
Keesokan harinya, jam 07:00, aku berangkat ke akademi untuk mengikuti pelajaran akademi. Aku bertemu dengan Aurora dan Akishima tanpa mengetahui tusukan pisau di belakangku. Aku sedikit baik-baik saja. Hanya saja, ingin tidur karena banyak tugas menyita jam tidurku.
Aku meninggalkan Evelyn berada di kamar. Terdiam tanpa mengenakan pakaian apapun. Aku sudah merawatnya. Namun, psikologinya sudah hancur. Itu mengingatkanku pada seseorang. Seseorang yang menjadi mesin dan membunuh.
Aku akan memberitahu kepada Aurora tentang Evelyn pada saat yang tepat. Setelah sampai di akademi, kami menuju ke kelas sebelum pelajaran dimulai
Jam pelajaran dimulai. Guru mata pelajaran sudah siap mengajar hari ini. Mereka menjalani pelajaran dengan konsentrasi meskipun ada tugas yang membebankan pikiran mereka. Tapi, tidak dengan aku dan Aurora. Kami sudah selesai mengerjakan tugas pembuatan buku. Tinggal beberapa saat lagi untuk istirahat.
"Pengumuman sebentar. Saat ini, Buku 'World of Knowledge,' buku karangan Prince Academy, dan buku yang dibuat Mech Lolita sudah mendapatkan ISBN. Masih banyak buku yang diperiksa. Jadi, bagi yang belum mengumpulkan buku, segeralah selesaikan dan kumpulkan! Aku menunggu tugas kalian paling lambat 14 Februari 2026," umumnya mengenai pengumuman.
Aku tidak tahu apa yang terjadi pada Evelyn. Aku ingin sekali membeli buku buatannya meskipun bukan Evelyn yang menulisnya, melainkan orang lain.
"Ada pertanyaan?" Tanya guru itu sebelum mengakhiri pertanyaannya.
"Aku," jawabku mengangkat tanganku.
"Kalau misalnya, aku ingin membaca buku untuk ujian kelas. Apakah aku bisa membeli buku siswa lain?" Tanyaku.
Ia menjawab, "Boleh saja. Kamu bisa membelinya di toko buku spesialis akademi. Dengan itu, kamu bisa membelinya dengan harga yang normal," jelas guru itu memberikan penjelasan padaku.
"Baiklah, kalau tidak ada pertanyaan, aku cukupkan sampai disini dan sampai jumpa minggu depan!" Guru itu berpisah dengan para muridnya.
Kami istirahat dan segera ke tempat rahasia kami. Hanya kami yang tahu tempat iru untuk sementara. Di taman, kami mencari tempat yang cocok hanya untuk kita berdua. Rndangnya pohon akademi adalah tujuan kami lalu duduk di sana. Kami tidur dengan memeluk dan mencium tubuh kami. Kami mengerjakan semua tugas akademi. Hanya saja, kami butuh istirahat karena tugas membuat buku lebih sulit dari yang dibayangkan.
Setelah tidur sambil memeluk, kami bangun dan saling mencium agar suhu tubuhku berada di suhu yang normal. Kami melakukan ciuman yang cukup liar karena ciuman di leher begitu melekat. Aku menikmati ciuman leher dari Aurora. Ia tahu bagaimana cara membuat hubungan yang baik denganku
Setelah itu, kami segera kembali ke kelas dan mengikuti pelajaran akademi lagi.
Aku akan memberitahunya pada saat yang tepat.
[*^*]
12 Februari 2026, jam 08:00, Evelyn masih tidak masuk. Aku sudah tidak bisa mengajak Evelyn untuk ke akademi lagi. Nina masih mencari keberadaan Evelyn dan memeriksa semua catatannya. Nina tidak mengikuti pelajaran karena harus menyelidiki buku buatan Evelyn. Apakah buku itu dibuat oleh Evelyn atau tidak
Kami menjalani aktivitas seperti biasanya. Denis, Hammer, dan Zhukov mengumpulkan tugas mereka. Akishima dan Sheeran sudah terkapar karena tugas pembuatan buku itu. Saphine dan Rin merawat pasien yang sakit akibat tugas akademi yang memberatkan. Aku dan Aurora menjalani aktivitas tanpa memikirkan Evelyn yang masih mengurung dirinya.
