Rivandy Lex : Modern Military

Rivandy Lex : Modern Military
Masalah Psikologi : Akishima Renji 1,3


__ADS_3

27 September 2025, jam 09:23, di Kelas I Saintek A, aku melakukan simulasi bersama teman sekelas. Aku mendapatkan misi untuk merebut kembali barang berharga yang berdasarkan pada simulasi tersebut.


[Nama : Rivandy Lex


Kelas : I Saintek A


Peran : Penyusup


Status : Sniper Rifle/Pistol/Pisau]


Aku menyusup dan melakukan tembakan kepada lawan yang sedang menjaga barang curian itu. Penjaga itu tertembak, sehingga menimbulkan kepanikan. Nina dan siswa lainnya sedang melakukan serangan untuk mengambil kembali barang yang direbut.


Aurora, dan Evelyn segera beraksi. Mereka melancarkan sebuah serangan mereka dan membantai musuh dengan cepat. Mereka mencari musuh dan menarik pelatuk agar peluru bisa keluar dari senjatanya.


Simulasi mulai berlanjut. .Aku dan Aurora segera melancarkan serangan terakhir agar simulasi dapat diselesaikan dengan cepat.


[Simulasi Berakhir]


[Hasil]


[Nama : Rivandy Lex


Kelas :I Saintek A


Preview Score : A+:


Bintang : 4,7/5]


Ketika monitor itu berada dalam hadapanku, Aurora menghampiriku dan bertanya, “Rivandy, Nilaimu berapa?”


Aku menjawab, “A+,” berfokus dengan notifikasi di hadapanku.


“Eh? A+ lagi, desu? Padahal sedikit lagi aku menyamaimu, desu,” keluh Evelyn melihat nilaiku.


Sebelum aku menjawab itu, Pak Stephan mengumumkan, “Baiklah, anak-anak. Jika kalian sudah menjalankan kalian boleh mengistirahatkan diri dan bisa ke keluar kelas dengan tertib. Silahkan berdiskusi denganku jika kalian ingin bertanya sesuatu padaku.”


“Baik, Pak!”


Setelah seruan itu, kami bersantai sejenak untuk mereview hasil kerja keras kami. Nina dan Aurora berkenalan dengan baik. begitu juga dengan Evelyn karena kami sekelas dengan Nina Alpenliebe.


Aku hanya mengikuti obrolan mereka.dengan kedua telingaku. Aku terpaksa mendengarkan obrolan mereka meskipun aku tidak mengerti tentang apa yang mereka bicarakan.


Semoga saja mereka tidak membahas tentang kepayahanku dalam bermain Poker.


Setelah jam menunjukkan pukul 09:56, kami diperbolehkan untuk keluar kelas. Aku memutuskan untuk mengembalikan bukuku. Namun, Aurora, dan Evelyn selalu mengikutiku. Dengan terpaksa, Nina berada di sampingku untuk meminjam beberapa buku.


Setelah tiba di perpustakaan, aku melihat keributan yang terjadi di sana. Kami menyelidiki apa yang menyebabkan keributan itu. Aku dan Nina segera menyelidiki keributan itu. sementara Aurora dan Evelyn terdiam dan menunggu dari kerumunan itu.


Aku dan Nina mencoba untuk menerobos kerumunan itu. Saat kami sampai di tempat kerumunan itu, aku melihat ada garis kuning yang menghalangi jalan. Nina berhadapan dengan seorang detektif yang sedang menyelidiki kasus itu.


Nina mencoba untuk bertanya. “Permisi. Ada apa ini?”


“Whoah! Nona. ada apa datang kemari?” Tanya detektif itu sambil berpikir.


“Kami disini untuk menyelidiki sesuatu. Apa yang terjadi?” Tanyaku kepada detektif itu.


“Maaf, yah! Aku tidak berhak untuk memberitahu kalian. Pergilah!” Usir detektif itu.


Aku yang tidak mau pergi segera melakukan inisiatif. Aku bertekad, “Aku akan membantumu menyelidiki ini, Pak!”


“Hah?! Kau pikir kau siapa?!” Tanya detektif itu meragukanku.


