Rivandy Lex : Modern Military

Rivandy Lex : Modern Military
[Mei Dina & Mei Lisa]


__ADS_3

11 September 2025, jam 05:45, di Aparthotel Garden Embassy, ada seorang gadis yang sedang menggantikan pakaiannya setelah mandi. Ia mengenakan monokel warna emas. Rambut emerald sebahu dengan warna mata biru  Tubuhnya sependek Aurora dan sedang mengeringkan rambutnya.


Tak lama kemudian,  ada seorang gadis yang datang menuju ke ruang ganti gadis monokel itu. Gadis yang memasuki ke ruangan itu menyombongkan diri dengan hiasan khusus dari Negara Cina.


“Lisa. Aku sudah siap. Bagaimana denganmu?” Seorang gadis berambut merah jambu dengan wajah keturunan Cina.


“Dina. Kamu tidak boleh mengintip! Aku sedang ganti pakaian dulu.” Lisa sedang melepaskan handuknya dan mengenakan pakaian dalam warna emerald.


“Cie. Kamu malu, yah! Tubuh yang halus itu bisa menggoda laki-laki, lho,” rayu Dina sambil melihat tubuh Lisa.


“Keluar sana!” Usir Lisa sambil melempar handuknya kepada Dina.


“Kalau aku keluar,  aku harus menunggu 2 jam karena kamu mengganti baju dengan lama sekali,” cetus Dina tidak mau keluar dari ruangan.


“Keluar atau kau akan menembakmu!” Lisa mengancam Dina dengan senapan miliknya, senapan M4A1.


“Iya. Aku keluar. Kalau terlambat di akademi, aku akan menghajarmu dengan pukulanku,” pamit Dina menutup pintu dengan keras.


Lisa kembali mengganti pakaiannya sambil mengumpat, “Tch! Dasar gadis cabul!”


[*^*]


Jam 08:01, Lisa dan Dina sudah tiba di akademi. Mereka memasuki gerbang dan segera menuju ke Kelas I Saintek E bidang militer. Namun, ada seorang guru berkacamata yang menghampiri mereka dengan kayu rotan di tangannya sambil memasuki kelas.


“Mei Lisa (美 丽萨), Mei Dina (美 蒂娜). Kalian terlambat 1 menit.” ucap guru berkacamata itu yang sudah di hadapan kedua gadis itu.


“Sebagai hukuman, kalian berdiri di lorong sampai pelajaran pertama selesai,” sambungnya sambil memasuki kelas.


Dina dan Lisa hanya mengikuti apa yang guru itu ucapkan. Mereka berdiri di lorong sambil membawa tas mereka. Dina merasakan ingin menyalahkan Lisa karena keterlambatan ini.


“Ini semua salahmu. Lihat! Kita dihukum sekarang,” keluh Dina berdiri di lorong.


Lisa hanya terdiam mendengar ocehan itu. Ia berpaling dari Dina yang sedang menceramahinya. Saat Dina menceramahinya, seorang guru yang terganggu dengan omelan itu segera menuju keluar kelas.


“Tolong, jangan berisik!”  Guru itu membuka pintu dan meneriaki mereka yang sedang berdiri di lorong.


“Kamu mengganggu pelajaran siswa lain,” pamitnya sambil menutup pintu dengan keras.


Mereka yang dihukum hanya terdiam setelah bentakan itu. Lisa berdiri bagaikan seorang prajurit yang sedang berbaris di lapangan upacara.  Dina yang berdiri di sampingnya itu hanya berdiri dengan perasaan malas.


Ini sudah ketiga kalinya mereka terlambat hanya karena menunggu Lisa ganti baju selama 2 jam. Dina agak terganggu dengan itu. Tapi, dia harus menjalaninya. Oleh karena itu, mereka harus bangun jam 3 pagi untuk aktivitas agar mereka tidak terlambat ke akademi.


Detik demi detik, menit demi menit, dan jam demi jam. Mereka hanya terdiam sambil menunggu hukuman itu selesai. Dina yang kebosanan itu mulai berbicara dengan Lisa.


“Lisa. Apa kamu ingin punya pacar? Aku sudah tidak tahan lagi,” keluh Dina ingin punya pacar.


“Tidak bisa. Penduduk Cina sudah melebihi 1,98 miliar. Kamu harus menahannya,” cekal Lisa karena kondisi China yang semakin memburuk.


“Tidak mungkin! Tapi, aku tidak terlalu ingin tinggal di Cina.” sanggah Dina dengan wajah malas.


“Setelah lulus, kita akan bekerja mewakili negara China. Lalu, kita akan kembali ke Kota Shanghai setelah itu,” jelas Lisa.


“Dasar budak!” Sindir Dina mengakhiri pembicaraan.


