi-jadi. Ia segera menunggu Aurora yang mencari Evelyn. 


[*^*]


Aurora sudah menyelesaikan sebagian besar tugasnya. Tinggal satu tugas lagi. Ia harus mentransfer data yang berada di ruangan Admin. Namun, ketika ia sampai ke sana, ia melihat mayat Evelyn dengan tatapan yang ketakutan. Dengan itu, ia melaporkan da semua kru di pesawat itu


[Aurora Sentinel | Biru Langit


 Status : Kru


 Proses Misi : 88%


 Misi Panjang : 1/2


 Misi Pendek : 3/3

__ADS_1


 Lokasi : Ruang Admin]


Semuanya dikumpulkan. Namun, hanya ada 3 orang yang sudah dikumpulkan oleh Aurora. Aku terkejut dengan hasil ini. Aneh sekali. Biasanya ada banyak, namun, kenapa ada 3? Bagaimana cara aku bisa mencari pengkhianat disini? Hanya satu peluang. Jika aku gagal, pengkhianat akan menang. Jika sebaliknya, aku dan Aurora selamat.


Rapat dimulai. 


Aurora : "Sheeran membunuh Evelyn."


Sheeran : "Bukan. Aurora yang membunuh Evelyn."


Aurora : "Bukan! Aku bukan Pengkhianat!"


Sheeran : "Kamu yang datang kemari dan segera menyentuh mayat Evelyn."


Aurora : "Jangan sembarangan! Aku tahu kamu pengkhianat. Rivandy tidak akan menembak wanita. Jadi, kamu yang menembak Evelyn."


Rivandy : "Ok. Kalian dari mana saja?"


Aurora : "Ke Ruang Admin. Pada saat ke sini, Evelyn mati."


Rivandy : "Ok. Sheeran?"


Sheeran : "Sayang. Kamu jangan percaya sama pengkhianat itu! Dia bisa membunuhmu kapan saja. Aku sudah menjalankan tugasku dengan baik."


Rivandy : "Aku bingung siapa yang membunuh di sini. Aku akan memilih berdasarkan penalaran kalian."


Aurora : "Sheeran!"


Sheeran : "Aurora!"


Aurora : "Sheeran!"


Sheeran : "Aurora!"


Aurora : "Sheeran!"


Sheeran : "Aurora!"


Aurora : "Sheeran!"


Sheeran : "Aurora!"


Rivandy : "Cukup! Aku akan memilih kalian dengan acak."


Sheeran : "Pilih Aurora!"


Aurora : "Pilih Sheeran!"


Sheeran : "Pilih Aurora!"


Aurora : "Pilih Sheeran!"


Vote dimulai. Aku segera memilih untuk siapa yang menjadi pengkhianat. Aku harus memilih dengan acak. Aurora atau Sheeran?


Eeny, Meeny, Miny, Moe.


Imposter nya siapa??


Aku memutuskan untuk memilih Aurora karena sudah melakukan trik ini. Aku segera melakukan vote ada Aurora, sehingga Aurora dikeluarkan.


[Aurora Dikeluarkan]


[1 Pengkhianat Lagi]


Aku salah memilih vote, sehingga membiarkan seorang pengkhianat menang. Aku kalah dengan rayuan gadis itu dan membiarkan para kru tewas dan dikeluarkan. Aku memang terpaku dengan godaan itu. 


Aku sudah berhadapan dengan Sheeran. Sheeran akan membunuhku dan mengakhiri semua ini. Namun, dia mengatakan, "Aku cinta kamu, Sayang! Aku tidak akan membiarkanmu terbunuh. Jadi, aku akan mengajakmu ke suatu tempat."


Aku hanya mengikuti perintahnya. Aku tidak tahu kenapa Sheeran menjadi seorang pengkhianat. Aku membiarkan rayuannya berbuat seenaknya. Jika saja aku percaya pada Akishima, ini tidak akan terjadi. 


Saat keluar dari simulasi ini, Akishima tidak akan memaafkanku. Tapi, bukankah ini hanya permainan? Dia terlalu kekanak-kanakan. 


Aku harus menghadapinya nanti. Kalau bisa, aku akan menjadi budak untuknya. Tapi, jangan ajak aku nonton Nekopoi lagi! Aku sudah jijik melihatnya. Kalau saja Neesan tahu, aku akan hancur.


Tidak ada pilihan lain. Aku menerima ajakan dengan berjalan bersama Sheeran melewati rintangan emisi gas. Pada saat terakhir, kami tiba di sebuah kubah dengan matahari buatan, air dan tumbuhan. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Apakah sistemnya rusak atau semacamnya? Aku tidak tahu. Tapi, bagaimana dia tahu? Banyak pertanyaan yang harus aku lontarkan. Tapi, ….


"Sheeran. Kau …."


"Aku disini untuk hidup bahagia bersamamu. Aku tidak mau kembali ke Bumi. Aku hanya ingin hidup bahagia bersamamu. Kita bisa nonton Nekopoi sepuasnya dan membuat anak sebanyak mungkin. Aku juga menemukan tempat ini. Tempat ini sangat indah," jawab Sheeran mendekatiku dan menari-nari di suasana kubah itu.


"Tempat ini adalah tempat untuk aku bisa bersamamu. Jadi, tolong aku mencintaimu. Aku … ingin hamil bersamamu dan hidup bahagia selamanya. Bumi sudah tidak ada lagi. Tidak ada yang indah. Semuanya hanya fana dan berantakan. Mereka dengan egoisnya, bisa merampas kehidupan yang sangat indah ini. Maka dari itu, aku ingin kamu bersamaku dan bisa membuat anak sesuka kita."


"Jadi, aku melakukan apapun untukmu. Aku akan memuaskanmu, Sayang," ungkapnya dengan sebuah aktingnya.


Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi. Bumi hancur? Yang benar saja ini hanya simulasi. Tapi, ini terasa nyata. Jika Bumi tidak bisa ditinggali lagi, tidak ada yang bisa dilakukan lagi.


Aku tidak bisa berkata apapun. Aku hanya terdiam dengan pernyataan itu. Maka dari itu, aku akan memutuskan untuk melangsungkan spesies Homo Sapien ini. Aku akan membuat semua peradaban yang harus aku butuhkan saat ini.


"Iya. Aku terima Sheeran. Ayo kita membuat anak!" Ajakku dengan serius.


Sheeran tersenyum dengan itu. Kami pun segera mengelilingi kubah itu. Kami mempraktekkan adegan hangat itu. Setelah itu, kami memiliki 3 anak yang lucu dan menjalani kehidupan sebagai orang tua yang baik. Ingin sekali ku bahagia bersamanya. Namun, tidak bisa. Habisnya, aku adalah remaja yang tidak bisa tersenyum.


Kami membuat 10 anak lagi dan Sheeran menikmatinya lagi. Kami hidup rukun yang anoa dan istri yang lucu dan imut.


Akhirnya, Kami pun hidup bahagia selama-lamanya.

__ADS_1


Game pun berakhir dengan ending yang puas.


Aurora dan Akishima akan membunuhku karena keputusan bodohku.


__ADS_2