“Biarkan aku juga membantumu, Rivandy,” tambah Nina mendesak detektif itu.


“Aku harap kalian tidak mengganggu pekerjaanku,” harap detektif itu segera menuju ruang TKP.


Kami segera menuju keruangan TKP yang digiring oleh seorang detektif yang bertubuh tinggi dan berseragam layaknya seorang detektif dengan pipa rokok yang di mulutnya. Setiba di TKP, kami melihat barang bukti yang belum terpecahkan.


“Ini dia ruangannya."


Aku dan Nina melihat ada kaca pecah di ruangan perpustakaan dengan orang yang tewas di lantai. Ada sebuah peluru yang tersangkut di mata korban itu dan ruangan yang berantakan dengan banyak buku yang berserakan di lantai. Banyak buku yang rusak akibat kekacauan itu.

__ADS_1


“Whew! Ini sangat berantakan,” komentar Nina saat melihat barang yang berantakan itu.


“Ini tidak terjadi pada sebelumnya."


“Pak! Tolong jelaskan mengenai kejadian ini!” Pintaku sambil menganalisa dengan mayat seseorang itu.


“Sebelum aku menceritakan, aku memperkenalkan diri. Namaku Detektif Alan Zeskavaya. Aku detektif dari Moskow dan dipanggil kesini untuk menyelidiki kasus ini. Sejauh ini, aku mengumpulkan sejumlah saksi. Hanya saja aku belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.” Detektif Alan sedang bercerita.


“Berapa saksi yang Anda kumpulkan?”


“Hanya 3. 2 orang pengurus perpustakaan dan satunya adalah tukang bersih-bersih,” jawabnya tertegun.


“Dua orang itu menjawab, ‘Aku tidak tahu apa yang terjadi pada ruangan ini. Kami sibuk dengan administrasi,' dan satunya menjawab, ‘Ketika aku menuju ke ruangan ini untuk membersihkan ruangan, aku terkejut dengan ruangan yang cukup berantakan. Jadi, aku memanggilmu kesini,’ begitu,” lanjutnya dengan informasi yang ia ketahui.


Aku mulai curiga dengan ini. Aku segera menoleh ke ruangan yang kotor dan menyelidiki sesuatu. Terdapat peluru yang tertancap dari mata korban itu. Aku juga melihat darah yang tumpah membasahi buku itu.


“Bolehkah aku memeriksa mayat ini? Aku ingin tahu peluru yang tertancap pada matanya,” tanyaku sambil menghampiri mayat tersebut.


“Aku sudah menggali informasi mengenai mayat itu. Tapi, aku tidak pernah menemukan apapun. Dia tidak memiliki tanda pengenal,” jawabnya.


“Nina, bantu aku!”


“Siap! Dengan ilmu biologiku, aku bisa melakukannya.” Nina membuka peralatannya operasinya untuk mengambil peluru yang tertancap pada mata korban.


Setelah itu, aku dan Nina segera melakukan operasi untuk mengeluarkan peluru. Setelah peluru dikeluarkan, Detektif Alan terkejut melihat peluru yang dikeluarkan. Ia menerima peluru yang kuberikan untuk penelitian lebih lanjut.


“Mk 24?! Tidak mungkin ini hanya dimiliki oleh orang yang penting.” Detektif Alan terkejut melihat peluru itu.


“Nak! apakah kau mengenalnya?” Detektif Alan memelototiku dan Nina.


“Kalau tidak salah, menurut penjelasan Stephan, ada jenis peluru Mk pada peluru SCAR 20 lalu. Peluru yang biasa digunakan adalah Mk 17 dan Mk 20 dengan peluru kaliber 7,62 mm. Tapi, aku baru mendengar ada Mk 24,” jelas Nina.


“Detektif, aku sudah melihat sesuatu,” panggilku sudah mengoreksi mengenai kejadian itu.


“Tolong ceritakan padaku!” Minta Detektif Alan untuk bercerita.


“Begini, ruangan itu awalnya rapi. Namun, beberapa saat kemudian, ada seseorang yang memasuki ruangan itu dengan memecahkan kaca. Entah itu korban atau pelaku. Lalu, mereka melakukan baku tembak yang menyebabkan rak buku berantakan. Baku tembak diakhiri dengan tembakan di mata korban itu. Tidak ada yang lain.”