[*^*]


Jam pelajaran militer pertama sudah selesai. Guru kelas mereka memberikan tugas kepada mereka untuk dikumpulkan minggu depan. Para murid membereskan alat tulis mereka yang ada di meja dan segera menuju ke kantin untuk memenuhi nafsu mereka.


Dina dan Lisa yang sedang berdiri didekati oleh seorang guru berkacamata itu. Dia mengajak, “Sekarang, kalau ikut ke ruangan saya untuk ditindaklanjuti keterlambatan kalian,” agar Lisa dan Dina mengikutinya di ruangannya.


Tidak ada pilihan lain. Mereka terpaksa mengikuti guru berkacamata itu untuk mengikutinya di ruang guru.

__ADS_1


Setelah sampai di ruangannya, Dina dan Lisa memasuki ruangan itu dan duduk di hadapan guru berkacamata. Guru itu memulai pembicaraan sebelum menanyakan penyebab keterlambatan itu.


“Kalian berdua. Aku sudah mendapatkan laporan dari guru lain bahwa kalian melakukan keterlambatan. Dengan kata lain, kalian terlambat sebanyak 3 kali,”


“Aku ingin bertanya. Apa … penyebab … kalian terlambat?”


“Sederhana saja. Kami bangun jam 3 pagi. Kemudian, segera membereskan kamar. Lalu, kami makan jam 4 lewat 13 dan selesai pada pukul 4:23. Kemudian kami …,” jelas Lisa


“Sst! Hehehe. Tidak ada, Bu,” potong Dina cengengesan sambil menutup mulut Lisa.


“Kalian bisa bangun lebih awal. Tapi, kenapa kalian terlambat?” Tanya guru itu curiga dengan cerita itu.


“Ah! Kalau itu, ...” Ucapan Dina terpotong.


“Kalian terlambat hanya karena ganti baju selama 2 jam lamanya?” Duga guru itu dengan mendengar cerita itu.


“Kenapa Bu Guru tahu dengan soal itu?” Lisa terkejut dengan dugaan yang guru paparkan itu.


“Sudah kuduga. Kalian …." Omelan guru itu dimulai.


Dina dan Lisa hanya menerima omelan itu. Di tengah omelan itu ada seorang siswa yang memasuki ruangan itu setelah mengetuk pintunya. Ia bertubuh tinggi 180 cm dengan rambut hitam natural.


“Bu Anvelia. Magazine ini diletakkan dimana? Pak Stephan memberikan pesan ini padamu,” pesan siswa itu menghampiri Bu Anvelia sebelum memberikan surat itu.


“Taruh situ! Soal pesan itu, aku baca nanti,” jawab Bu Anvelia sambil menerima surat itu.


“Oh iya. Rivandy. Kau perlu berlatih lagi untuk menjadi ‘Ace Spyxtria’ pada Tahun Kelima. Persiapkan dirimu!” Pesan Bu Anvelia dengan nada seriusnya.


“Um. Baiklah,” pamitnya sebelum meninggalkan ruangan.


“Gantengnya! Dia seganteng pangeran!” Puji Dina melihat wajah Rivandy.


“Itu … aku tidak terlalu mengharapkannya,” elak Lisa sambil berpaling dari Dina.


“Kami mengerti, Bu,” jawab kedua gadis itu menundukkan kepalanya.


Setelah mendapatkan teguran itu, Dina dan Lisa berdiri dan segera meninggalkan ruangan. Mereka kembali ke kelas sambil membawa tas mereka dan meletakkan tas itu ke sekumpulan tas lainnya. Setelah itu, mereka bergegas untuk pergi ke kantin untuk memesan Szechuan.


[*^*]


SIswa dan siswi Akademi Militer Spyxtria sedang memesan makanan yang beraneka macam kuliner. Mulai dari masakan Eropa, Afrika, Amerika, Australia, dan Asia. Kantin itu juga menyesuaikan lidah di berbagai negara yang dilirik oleh PBB. Jadi, siswa dan siswi dari negara Jerman disarankan memakan masakan Jerman.


Lisa dan Dina memesan Szechuan dengan kepedasan tingkat normal agar mereka bisa memakannya. Setelah memesan Szechuan, mereka duduk di tempat duduk yang kosong.


“Lisa, ada pameran untuk mengikuti 15 klub, lho,” ujar Dina yang sedang menyantap Szechuan.


“Kamu mau yang mana?” Tanya Dina yang ingin tahu dengan klub yang diikuti oleh Lisa.


“Aku ingin masuk ke Klub Militer saja,” jawab Lisa memakan tahu.


“Kyaa! Pedas!” Lisa terkena aroma pedas Szechuan di lidahnya.


“Kau tidak akan bisa masuk ke klub itu jika kamu seperti itu,” tegur Dina melihat Lisa yang sedang minum air putih dengan tergesa-gesa.