Pulang sekolah, Akishima dan Sheeran harus istirahat dan dirawat oleh Saphine dan Rin. Hammer, Denis, dan Zhukov pergi ke cafe untuk melayani pelanggan untuk memenuhi pekerjaan sampingan mereka. Aku dan Aurora memutuskan untuk pulang dan berencana tidur dan seolah-olah menjadi pasangan suami istri. Aku harus merawat Aurora dengan terapi kekasih agar dia tidak mengalami kejadian yang sama. Kejadian yang akan membunuhku.
Sudah saatnya aku memberitahu kepada Aurora.
"Aurora. Aku ingin mengatakan sesuatu padamu," panggilku membuat Aurora menoleh.
"Eh?! Apa itu?" Tanya Aurora.
"Setelah kita tidur, kita akan menjenguk Evelyn. Kita akan melihat sebenarnya terjadi padanya. Dia akan menceritakan semuanya," ungkapku.
"Umu." Aurora mengangguk pelan dan memegang tanganku.
Aku menerima tangan Aurora dan pulang. Kami ingin sekali beristirahat sambil memulihkan tenaga dan psikologi kami. Aku mengobati Aurora dengan terapi kekasih. Ini membantu Aurora untuk melakukan hal yang mesum. Tidur seranjang tanpa memikirkan tugas yang memberatkan lagi.
Setelah sampai ke apartemen Aurora, Aurora membuka pintu dan mempersilahkanku untuk masuk. Kemudian, segera menuju ke kamar dan tidur di ranjang bersama karena sudah lelah mengerjakan tugas pembuatan buku. Kami membuka pakaian kami untuk kesehatan dan berbaring di tempat tidur dengan pelukan dan ciuman. Kami menggunakan selimut untuk menyembunyikan tubuh kami dan menghangatkan tubuh dengan meraba tubuh kami masing-masing.
Aku merasa lebih baik dengan suasana itu. Aku harap ini bisa memulihkan tenagaku.
[*^*]
Jam 19:20, aku dan Aurora terbangun dari tidur dan menikmati tubuh yang segar akibat tidur yang cukup. Kami saling mencium dengan sekejap agar kami bisa bangun, bangkit dari kasur. Kami kecanduan dengan ciuman di bibir dan leher, seperti binatang liar. Tapi, tidak ada pilihan lain. Aku lebih suka begini. Aku lebih suka diraba Aurora daripada gadis lain. Ini cukup membuatku gila.
Setelah bermain selama 10 menit dengan ciuman dan rabaan, kami bangun dari tempat tidur dan menuju kamar mandi. Aku menggendong Aurora sambil menciumnya. Setelah membawanya, aku melayaninya dengan pijatan di tubuhnya. Dia juga membantuku dengan mengeluskan tubuhku, sehingga aku merasa punya pasangan yang setia.
Setelah itu, kami mengeringkan tubuh dan mengenakan kaos. Aku ditawarkan dengan kaos milik Aurora. Aku menerimanya karena Aurora sangat ingin aku mengenakannya. Aku tidak keberatan dan menerima kaos. Setelah berpakaian, kami menuju ke apartemenku dan melihat keadaan Evelyn.
Aku sudah siap dengan ini. Aku harap Aurora akan menerima ini.
Setelah memasuki kamarku, Aurora sangat terkejut dengan kondisi Evelyn. Aku hanya terdiam dengan reaksi seperti itu. Aku hanya menutup pintu dan menoleh ke jendela dengan mataku agar dia tidak diincar oleh orang yang kejam itu. Aku harus melakukan sesuatu agar Evelyn bisa lari dari mereka.
"Evelyn. Apa yang terjadi padamu?" Tanya Aurora mendekati Evelyn.
"Kenapa kamu menjadi seperti ini? Siapa yang memperlakukan itu padamu? Jawablah aku!" Desak Aurora menggoyangkan tubuh Evelyn.