“Kedua, mengenai mayat korban. Aku belum paham apa yang terjadi. Namun, aku hanya melihat peluru yang mengenai matanya. Tembakan itu tidak terlalu dalam. Namun, itu bisa membunuh korban. Entah apa yang dimasukkan formula ke dalam peluru yang membuat korban itu tewas seketika.”


“Ketiga, peluru. Nina sudah menjelaskan mengenai peluru SCAR 20. Jika menghubungkan pada poin kedua, hanya luka tembak yang ada di kepalanya. Tidak ada yang lain. Peluru yang dilancarkan pelaku merupakan orang yang penting. Ini sangat aneh. Luas ruangan ini hanyalah 4x3 meter. Jarak tembak efektif SCAR 20 hanya 300-600 meter.”


“Aku tidak bisa menembak siapa orangnya. Namun, setidaknya aku memberikan suatu petunjuk yang penting kepadamu,” jelasku mengenai kejanggalan itu.


“Benar juga,” duga Detektif Alan mendengarkan penjelasanku.


“Aku akan mencari petunjuk yang lain. Boleh tahu siapa …,” ucapan Detektif Alan terhenti.


“Detektif, ada kasus aneh di kamar mandi wanita!” Seru asisten yang segera tergesa-gesa masuk ke dalam ruangan.


“Apa?! Ada kasus lagi?! Sial, aku tidak ingin terlibat dalam kasus semacam ini,” keluh Detektif Alan mendengar kasus itu.


“Kalian! Pergilah dan selidiki kasus itu! Aku harus memutar otak dulu,” lanjutnya sambil duduk di lantai untuk sembunyi.


Aku dan Nina menerima perintah itu dan segera mengikuti asisten itu. Setelah sampai di pintu, Aurora dan Evelyn mengikutiku dan Nina mengajak mereka untuk memecahkan kasus.


“Aurora, Evelyn. Apa yang lakukan?” Aku bertanya tanpa menoleh.


“Aku tidak mau meninggalkanmu,” jelas Aurora yang mengejarku.


“Aku bosan, desu,” lanjut Evelyn.


Aku terpaksa menerima hal itu. Kami mengikuti asisten detektif untuk mencari lokasi TKP yang lain.


Yah … setidaknya mereka disini untuk melindungiku dari gadis dari Klub Pangeran.


Setibanya di kamar mandi wanita, kami dipersilahkan lewat oleh para gadis. Aku diperlakukan istimewa dari para gadis untuk mengintip rok mereka. Tapi, Aurora dan Evelyn mengancam mereka untuk menjauhiku.


Nina tertawa kecil melihat itu. Ia memuji, “Cie. Kamu ditemani oleh banyak gadis. Kamu bisa berpacaran dengan mereka semua,” merayuku dengan banyolannya.


“Aku anggap itu sebagai hinaan,” desisku mendengar pujian dari Nina.

__ADS_1


Setelah sampai di TKP, aku terkejut dengan seragam dan pakaian dalam yang sobek karena suatu alasan. Aku segera menyelidiki hal itu dan segera mengambil seragam itu dan segera menyelidikinya dengan penciumanku.


“Ini bau bunga Sakura,” gumamku sambil mencium seragam yang sobek itu.


Para gadis semakin liar melihatku mencium seragam. Aurora dan Evelyn menjaga kerumunan itu agar mereka tidak anarkis. Nina dan asisten itu kebingungan dengan apa yang ku lakukan. Mereka menganggapku sebagai orang mesum.


“Pangeran! Cium seragamku, dong!” Seru siswi dari Polandia.


“Pangeran Rivandy! Cium celana dalamku. dong!” Seru siswi dari Amerika Serikat sambil mengibaskan roknya.


“Punyaku juga!” Seru siswi dari Korea Selatan.


Aku menyadari apa yang terjadi pada kasus ini. Ini seperti penderitaan. Bukan kebencian. Aku mengumpulkan semua pakaian, termasuk pakaian dalam. Kemudian, aku segera melakukan teknik untuk keluar dengan mudah.


