
24 November 2025, Jam 05:34, Shiori terbangun dari tidurnya yang dipenuhi rantai dan jarum tajam lalu menyembunyikan sesuatu yang ada pada teman baiknya itu. Ia mandi dengan air yang penuh darah panas. Lalu, ia memakan sekumpulan paku. Setelah itu, ia mengenakan pakaiannya dan segera menuju keluar ruangannya.
Ia berjalan sendirian sebelum meninggalkan apartemen. Namun, ada lima orang dari Indonesia yang memanggil namanya. terutama pada gadis berambut orange, Anivesta Bella, beserta dengan keempat temannya.
“Shiori!” Panggiku pada Shiori yang sedang berjalan sendirian.
“Bella,” sahut Shiori menoleh kepadaku.
“Shiori. Ayo kita berangkat bersama-sama. Kita harus cepat sekarang juga,” pintaku mendahului langkah Shiori.
“Ayo! Kita bakalan telat, nih,” keluh Andika dengan ocehannya.
“Shiori. Aku akan meninggalkanmu, nih,” sahut Wulan mendekati Shiori.
“Ayo. Kita harus sampai ke akademi terlebih dahulu!” Ajak Yudha.
Shiori hanya mengangguk mengerti dan tidak mengatakan sepatah kata apapun. Ia hanya terdiam dengan akrabnya orang Indonesia. Tak lama kemudian, Kotori bertemu dengan Shiori dan segera mendekatinya, lalu mereka berjalan lagi dengan penuh akrab.
Jam 08:02, pelajaran akademi telah dimulai di Kelas I Soshum A. Aku dan Shiori memulai pembelajaran dengan tema “Interaksi Sosial” dan pengumpulan tugasnya. Shiori sudah mengumpulkan tugasnya terlebih dahulu. Sama seperti yang Rivandy lakukan. Namun, dikabarkan ia tidak masuk akademi karena suatu penyakit yang ia derita.
Aku menoleh pada Shiori yang suram karena suatu alasan. Aku melihatnya tidak mengatakan apapun. Niatku mencoba menanyakan sesuatu padanya. Namun, ia tidak menjawab sekalipun. Aku malah hanya berfokus dengan pelajaran dan mengabaikan Shiori untuk sementara waktu.
Jam 10:01, pelajaran telah berakhir. guru sosiologi memberikan tugas pada siswa dan segera dikumpulkan paling cepat besok atau paling lambat minggu depan. Aku bisa mengerjakan sepulang sekolah nanti.
Aku ingin mengajaknya untuk pergi ke kantin. Namun, Shiori harus pergi ke toilet dulu untuk melakukan sesuatu. Aku hanya menerima Shiori dan berjalan ke kantin tanpa bersama Shiori sekalipun.
Aku menuju kantin dan sedikit khawatir dengan kondisi Shiori. Aneh sekali, ini tidak seperti biasanya. Aku tidak bisa membayangkan sesuatu yang menimpa dirinya. Setelah sampai di kantin, aku duduk bersama keempat temanku yang cukup akrab denganku. Tidak ketinggalan Kotori juga disitu.
Andika tidak melihat Shiori dimanapun. Ia bertanya, "Eh? Bella! Shiori dimana?”
Bella menjawab, “Dia sedang di kamar mandi wanita. Aku tidak tahu apa yang ia lakukan.”
“Shiori kebetulan tidak berada di samping kita. Aku merasakan hal yang aneh tadi pagi. Ia tidak banyak bicara dan sedikit murung,” lanjut Kotori sambil memakan bakso.
“Heh?! Aku harus mencari Pangeran. Dia bisa meminta tolong padaku untuk membersihkan rumah,” cela Andika sambil makan mie Lemonilo.
“Oh begitu. Aku tidak bisa mengatakan sesuatu mengenai Shiori saat ini. Aku hanya memikirkan cara bisa bertemu Pangeran,” lanjut Yudha.
“Hush! Pangeran terus! Mending kita diskusi ada apa dengan keadaan Shiori yang sedikit berubah itu.“ saran Wulan sambil memakan ice cream.