"Evelyn. Tolong ceritakan semuanya pada Aurora! Aku harap kamu bisa menceritakannya dengan jelas," harapku bersandar di tembok dengan wajah yang lesu.
__ADS_1
"Iya, desu!" Terima Evelyn menerima kode dan pesan dariku.
Evelyn menceritakan semua pada Aurora seolah-olah menjadi robot. Ia menjelaskan semuanya agar Aurora mengetahuinya. Ini diperuntukkan hanya aku dan dia. Tidak boleh ada yang lain. Aurora sudah cukup. Ini adalah permintaan Evelyn.
"Tidak mungkin! Jadi, selama ini kamu dieksploitasi selama ini?" Tanya Aurora memegang bahu Evelyn.
"Kenapa kamu tidak menceritakan padaku dari awal?" Tanya Aurora menahan emosinya.
"Kenapa kamu tidak menjawabku, Evelyn?!" Tanya Aurora menahan tangisannya.
Aku hanya terdiam di tengah drama antara dua gadis. Aku seperti seorang yang tidak punya perasaan apapun. Itu hanyalah kebohongan. Aku menyembunyikan perasaan cemas hanya untuk kebaikan Aurora. Setelah menahan semua itu, Aurora berbalik padaku dan mengomeliku.
"Rivandy! Beraninya kamu! Kenapa kamu tidak mengatakan ini dari awal?" Aurora memarahiku namun aku tidak mendengarkan ocehan itu.
"Jangan salahkan aku! Aku tidak bisa melakukan robot yang sudah rusak itu," elakku memalingkan Aurora.
"Aku tidak mau kamu teralihkan oleh Evelyn dari tugas akademi. Seandainya aku tidak ingin mencampuri urusan ini, ini tidak akan terjadi," jawabku dengan suram.
"Jangan bercanda! Kenapa kamu menjadi dingin seperti itu?! Padahal, kamu selalu masuk rumah sakit karena selalu mencampuri urusan orang lain." Aurora mengomeliku dan berniat untuk menghajarku.
"Ini bukan candaan. Ini kenyataan. Evelyn harus meninggalkan Moskow agar dia bisa aman dan bebas," jawabku dengan usulan yang menyakitkan.
"Bukankah kita bisa menjaganya?! Dengan ini, Evelyn akan selamat di tangan kita," saran Aurora memohon padaku..
"Percuma! Kita tidak punya kekuatan untuk melindunginya. Ini seperti menggali kuburan mayat Perang Dunia 2," tolakku dengan dingin.
"Sampai mati kita akan melindunginya. Aku tidak mau membiarkan Evelyn meninggalkan Moskow!" Aurora masih keras kepala.
"Tidak bisa! Aku sudah bilang padamu bahwa aku …." Ucapanku dihentikan.
"Kenapa kalian bertengkar, desu?! Hanya karena aku, Kalian sampai berdebat begini, desu. Aku merasa ingin mati, desu." Evelyn menyembunyikan wajahnya dan merasa ingin mengalirkan air matanya.
Kami terdiam. Tidak ada perdebatan lagi. Wajah kami menoleh ke Evelyn dan mendekatinya. Ia membuka selimut dan memperlihatkan tubuhnya yang telah rusak akibat bekerja terlalu keras. Aurora memahami Evelyn dengan dalam dan tidak ingin kehilangan Evelyn. Kami sudah Evelyn adalah anak kami dalam drama. Jadi, kami harus membesarkannya dan meninggalkan Moskow besok.
"Aku ingin meninggalkan Moskow, desu. Aku tidak punya siapapun lagi, desu." Evelyn putus asa dengan kenyataan.
Aurora tidak mau menerima kenyataan itu. Aku sudah tidak bisa mengatakan apapun lagi. Aku tidak akan ikut campur lagi dengannya. Aku menyerah.
“Aurora. Aku senang bertemu denganmu, desu.Tapi, Rivandy benar. Aku tidak bisa bertahan disini, desu.” Evelyn menolak dengan suram.