“Pedas sekali! Aku tidak bisa memakan ini,” keluh Lisa menjauhkan diri dari Szechuan.


“Ayo, habiskan! Sebagai seorang prajurit, kamu harus menghabiskan makananmu,” rayu Dina menghadapi sifat Lisa yang manja itu


“Iya. Aku akan habiskan sekarang juga.” Lisa mengambil kembali mangkuk itu dan segera menghabiskannya.


Setelah mereka menghabiskan masakan Szechuan, mereka bergegas menuju pelatihan militer mereka dan bersiap untuk berlatih menggunakan senjata. Lisa dan Dina mempelajari cara menggunakan senjata primer dan sekunder mereka. Lalu, mereka akan mengevaluasi hasil preview mereka.

__ADS_1


[*^*]


Jam 14:56, pelajaran militer segera berakhir. Guru pembimbing militer, Bu Anvelia, mengakhiri pelajaran sebelum memperbolehkan siswa dan siswi Kelas I Saintek E untuk mengikuti pameran klub. Lisa dan Dina segera mengemaskan barang mereka sebelum menuju pameran klub.


Mereka pergi ke pameran klub sambil membawa senjata mereka. Setelah mereka sampai di pameran klub mereka melihat 15 klub yang tertera di pameran itu. Anggota klub itu mempromosikan klub untuk menambah anggota mereka.


Klub yang paling diminati adalah Klub Olahraga atau Klub Militer. Sedangkan, klub yang paling sepi peminat adalah Klub Programmer karena dari 288, hanya 2-10 orang yang mendaftar setiap tahunnya.


“Aku mendaftar ke Klub Pangeran dulu. Silahkan mendaftar ke Klub Militer!” Dina mempersilahkan Lisa untuk mendaftar sambil menuju ke stan Klub Pangeran.


“Memangnya klub itu ada?” Pikir Lisa tidak tahu dengan Klub Pangeran.


“Ya sudahlah! Aku akan kesana,” batin Lisa yang segera menuju ke stan Klub Militer


Lisa pergi dengan langkah seorang prajurit di tengah ramainya pameran klub.


[*^*]


Stan Klub Pangeran. Sudah lebih 30 gadis yang mendaftar ke klub tersebut. Entah apa tujuan, kegiatan, dan visi mengenai klub itu.


Dina menghampiri stan itu.dengan penuh semangat dan riang.


“Selamat datang di Klub Pangeran! Boleh tulis nama, kelas, dan nomor Telegram-nya!” Minta pemilik stan itu memberikan pulpen kepada Dina.


Dina mengisi biodata itu dengan tulisan yang rapi. Ia juga menuliskan dengan kanji sederhana dan huruf romawi.


[Nama : Mei Dina


 Kelas : I Saintek E


 Nomor Telegram : +86 2 ** ****]


Setelah mengisi, Dina diperbolehkan masuk. Sebelum itu, ia melihat ada dua gadis yang sedang menarik seorang siswa. Dian melihat siswa itu sebelumnya saat  ia dimarahi oleh Bu Anvelia karena terlambat


Itu adalah Pangeran Rivandy.


“Hei, aku menemukan sesuatu,” ujar Dina menoleh ke pemilik stan itu.


“Apa itu?” Tanya pemilik stan itu.


“Pangeran,” jawabnya singkat.


Pemilik stan itu, “Yosh! Camelia 1, aku menemukan mereka. Dia ada disana,” sambil melihat Rivandy dengan seksama.


“Roger!” Terima anggota Camelia 1.


Mereka bersiap untuk melakukan operasinya untuk memperjelas penglihatan mereka dan mengunci targetnya.


Pada saat Denis, Hammer, Aurora, dan Evelyn bertengkar, anggota Camelia 1 membuka jalan mereka untuk mengajak Rivandy untuk ke Klub Pangeran.


Gadis Kosta Rika berseru, gadis Arab Saudi membuat surat lamaran untuk Rivandy, dan gadis Australia membuatkan kue untuk Rivandy.


Namun, gadis itu menarik Rivandy untuk ke lari. Dina dan anggota Klub Pangeran segera menyusulnya untuk menangkap targetnya.


Para pengejar melakukan tembakan untuk menghentikan langkah gadis yang membawa Rivandy.


Mereka yang menjaga Rivandy membalas serangan mereka. Namun, Rivandy tidak pernah menembak karena ia adalah seorang sniper.


Namun, karena Dewi Fortuna memihak kepada sisi Klub Pangeran, mereka berhasil memojokkan mereka dan membawa Rivandy ke Klub Pangeran.


Dina yang berpartisipasi dengan pengejaran itu mengikat tawanan itu.

__ADS_1


Akhirnya, Rivandy menjadi milik Klub Pangeran. Dia selalu bersama kami selamanya.


__ADS_2