"Aku merasa tidak biasanya pada Shiori," lanjut Farah sambil mengenakan alat kecantikannya.
Kami berdiskusi bagaimana keadaan Shiori yang berbeda dari biasanya. Aku dan Kotori segera menghabiskan makanan kami dan segera menyimpan piring kotor pada ibu kantin. Kemudian, kami mencari keberadaan Shiori yang ke kamar mandi itu.
Keempat teman itu segera berbincang dan mencari sesuatu yang membuat Shiori itu berbeda. Mereka berpikir bahwa Shiori tidak merasa lebih tenang lagi. Mereka hanya berharap Shiori akan baik-baik saja, hanya menganggap Shiori sedang tidak mood atau menstruasi. Bukan cepat marah sepertiku, ia agak murung dan suram.
Andika dan Yudha segera menyantap kembali makanan mereka. Farah dan Wulan harus segera menghabiskan makanan mereka di atas meja dan menjalankan aktivitas mereka seperti biasa
Farah harus bertemu dengan Chelsea-senpai terlebih dahulu untuk rapat penting. Sementara, Wulan kembali ke kelas dan mengerjakan tugas mereka. Setelah makan, Andika membeli makanan ringan dan menemui Eleva. Yudha kembali ke kelas untuk mengerjakan tugasnya.
__ADS_1
[*^*]
Aku dan Kotori berjalan menuju kamar mandi wanita. Kami menjenguk Shiori di kamar mandi itu. Kami merasakan hal yang tidak enak pada Shiori. Biasanya, kami bersama, namun, tidak kali ini. Aku segera memasuki ke kamar mandi wanita. Namun, Shiori keluar terlebih dahulu.
Ia dalam kondisi fisik yang baik. Namun, ia sedang suram sekarang. Aku segera menyapa, "Shiori. Kamu baik-baik saja?"
Shiori hanya mengangguk saja. Ia tidak mengeluarkan sepatah kata apapun dari mulutnya, hanya menatapku dan Kotori dengan sesaat. Kotori yang bisa membaca situasi mengajak, "Ayo. Shiori. Aku akan memberikanmu makan!"
"Um. Iya," jawabnya menerima tawaran itu.
Kami pun pergi meninggalkan akademi dan segera menghabiskan waktu istirahat kami sebelum waktu istirahat habis. Saat itu, kami segera memasuki ke kelas kami. Kotori masuk ke Kelas I Saintek D, dan aku dan Shiori masuk ke Kelas I Soshum A. Pelajaran dimulai lagi dan Bu Minerva akan mengajar kelas dengan membawa AK-47 miliknya.
Kami menjalankan pelajaran dengan kondusif. Kami mencatat tugas dan menyimak dengan baik. Namun, kami mendapatkan tugas yang cukup memberatkan para siswa siswi kelasku ini.
"Baiklah. Sekarang, aku menyuruh kalian untuk mengerjakan tugas matematika yang dibuat oleh siswa Kelas I Saintek A, Rivandy Lex. Kalau kalian tidak mengerjakannya, aku akan menghukum kalian minggu depan, kelas bubar hari ini," pamitnya segera meninggalkan kelas setelah menulis soal yang dibuat oleh Onii-chan.
Onii-chan! Kenapa dia selalu membuat soal yang cukup sulit ini? Meskipun IQ-ku sama dengan Onii-chan, aku belum terbiasa dengan rumus matematika. Tidak ada pilihan lain. Aku menoleh pandanganku kepada Shiori yang masih terdiam.
"Shiori. Aku tidak bisa mengerjakan tugas ini. Mungkin kamu …." Aku terkejut dengan Shiori yang terdiam itu
Shiori masih terdiam dengan panggilanku itu, hanya menatap papan tulis dengan cukup lama. Aku berusaha menarik perhatianku padanya. Percuma saja. Shiori hanya terdiam dengan panggilan yang kulancarkan.