“Kenapa?” Tanya Aurora menahan tangisannya.
“Karena aku akan ….”
Mendengar perkataan Evelyn, Aurora terkejut dan terdiam sambil melebarkan kedua bola matanya. Aku tidak ingin mendengar apapun karena itu akan menyakitkan.
“Evelyn!” Aurora menangis dengan tersedu-sedu sambil memeluk Evelyn.
Tubuh Evelyn dipenuhi dengan tangisan Aurora. Aku hanya terdiam di tengah suasana dramatis. Sebenarnya, aku ingin sekali mengatakan perasaanku. Namun, … No one can’t understand me.
Ini pertama kalinya aku tidak bisa melakukan apapun. Aku tidak bisa melindunginya. Maka dari itu, aku memutuskan untuk membiarkan Evelyn pergi.
[*^*]
Jam 22:20, aku dan Aurora sudah mengenakan mantel kami dan mengantarkan Evelyn. Evelyn sudah membawa sebuah tas miliknya dan mantel yang hangat. Aku bersiap untuk membawa senjata Awam milikku untuk berjaga-jaga.
Kami pergi menuju ke sebuah jalan yang digunakan untuk berpisah. Jalan yang hanya kami bertiga mengetahuinya. Tidak dengan orang lain. Hanya kami yang sudah mengetahu jalan perpisahan ini. Aku udah memikirkan waktu yang tepat agar Evelyn tetap aman. Tenang saja!
Aku sudah menyuruh Evelyn untuk berjalan 2000 km ke Timur Rusia tanpa istirahat agar di tidak akan ditangkap oleh wanita busuk itu.
Tidak ada yang tahu Evelyn akan kemana. Yang jelas, dia akan pergi … dan tidak akan kembali lagi.
Setelah sampai di tempat perpisahan, Aurora dan Evelyn memeluk dengan hangat. Aku melihat mereka dari belakang. Aku tidak bisa memeluknya. Tidak ada pilihan lain. Tidak ada yang mengerti kenapa aku melakukan ini. Ini terlalu kejam. Bahkan, lebih kejam daripada wanita busuk itu.
“Evelyn. Jaga dirimu! Gunakan ponselmu kalau kamu masih merindukan kami, tolong kirim pesan padaku! Aku kan membalasnya nanti. Rivandy juga akan membalas pesanmu. Dia melakukan ini semua untukmu,” pesan Aurora pada Evelyn.
Evelyn mengangguk mengerti. Ia membalas pelukan Aurora dengan hangat sebelum meninggalkan kami.
“Umu.”
Aku bersiap melakukan tembakan jika ada yang mau menculik Evelyn lagi. Aku tidak akan memberi ampun pada mereka. Siapapun itu. Aku sudah menggunakan chip Stealth Permanently untuk Evelyn Itu akan mati jika Evelyn sudah berada dari 2000 km dari Timur Moskow.
__ADS_1
“Evelyn. Sebelum pergi, apakah ada pesan terakhir … untuk kami?”
“Ada, desu,” jawab Evelyn.
“Kalau begitu, katakanlah!” Suruh aku menarik senjata AWM.
“Papa. Mama. Aku terima kasih pada kalian semua. Aku akan pergi dari keluarga ini, desu. Aku sangat senang bertemu dengan kalian, desu. Karena kalian disini, aku bisa bebas dan tidak tergantung kontrak lagi, desu.”
Aurora hanya terdiam. Aku mendengar itu sambil merekam semua bukti itu. Aurora meratapi semua nasib Evelyn yang tidak bisa diperbaiki.
“Aku ingin sekali bersama kalian saat terakhir ini, desu. Namun, tidak ada pilihan lain, desu.”
“Sebelum pergi, tolong peluk aku dan cium aku, desu!” Kata terakhir Evelyn sebelum pergi.
Aurora dan aku memeluknya dengan hangat. Kami tidak tahan dengan drama ini. Ini keterlaluan. Ini adalah kenyataan yang cukup pahit, apalagi untuk Aurora. Aku mencium Evelyn dan membuat ingatan terakhir tentang kami. Aku merasakan tubuh Evelyn yang hangat.
