
Masalah terbesar dimulai dari … sekarang.
Aku dan Sheeran sedang duduk di kursi untuk menunggu kereta agar bisa pulang ke Moskow. Sheeran sedang tertidur pulas karena rasanya melelahkan akibat selalu menciumiku setiap saat. Karena itu,aku menjaganya agar Sheeran bisa mengisi tenaganya.
Aku menjaga diri agar tetap hangat. Ingin sekali mengenakan alat penghangat tubuhku. Namun, itu akan membuat Sheeran marah. Aku tidak ingin membuat gadis itu memarahiku. Jadi, aku terdiam saja agar tidak dimarahi olehnya.
Tapi, aku melakukan sebuah kesalahan yang fatal. Aku membuat Sheeran menjadi menderita. Bahkan itu membuatku semakin terjatuh. Terjatuh di lubang penderitaan. Ini belum sebanding denganku.
27 Desember, jam 07:07, Sheeran terbangun secara tiba-tiba. Ia memandang sekitar sebelum menaiki kereta. Namun, ia terkejut dengan langit biru. Ia mencoba mengulangi hal yang sama. Namun, tidak melihat tanda malam sekalipun. Dengan situasi buruk itu, dia membangunkanku dengan paksa.
"Rivandy! Bangunlah!" Sheeran menggoyangkan tubuhku agar aku terbangun.
Tak lama kemudian, aku terbangun dengan udara yang tidak terlalu buruk. Aku membuka mataku dan menoleh pada Sheeran.
"Ada apa?"
"Ini jam berapa?" Tanyanya panik dengan kondisi sekarang ini.
"Sebentar. … ini jam 07:07. Kenapa?" Tanyaku segera mengambil ponselku dan menjawab dengan tatapanku ke layar.
"Apa?! Jam 07:07?! Kita akan berangkat jam 20:00. Kenapa kamu tidak membangunkanku?" Geram Sheeran karena ketinggalan kereta.
"Habisnya di luar itu dingin sekali," jawabku sambil menahan suhu dingin.
Mendengar penjelasan dariku, Sheeran langsung menamparku. Tamparan itu membuatku terjatuh dengan mudahnya karena semakin melemah. Aku tersungkur dan mencoba berdiri tapi tidak bisa. Dengan itu, Sheeran mengangkatku ke atas.
"Rivandy bodoh! Itu adalah uangku yang terakhir! Kita melewatkan kereta ini. Karena kau, kita tidak bisa pulang ke Moskow!" Sheeran memarahiku dengan tamparan di pipiku.
Amarah Sheeran mendorongku ke lantai. Aku merasakan sakit saat aku dibanting. Ini seperti ditampar Akishima pada saat itu. Aku membuat Sheeran melukaiku. Bahkan, aku semakin lemah dan tidak berdaya. Aku membuat Sheeran menjadi seperti ini.
Dengan keputusan itu, Sheeran mengambil barang kami berdua dengan wajah memerah dan melangkah dengan beberapa kata yang dilontarkan. Aku berdiri dari jatuhku meskipun aku tidak bisa karena kehilangan semua tenagaku.
"Sudahlah! Lebih baik kita berjalan saja. Jarak Kota Moskow dan Kota Voronezh 515 km," jelasnya memerintahkanku untuk berjalan.
"Tapi, Sheeran. Aku punya kartu kredit. Kita bisa membelinya lagi," usulku dengan kartu kredit di tanganku.
"Persetan dengan kartu kredit! Percuma kalau kamu punya uang tapi tidak ada kereta yang menuju ke Kota Moskow saat ini." Sheran berniat untuk memukulku.
"Aku ingin sekali memukulmu dan membuangmu di hamparan salju," lanjut Sheeran berniat mengepal tangannya untuk memukulku.
Aku semakin ketakutan dengan kata hamparan salju. Setiap kali aku mendengar kata itu, itu bisa membuatku terbunuh. Jika sedikit lagi paparan salju itu mengenaiku, aku tidak akan bisa berjalan lagi.
Kali ini, dia tidak punya belas kasihan sekalipun. Karena tidak ada kereta menuju Moskow, kami harus menggunakan cara terakhir.