Tidak ada pilihan lain. Aku membiarkan nya untuk diam, segera meminta bantuan pada Sinta dan Diana untuk menyelesaikan soal itu. Mereka menyetujuinya dan mencoba mengerjakan dengan senang hati. Namun, mereka tidak bisa mengerjakan satu soal pun.
Alhasil, aku tidak mengerjakan soal itu dan mereka memilih menyerah. Aku akan meminta Onii-chan untuk menyelesaikan soal ini. Dia yang buat soal, kami yang pusing.
Aku mengikutinya secara perlahan dan bersembunyi dari pandangan Shiori dan mengendap-endap. Kemudian, mengikuti langkahnya dengan pelan dan melihat apa yang ia lakukan. Aku ingin tahu apa yang ia lakukan pada saat jam seperti ini.
Namun, saat Shiori memasuki kamar mandi, langkahku terhentikan oleh sebuah tekanan. Aku juga merasakan hal yang cukup tidak mengenakan itu. Aku berusaha untuk masuk ke dalam kamar mandi wanita. Namun, ada seorang yang mencegahku ke sana.
Orang itu adalah Kotori. Kotori yang menghentikan langkahku berpinta, "Shh! Jangan berisik! Kita jangan masuk ke dalam dulu. Aku merasakan kekuatan yang menyengat disini."
Aku yang terhentikan oleh Kotori itu segera merespon, "Kamu sudah tahu apa yang Shiori lakukan?*
"Pokoknya, kita pergi meninggalkan tempat ini sekarang juga!" Pesan Kotori dengan serius.
Akhirnya, kami pun segera meninggalkan kamar mandi wanita yang dimasuki oleh Shiori. Kami segera menuju ke taman untuk membahas sesuatu yang penting menurut Kotori. Setelah sampai di taman, kami segera membicarakan sesuatu yang penting untuk Shiori.
“Ada apa, Kotori? Kau agak khawatir dengannya,” tanyaku pada Kotori.
“Aku akan menceritakan sesuatu yang sangat penting kepadamu. Tolong dengarkan aku baik-baik!” Pesan Kotori memulai pembicaraannya.
Aku hanya menerima itu. Aku segera menyimak cerita itu dengan serius. Kotori menceritakan, “Sebenarnya, Shiori itu ….”
[*^*]
Jam 10:01, Shiori pergi menuju ke toilet dan menolak ajakanku untuk ke kantin. Aku membiarkan itu dan segera menuju ke kantin tanpa ada disisi Shiori. Shiori dengan murungnya bergegas ke kamar mandi wanita dan segera melancarkan aksinya.
Ia segera memuntahkan darah dari mulutnya karena tidak tahan dengan paku. Ia juga merasa mual karena beberapa paku telah membuatnya tidak enak badan. Setelah memuntahkan itu semuanya, ia mengambil jarum dari kantongnya dan segera menusuknya di bagian perutnya,
__ADS_1
Ia menjerit kesakitan dengan penderitaan itu. Ia merasakan tubuhnya yang berlumuran darah karena banyak jarum yang telah menusuknya pada saat mengenakan seragamnya. Ia menuju dalam toilet dan segera mengeluarkan jarum dari pakaiannya
Lalu, ia dengan perasaan menyesal segera menusuk lehernya, sehingga lehernya mengeluarkan darah. Ia juga memasukkan benda tajam itu ke alat vitalnya, sehingga ia menjerit kesakitan sambil menahan tangisannya.
Setelah jeritan dan tangisan itu, ia mengalami penderitaan yang cukup mendalam dan segera menusuk dadanya dengan jarum yang besar dan tajam itu. Pada saat itu, dadanya sedang mengucurkan darah yang segar dan segera berteriak dengan keras walaupun para siswa dan siswi di luar kamar mandi wanita tidak dapat mendengar itu.
Terdapat sebuah suara yang terngiang-ngiang di kepalanya. Ia mengingat dirinya berada dalam sebuah penyiksaan. Ia mendengar sebuah amukan dan kebencian pada Shiori. Maka dari itu, Shiori menggunakan jarum yang tajam itu dan menusuk tubuhnya,
Karena tidak tahan lagi dengan penyiksaan itu, ia segera menuju ke wastafel dan memuntahkan darahnya. Lalu, ia membersihkan wastafel itu agar tidak ada bukti dan darah yang berada di kamar mandi wanita itu.
