
Aku dan Zhukov berbicara sedikit. Namun, tidak disangka bahwa Akishima sudah berada di hadapan kami.
“Zhukov, apa maksudmu? Kamu mengkhianatiku, bukan?” Wajah Akishima mulai gelap melihatku dan Zhukov bersama.
“Akishima. Ini bukan yang seperti kau bayangkan,” cekal Zhukov sambil menenangkan Akishima.
“Aku tidak percaya dengan omonganmu, Zhukov. Jika kau mengkhianatiku, aku tidak akan memaafkanmu."
“Kau, dasar bodoh! Aku tidak mau berurusan denganmu,” cemooh Akishima sambil menggenggam kerah bajuku.
Aku yang sedang diancam oleh Akishima terdiam dengan ancaman itu. Aku merasakan hal aneh mengenai sisi psikologisnya.
Sial! Ini bukan Akishima yang ku kenal sebagai gadis yang berisik, ketidakdewasaan, dan suka memaksa.
Ini cukup berbeda hari ini.
“Akishima! Tenangkan dirimu! Aku berusaha membantumu,” cela Zhukov agar Akishima tenang.
“Membantu apa? Membantu agar aku bisa disakiti lebih lanjut?” Akishima menahan tangisannya melepaskan genggamannya dan mendorongku ke belakang.
“Rivandy! Kau tidak apa-apa?” Zhukov menghampiriku sambil terjatuh.
“Um. Ini belum seberapa,” jawabku dibantu oleh Zhukov.
“Akishima! Aku mohon untuk …." minta Zhukov dipotong.
“Sudah! Aku tidak mau mendengar kata dari sebuah pengkhianatan ini. Aku bolos dulu dan jangan mencariku!” Potong Akishima sambil meninggalkanku dan Zhukov.
Kami hanya menahan nafas dengan kasar dengan tingkah Akishima yang berubah 180 derajat. Aku dan Zhukov melihat Akishima menghilang dari hadapan kami. Sesaat kemudian, Aurora, Evelyn dan Sheeran yang keluar dari kantin segera menghampiriku.
“Rivandy!” Panggil Aurora dan Evelyn sambil menghampiriku..
“Sayang!” Panggil Sheeran sambil menghampiriku dan memelukku.
“Kau tidak apa-apa? Apa yang Gadis Janda itu?” Sheeran mengelus wajahku yang sedang terjatuh itu.
“Rivandy, apa yang terjadi?” Tanya Aurora mengenai kondisiku.
“Soal itu, ...,” jawab Zhukov terpotong.
“Tidak apa-apa, Zhukov. Aku tidak apa-apa. Aku hanya tersandung saja,” potongku sambil berdiri dan menghampiri Sheeran.
“Kalau kau berbohong, aku akan menghukummu,” ancam Aurora dengan perawakan yang manis.
“Memangnya kau siapa?” Aku mencekal ancaman itu.
“Iya, desu. Aku bermain Poker lagi kalau kau berbohong, desu,” lanjut Evelyn sambil mengeluarkan kartunya.
“Aku sudah tidak tahan dengan itu. Aku mau ke kelas dulu,” pamitku segera menuju ke kelas.
Namun, Aurora dan Evelyn memelukku dari belakang agar aku tidak bisa kabur. Sheeran membalas pamitan itu dengan penuh kasih sayang. Zhukov hanya menepuk dahinya. Mereka berpisah dan menuju ke kelas.
[*^*]
Jam 14:51, pelajaran militer hampir selesai. Namun, suara gemuruh dari cuaca di atas sedang tidak mendukung. Aku dan teman sekelasku segera menyelesaikan pelatihan kami agar kami bisa pulang lebih cepat. Takutnya, kami tidak bisa pulang karena hujan akan turun.
Bagiku tidak masalah. Hanya saja, aku harus menghemat pengeluaran walaupun taksi itu terbilang murah. Aku tidak bisa selalu mengajak Aurora dan Evelyn untuk naik taksi. Biaya taksi akan meroket 3 kali lipat.