Dengan kecerobohan yang ku buat, Kami terpaksa berjalan meninggalkan stasiun kereta dan segera meninggalkan kota Voronezh dengan jalan kaki.
Aku berusaha membujuknya untuk istirahat. Aku ingin sarapan dulu bersamanya. Namun, aku takut jika Sheeran benar-benar membuangku di hamparan salju dan tempat yang dingin. Ia juga menyita barangku karena aku tidak membangunkannya.
Setelah sampai di perbatasan kota. Kami berjalan terus menerus. Namun, udara dingin mulai menyerangku. Aku tidak peduli. Sheeran akan meninggalkanku. Kalau dia meninggalkanku, sudah pasti peluang kehidupanku akan berakhir dan akan mencapai titik 0%. Ini cukup menakutkan. Dengan musim dingin itu, membuat Sheeran menjadi menderita.
Kecerobohan yang telah ku buat membuatnya tidak bisa menaiki kereta lagi. Padahal ini adalah kelemahanku. Aku tidak bisa menjalani kehidupan normal di musim dingin.
Ketika di Kilometer 26, kami terus bergerak. Sheeran tidak membiarkanku menghangatkan diri. Aku hanya menggosokan kedua tanganku untuk menghangatkan diri. Aku tidak boleh menggigil pada saat musim dingin. Itu akan membunuhku.
__ADS_1
Di kilometer 41, aku mulai kelaparan. Namun, Sheeran menahan kelaparan dan terus berjalan. Dia tidak membiarkanku makan. Kami tidak membeli makanan di saat kami tiba di stasiun kereta. Ini sedikit diskriminasi. Tapi, menurut Sheeran lebih cepat kita bergerak, hasilnya akan lebih baik.
"Sheeran! Aku lapar!" Aku menahan diri agar suaraku tidak sampai di telinga Sheeran.
Di kilometer 56, aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Aku sudah berjalan sejauh itu. Tapi, Sheeran masih bisa menahan laparnya dan berjalan ke depan tanpa memperdulikan aku yang menjerit kesakitan.
"Sheeran! Tolong aku!"
Pada saat sudah berada dalam di kilometer 90, aku sudah tidak bisa berjalan lagi. Kakiku terasa sakit. Aku memaksakan diri agar Sheeran bisa disusul. Padahal, percuma saja. Dia tidak akan membiarkanku begitu saja.
Pada saat di kilometer 91, aku berhenti melangkah dan tersungkur ke jalanan. Aku tidak bisa menahan penderitaan ini. Disuruh berjalan 515 km di musim dingin membuat peluang kematianku meningkat. Aku tidak bisa melakukan apapun untuk sampai ke kota Moskow tepat waktu.
"Rivandy! Ayo cepat jalan! Kita masih berada …." Sheeran menghentikan ucapannya karena ia menoleh kepadaku yang sudah terkapar.
Ia terkejut karena aku tersungkur dan menahan laparku. Aku tidak bisa berjalan lagi. Sudah berada di ambang batasku. Dengan tersungkurnya aku di trotoar, Sheeran semakin cemas tak terkendali.
"Rivandy! Kamu kenapa? Kamu lelah dan lapar? Kenapa kamu tidak bilang dari tadi?" Tanya Sheeran tidak mengetahui penderitaanku.
Karena itu, ia menggendongku dan segera menuju ke kawasan hutan. Ia bergumam, "Jangan khawatir, Rivandy! Aku tidak akan membiarkanmu mati," gumamnya sambil menggendongku yang sedang kedinginan dan kedua ransel yang berada di tangan Sheeran.
Sheeran membawaku ke hutan. Ia meninggalkan trotoar yang seharusnya menunjukkan jalan ke Moskow. Namun, ia tidak peduli. Ia hanya membawaku ke tempat yang aman. Kalau bisa, ia akan memikul semua beban untukku. Membawaku pulang ke Moskow walaupun arah jalannya melenceng ke utara. Tapi, ia tidak bisa begini terus dan butuh istirahat.