Ia mengenakan seragamnya kembali dengan jarum yang berlumuran darah itu dan menahan rasa sakitnya iu. Ia juga mengenakan pakaian dalam yang sudah ditempel oleh jarum yang menyakiti tubuhnya itu.
Pada saat aku dan Kotori ingin memasuki kamar mandi wanita, Shiori sudah keluar dari kamar mandi dan segera bertemu denganku dan Kotori. Kotori mentraktir Shiori agar Shiori menjadi lebih baik. Namun, aku tidak merasa nyaman dengan Shiori yang saat ini.
Pada pelajaran Bu Minerva, Shiori tidak terlalu mendengarkan perkataan dari Bu Minerva, hanya menahan semua rasa sakit yang dia rasakan dan tidak memperdulikan Bella yang sedang memanggilnya. Dengan terpaksa, Bella meminta bantuan pada Sinta dan Diana yang pada akhirnya, tidak dikerjakan juga.
Setelah pelajaran yang tidak dapat dimengerti oleh sebagian besar siswa dan siswi, bel akademi berbunyi. Shiori menuju ke kamar mandi wanita dan tidak ada yang melihatnya saat ia menyakiti dirinya sendiri.
ia tidak menyangka aku mengikuti arah kemana ia pergi Shiori tidak terlalu mengetahui keberadaanku dan segera fokus menuju ke kamar mandi wanita. Entah apa yang ia lakukan saat ini.
Setelah sampai di kamar mandi wanita, Shiori masuk ke ruangan itu dan memulai ritual penyiksaannya. Aku ingin sekali mendekati Shiori dan menghentikannya. Namun, Kotori malah menghentikanku dan menjauhi dari kamar mandi wanita itu.
Dan itu yang membuatku berada dalam taman akademi. Kotori memperingatkanku bahwa Shiori terperangkap pada suatu supernatural.
[*^*]
Aku tidak menyangka dengan cerita dari Kotori. Aku merasa terkejut bahwa Shiori melakukan hal yang seperti itu. namun, Kotori masih meragukan hal itu dan segera memikirkan sesuatu padaku.
Valhalla?
Apa itu?
Aku tidak mengerti. Jika aku peramal, aku bisa menebak masalah yang dihadapi oleh Shiori.
Namun, ini belum masuk akal. Shiori memiliki kekuatan supernatural apa? Dan Kotori memiliki kekuatan supernatural juga. Aku juga tidak mengerti kekuatan apa yang kumiliki.
Sial! Aku bukan orang yang bisa mengetahui supernatural. Kotori adalah orang yang sulit dimengerti pada umumnya.
“Kotori. Kamu tidak tahu apa yang kamu ceritakan. Maksudku, aku tidak tahu aku memiliki kekuatan supernatural. Jadi, aku ….” Aku ragu dengan cerita Kotori yang tidak jelas.
“Sudahlah! Kau tidak perlu mengetahui itu. Kau akan mengetahui nantinya,” jawab Kotori dengan memainkan piring hitamnya yang dikeluarkan dengan kekuatan supernatural miliknya.
“Kau tadi bilang Valhalla, kan? Siapa itu?” Aku semakin tidak mengerti apa yang diucapkan oleh Kotori.
“Aku juga tidak tahu. Yang pasti kita harus menjaga Shiori agar dia tidak menyakiti dirinya,” jawab Kotori bertekad untuk menyelamatkan Shiori dari berbagai ancaman yang menimpanya.
Pemandangan taman ini menjadi tegang dan gelap. Ketidaktahuan akan sesuatu mengakibatkan penderitaan seseorang semakin membesar. Sebelum itu, Kotori mengatakan sesuatu yang penting dan tidak boleh dilupakan.
“Ingat, Bella! Kau harus hati-hati sekarang! Shiori sedang menderita. Maka dari itu, … kita harus melakukan sesuatu.”
__ADS_1