Ini sudah cukup. Aku ingin pulang dan tidur lagi. Ini masih musim dingin.
Setelah itu, Evelyn pergi dengan langkah kakinya yang cukup berat. Ia tidak perlu makan untuk berjalan 2000 km jauhnya. Itu sudah cukup agar mereka tidak bisa mempererat Evelyn lagi.
Kalau Evelyn mati, tidak ada yang akan memperbudaknya. Dia akan mati dengan tenang.
Tidak ada peluang hidup di Siberia dengan kondisi seperti itu.
Kami berpelukan sambil menunggu Evelyn pergi dari pandangan kita. Kami seperti ayah dan ibu yang menunggu kepergian anaknya. Ini seperti orang tua yang ditinggalkan anaknya untuk urusan kuliah dan kerja.
Mereka tumbuh dengan cepat. Kami bangga dan cukup mengharukan.
Evelyn sudah pergi dan meninggalkan kami dengan pemandangan salju yang menghalanginya. Kami tidak akan menghentikannya. Membiarkannya pergi di tengah musim salju yang akan membunuhku.
[Jumlah siswa dan siswi Akademi Militer Spyxtria dari 260 orang menjadi 259 orang]
[*^*]
Jam 00:23, kami tidak pulang ke apartemen. Menetap di taman sepi dan duduk di kursi sambil memeluk satu sama lain. Aurora sudah menangis cukup lama. Aku mengelusnya dan memeluknya. Setelah itu, kami saling memeluk dan membicarakan sesuatu.
Kami membicarakan sesuatu yang penting.
“Rivandy,” panggil Aurora.
“Hmm?” Jawabku.
“Aku ingin sekali memberikan sesuatu padamu,” ungkap Aurora sambil dipeluk olehku.
“Iya. Katakan saja!” Aku sudah siap dengan ucapan Aurora meskipun menyakitkan.
Aurora melepaskan pelukanku dan melangkah beberapa langkah. Kemudian, membalikkan badannya dan mengambil sesuatu dari dalam bajunya. Ia mengeluarkannya dan memberikanku sesuatu yang berbentuk cinta.
“Rivandy. Happy Valentine! ini. Cokelat untukmu. Aku sudah membuatnya kemarin. I hope you… accept this gift because i love you,” ungkap Aurora dengan menahan malu.
Aku tersentuh dengan coklat dan pemberian Aurora. Di tengah dramatis, ada suatu unsur yang membuatku lebih ingin mengutarakan semua ini. Aku tidak bisa tersenyum atau apapun. Aku hanyalah remaja yang dingin.
“Aku menerimanya. Aku senang kamu memberikan ini padaku. Maka dari itu, aku menganggap ini yang pertama kalinya,” ungkapku menerima coklat dari Aurora.
“Maafkan aku! Aku membuatmu menangis dan … ” lanjutku mengaku bersalah.
“Tidak apa-apa. Aku senang kamu mengerti. Aku hanya ingin bersamamu. Tidak ada yang lain.” potong Aurora membuatku semakin bersalah.
“Kamu boleh … mengambil perawanku kalau aku siap. Setelah selesai, aku akan menjadi istrimu. You are My Prince. Tidak ada pilihan lain,” lanjutnya berpaling dariku.
“Aku mengerti. Aku sudah paham dengan semua ini.” Aku memeluk Aurora dari belakang.
“Jadi, … kita akan disini untuk sementara. Besok libur. Jadi, kita akan tidur bersama di taman ini,” ajakku memeluknya seperti suami Aurora.
“Kamu benar. Ayo!” Terima Aurora membalas pelukanku.
Kami segera menuju pohon yang dingin. Mengenakan mantel untuk kami berdua dan tidur sambil melepaskan pakaian kami di pohon taman.
Kami hubungan kami sangat romantis dan erat. Kami tidak akan melupakan malam yang dingin.
Aku harap kami hidup bersama selamanya.
__ADS_1