Untung saja aku membawa payung agar tidak basah. Aku dan Aurora membawa payung. Evelyn selalu lupa membawa payung, sehingga ia berbagi payung dengan Aurora. Ia tidak mau berbagi denganku karena aku terlalu tinggi. Ini tidak masuk akal.
Saat kami berjalan menuju persimpangan dengan cuaca yang berangin, aku teringat sesuatu pada pikiranku. Aku agak cemas dengan kondisi Akishima yang semakin memburuk. Aku tidak mau mereka mencampuri urusannya. Zhukov mengirim pesan padaku untuk tidak menceritakan siapapun.
Ini hanya akan memperburuk keadaan. Terpaksa aku berbohong.
“Kalian, pulang dulu! Aku harus mengambil memberikan tugasku yang ketinggalan di kelas militer." Aku membohongi mereka agar aku bisa mencari Akishima
“Yah! Kenapa kau tidak bilang dari tadi, desu?” Keluh Evelyn dengan kelakuanku.
“Dasar pelupa. Kumpulkan tugasmu sana! Aku menunggumu di apartemen,” pesan Aurora sebelum aku meninggalkannya.
“Aku mengerti,” responku segera lari dari arah yang berlawanan.
__ADS_1
Aku cukup ingat dengan tempat Akishima berada aku sudah memasang keberadaan di matanya dengan teknik “Arctic Warfare : Observation” agar aku bisa melihat keberadaan Akishima selama sehari dan maksimal 3 hari.
“Di sana, yah?!”
“Aku akan segera menuju kesana,” tekadku sambil berlari kecil.
Aku berlari menuju jalanan yang cukup ramai di kota Moskow yang akan turun hujan. Aku segera mencari Akishima yang sedang bolos akademi. Aku mencari di beberapa titik, namun tidak menemukan apapun. ini sudah 20 menit aku mencarinya.
“Sial! Dimana dia?” Tanyaku pada diriku sendiri sambil melihat ke sekitar.
Aku segera menutup payungku dan segera mencari Akishima dengan leluasa. Lalu, aku mencari setiap blok trotoar untuk menemukannya. Terdapat banyak lalu lintas yang pada pada saat hujan.
Jam 15:56, aku menemukan bayangan warna biru pada mataku. Aku melihat suatu titik yang menggabungkan garis dan membentuk sebuah bidang. Bidang itu dibentuk oleh bidang yang lain sehingga aku menemukan suatu objek yang ku kenal. Itu adalah bayangan Akishima di seberang jalan.
“Aku menemukanmu, Akishima!"
Aku segera berlari menuju ke seberang jalan dan menghampiri Akishima yang sedang murung. Aku segera memanggilnya dengan suara dengan 16.000 Hz.
Akishima yang tertunduk hanya terdiam dan tidak menoleh ke arahku.
Aku mencoba untuk memanggilnya berkali-kali. Namun, itu hanya percuma saja. Ketika aku menghampirinya, aku mencoba memegang pundaknya. Dari saat itu, Akishima menoleh padaku.
“Apa maumu?” Sahutnya dengan tatapan sinis.
“Akishima, kau kenapa? Ada apa denganmu?”
“Kenapa?” Akishima bergumam sedikit.
“Aku mencemaskanmu. Aku melihatmu di gang sambil menangis,” jawabku sambil menyebarkannya.
“Kau melihatnya, `kan?” Desisnya tidak melihatku.
“Aku melihatnya sedikit. Jadi, ..,”
Sebelum aku menyelesaikan perkataanku, Akishima melancarkan sedikit pukulan kepada dadaku. Aku sedikit terdorong dengan itu. Lalu, ia menamparku menuju pipi kananku. Tamparan itu bertepatan dengan turunnya hujan yang cukup lebat.
Aku hanya terdiam lesu dengan tamparan yang bertepatan pada hujan yang turun. Aku dan Akishima yang sedang diguyur hujan
Ini seperti Kota Bogor yang diceritakan oleh Bella pada hari itu.