“Arctic Warfare :Teleportation!”


Aku meninggalkan pesan kepada Aurora dan lainnya untuk memberitahu kepada Detektif Alan mengenai kasus ini sebelum aku meninggalkan kamar mandi wanita. Mereka menerimanya dan segera mencegahku agar kerusuhan ini segera dihentikan.


Detektif Alan. Aku Serahkan kasus ini padaku! Aku sudah mengetahui apa yang terjadi pada Akishima. Semua informasi ini sudah terhubung. Aku hanya menanyakan alasannya.


Ini semua salahku, Aku harus menebusnya.


Aku akan menolong Akishima sekarang juga.


[*^*]


Di kantin yang penuh dengan siswa dan siswi yang membawa makanan dan mencari kursi. Ada dua gadis yang sedang berbicara dengan empat mata. Mereka adalah siswi Kelas I Soshum E, Sheeran Chezka dan Kelas III Saintek A, Chelsea Arslan.


“Bagaimana rencananya? Apakah sukses? Atau tidak?” Tanya Chelsea sambil makan permen.


“Sudah kuatasi. Hanya saja tinggal menunggu waktu saja,” jawab Sheeran dengan santai.


“Apakah aku bisa mendapatkan Pangeran? Aku ingin bertemu dengannya,” tanya Chelsea dengan mata berbinar-binar.


“Jangan dulu! Aku duluan. Soalnya, aku mau hamil dulu dengan Pangeran,” cekal Sheeran menolak permintaan Chelsea.


“Gak boleh! Aku dulu.” tolak Chelsea dengan nada centilnya.


“Aku dulu,” tekad Sheeran melototi Chelsea.


“Gue dulu,” tekad Chelsea melototi Sheeran


“Seharusnya aku dihamili oleh Sayangku,” cekal Sheeran sambil memegang perutnya.


“Sudah! Aku tidak ingin berdebat denganmu.” keluh Chelsea seperti bos perusahaan.


“Aku menawarkan kepadamu untuk bergabung dengan Klub Pangeran dan merebut Pangeran Rivandy,” tawar Chelsea seperti anak kecil.


“Lalu, apa yang kau minta dariku?” Tanya Sheeran minum kopi.


“Jatuhkan sainganmu sampai kau melenyapkan mereka semua! Kau bisa mengambil semua cairan Pangeran yang kental lezat itu,” lanjut Chelsea meremas permen itu sampai hancur dan menghasut Sheeran.


“Aku pikir itu adil,” pikir Sheeran sambil memakan manisan.


“Jika kamu masuk Klub Pangeran, kau akan mendapatkan code Violet dan membantai semua orang. Kamu tidak perlu masuk kelompok manapun. Kamu hanya bermain ranjang dengan Pangeran dan membuat keturunan,” jelas Chelsea.


“Tapi, Chelsea-senpai. Kamu mau apakan pangeran setelah aku dihamili olehnya?” Tanya Sheeran mengelus dadanya.


“Aku mengajaknya kencan ke seluruh dunia,” jelasnya secara blak-blakkan.


“Keliling dunia? Itu membutuhkan waktu yang cukup lama,” pikir Sheeran mencurigai Chelsea.


“Kau pikir kau akan dihamili oleh Pangeran?! Gak bisa! Aku akan menguasai Pangeran itu sendirian,” pikir Chelsea sambil tertawa jahat.


Setelah mereka berbincang sedikit untuk merebutku, Sheeran berpamitan dengan Chelsea-senpai. Sedangkan Chelsea harus kembali ke ruangannya untuk mengerjakan tugasnya yang menumpuk.


Mereka memikirkan cara agar bisa merebutku. Mereka berjalan sambil berpikir agar mereka menjalankan rencana dengan baik.


Di kelasnya, Sheeran melihat foto targetnya di handphonenya. Ia juga menyimpan video porno di handphone miliknya sebagai referensi untuk membuatnya hamil.


Satu rival akan dimusnahkan, tinggal beberapa orang lagi ~ Sheeran Chezka.

__ADS_1


__ADS_2