Dia menceritakan bahwa Kota Bandung yang pada saat ini mulai diguyur hujan. Aku menyimpan data itu di memori.
Sebelum itu, aku mendengar sebuah kata yang cukup menggema di dalam telingaku pada guyuran hujan. Dengan perasaan Akishima yang meluap, ia menggerakkan bibir yang penuh kebencian untuk menyampaikan sesuatu padaku.
“Aku membencimu,”
Setelah itu, ia berbalik badan dan meninggalkanku yang kehujanan menuju ke tempat yang ia tidak ketahui.
Aku tidak bisa berpikir pada saat diguyur air hujan. Aku tidak tahu lagi apa yang aku lakukan. Aku hanya memikirkan perasaan Akishima yang tiba-tiba berubah.
Apa yang telah kulakukan?
Akhirnya, aku memutuskan untuk berjalan pulang tanpa mengenakan payung. Rambut yang diguyur hujan telah menuruni seragamku yang basah. Tasku yang basah telah membasahi buku yang di dalamnya, walaupun aku tidak terlalu peduli dengan buku. Aku berharap buku perpustakaan tidak terkena air hujan.
Jam 17:12, aku tiba di apartemen dengan basah kuyup. Aurora yang menungguku di depan apartemen segera menghampiriku dengan rasa cemasnya. Ia menghampiriku dengan seragam yang basah.
“Rivandy?! Ada apa denganmu?! Kamu basah kuyup,” resah Aurora sambil mengajakku ke apartemenku.
Aku hanya mengangguk dengan ajakan itu. aku mengambil handuk dan segera mandi. Aku meminta Aurora untuk meninggalkanku sendirian di kamar mandi. Ia terpaksa menerima permintaan itu.
Aku termenung dalam bathtub dan sedang memikirkan Akishima. Aku tidak tahu apa yang aku lakukan, sehingga membuatnya membenciku. Setelah berendam selama 20 menit, aku memutuskan untuk mengosongkan bathtub dan segera mengambil handukku.
Setelah itu, aku menghampiri Aurora yang sedang belajar masak, walaupun hasilnya tidak maksimal. Aku mengganti bajuku dan segera makan bersama Aurora karena ia selalu menemaniku. Aku tidak tahu apa yang ia pikirkan. Ia melupakan apartemen miliknya.
{*^*]
27 September 2025, aku berangkat menuju ke akademi bersama Aurora. Aku melihat apartemen Akishima dengan sekejap. Sesaat kemudian, aku berbalik pandangan dan menuju keluar apartemen.
Setibanya di akademi, aku dan Aurora bertemu dengan Sheeran dan Evelyn di gerbang. Aku dipeluk oleh Sheeran secara intim. Aurora dan Evelyn sambil berpelukan satu sama lain. Kami berjalan menuju ke koridor seperti biasanya, tanpa merasakan apapun.
Setelah itu kami berpisah dengan Sheeran yang menuju ke Kelas I Soshum E, kami bertiga menuju ke Kelas I Saintek A adn menunggu untuk mengikuti pelajaran Pak Stephan.
__ADS_1
[*^*]
27 September 2025, jam 05:00, Akishima terbangun dari tidurnya tanpa mengenakan pakaian apapun. Ia beranjak menuju ke kamar mand bukan untuk membersihkan mandinya. melainkan ia merunduk menuju ujung ke kamar mandi dan menunduk sambil menangis selama mungkin.
Setelah menangis, ia menoleh ke depan bathup. Ia tidak segera mandi. Ia harus menenangkan dirinya menuju ke kamar mandi.
“Sudah waktunya aku ke akademi sekarang juga,” liriknya beranjak dari tunduknya dan segera mandi.
Setelah itu, ia keluar dari kamar mandi tanpa mengenakan handuk dan segera berpakaian secara hati-hati. Setelah itu, ia menyiapkan tasnya untuk pergi ke akademi.
"Mungkin, aku akan membelinya di toko,” liriknya sambil mengenakan sepatunya dan segera keluar dari apartemen.
Ketika ia keluar dari apartemen, ia melirik sekitar sebelum keluar dari bangunan apartemen itu. Ia tidak melihat apapun. ia hanya melihat kekosongan dan keheningan. Ia bergerak dengan pelan dan segera menuju ke akademi sambil menghindar dariku.
Setelah ia sampai di kelas, ia tidak menyapa siapapun, termasuk Zhukov. Ia hanya duduk lesu sambil menatap pemandangan yang memburuk.
Jam 08:12, guru bimbingan militer mengumumkan bahwa Zhukov tidak masuk karena suatu alasan yang sangat penting. Ia tidak mau mendengarkan hal itu dan segera menatap kepada guru bimbingan itu.
Akishima berlatih seperti biasanya. Ia menghiraukan siapapun dan sedang menembak dengan senapannya. Ia mengisi amunisi dan segera membidik sasaran dengan gegabah. Alhasil, tembakannya tidak mengenai sasaran dengan tepat.
“Sial! Kenapa tidak kena?”
Ia membidik dengan scope miliknya dan segera menembak. Namun, tidak kena. ia mencoba menembak dan menembak. Namun, tembakannya tidak tepat sasaran. Ia sedikit putus asa dengan hasil yang diperoleh.
Agar sasarannya tepat sasaran, ia menyetel sasaran dengan fotoku dan Zhukov. Ia melakukan tembakannya dan sasarannya tidak tepat lagi.
“Kenapa tidak kena juga?” Umpat Akishima sambil membanting senapannya.
“Karena kau adalah 一夜妻.” Hati Nurani Akishima yang gelap menghantui.
“Bukan!” Akishima menutup telinganya.
“Aku hanya …,”
Karena ketakutan itu, Akishima meminta izin pada guru bimbingan untuk menuju ke kamar mandi wanita. Ia segera berlari sambil menahan tangisannya.
Setibanya di kamar mandi, ia menuju ke toilet dan segera membuka seluruh seragamnya untuk mengecek tubuhnya.
Benar saja, ia melihat kanji dan angka yang tertulis di tubuhnya. Tulisan kanji “秋島” dan “一夜妻,” lalu simbol tambah, ,x, kurang, dan angka yang terpampang di tubuhnya.
“Yada!”
“Aku tidak bisa berpikir. Jangan hantui aku!” Akishima mencoba menutup tubuhnya dengan serama. Namun, tidak bisa. Tubuh itu menghasutnya.
Ia mencobanya lagi dan lagi. Namun, tidak bisa. Simbol itu sudah berada dalam sisinya sejak kejadian itu. Tidak bisa dihapus dan selalu lengket.
“Tidak!”
"Tidak!"
[*^*]
Jam 08:12, Zhukov yang sudah berada di atap rumahnya sedang menyelidiki sesuatu yang penting. Ia menyalakan laptopnya dan segera menghubungi seseorang. Ia memasukkan kodenya dan desktop pun dimunculkan dengan wallpaper khasnya.
Setelah itu, ia membuka situs Akademi Militer Spyxtria (https:/spyxtria.ac.ru) untuk memeriksa sesuatu. Setelah membuka laman akademi, ia mencari melakukan peretasan untuk mencari suatu informasi di dalamnya.
Namun, ada sebuah teriakan yang membuat Zhukov waspada.
“Tangkap dia!” Seru seorang mata-mata itu.
“Jangan sampai lolos! Kita harus menahannya,” Lanjutnya.
Zhukov segera mematikan laptopnya dan segera menyimpan di tasnya. Kemudian, ia mengeluarkan senjatanya dan membidik seseorang yang menghantuinya.
{SCAR-20(Powercore)}
Setelah melancarkan tembakan, ia kabur menuju tempat yang tidak diketahui. Ia dikejar mata-mata untuk diberi keterangan lebih lanjut.
“Sial! Aku tidak bisa begini terus. Mereka terus menerus,”
__ADS_1
“Kalau aku tidak menemukan sesuatu, pasti akan gawat."