Jam 15:12, Sheeran terus berjalan. Tanpa memikirkan makanan, tempat yang hangat, dan lainnya. Ia hanya memikirkan tempat yang bisa teduh. Setidaknya, ada gua yang dapat ditinggali agar bisa melanjutkan perjalanan ini.
Akhirnya, ia menemukan sesuatu di dalam pandangannya. Ia ke goa dan segera memasuki tempat itu. Ia membaringkanku di tempat goa itu dan membereskan sesuatu. Ia memberiku makanan sebanyak 70 persen sementara 30 persen ia makan. Ia lebih mementingkan aku yang sekarat daripada dirinya.
Pada saat istirahat berlangsung, ia ingin sekali melanjutkan pekerjaannya. Namun, cuaca dingin mulai menyerang goa. Ia sedikit kedinginan walaupun ia sudah menghabiskan makanannya. Aku hanya terdiam sambil menoleh ke Sheeran dengan tenaga yang tersisa.
Saat ia mengecek suhu tubuhku dengan termometer yang terpasang di ponselnya, ia terkejut dengan hasilnya. Ia merasa kehidupanku tidak lam lagi akan berakhir.
[Suhu Tubuh]
[-1° Celcius]
"-1°?! Tidak mungkin ini pasti rusak. Aku akan mencobanya lagi," tekad Sheeran mengutuk ponselnya.
Sheeran mencobanya lagi. Kali ini, ia melakukan sesuai dengan prosedur. Namun, hasilnya tetap sama saja setelah ia mengecek termometer di ponsel. Ini semakin memburuk. Sheeran merasa tertekan dengan hasil yang sudah benar itu.
[Suhu Tubuh]
[-1° Celcius]
"Tidak! Tidak! Tidak! Tidak! Rivandy! Tolong jawab aku!" Sheeran berusaha untuk menyadarkanku namun aku masih menggigil.
"Aku harus menyembuhkanmu sekarang juga," tekadnya mencari sesuatu.
Ia mengeluarkan alat penghangat tubuh untuk mengembalikan suhu tubuhku. Ia mengeluarkan alat itu dengan buru-buru. Kemudian, berniat untuk menyembuhkanku sebelumnya mengutuk benda itu dan menyimpannya pada saat aku tertidur.
"Tolonglah! Aku mengandalkanmu," gumam Sheeran sambil berdoa dengan agama Kristen Ortodoks.
Ia memasang alat itu dan mengikuti prosedur yang tepat. Namun, alat itu tidak bisa menghangatkan tubuh dan menaikkan suhu jika penderita itu sudah kurang dari 0 derajat. Sheeran semakin panik dan tidak karuan.
"Sial! Kenapa tidak hangat juga? Aku coba yang lain!" Sheeran semakin panik dengan kegagalan proses penghangatan tubuh dari alat itu.
__ADS_1
Sheeran mencoba untuk menghangatkan tubuhku dengan berbagai cara. Mulai dari menyuapiku, membuatku minum air putih dan lain sebagainya.
Namun, 2 jam 30 menit berlalu, suhu tubuhku malah semakin menurun. Dengan kesempatan terakhirnya, dia membuat api unggun agar suhu tubuhku meningkat. Ia mengambil korek api moderm milikku dan membakar benda yang ia ingin bakar. Ia berniat untuk membakar semua pakaiannya agar aku tetap hidup.
Ia terus menyalakan korek api tanpa henti. Ia berharap apinya menyala. Namun, karena suhu dingin yang cukup ekstrim, korek tidak bisa menyala.
"Nyala! Nyala! Nyala! Ayo nyala! Aku mohon menyalalah!" Sheeran terus memohon agar korek apinya menyala
"Sheeran. Tolong hentikan! Kau sudah berusaha keras. Kau tidak perlu melakukan itu lagi. Aku tidak menyuruhmu untuk mengembalikan suhu tubuhku. Aku … sudah tidak tertolong lagi,"
"Jadi, aku tidak bisa bertahan lama. Dengan suhu tubuh yang semakin menurun, aku … akan mati,"
"Aku bersyukur bertemu dengan kehidupanku. Aku senang bertemu dengan banyak orang. Meskipun, kehidupan itu menyebalkan, aku tetap menjalaninya. Aku … juga dengan bertemu dengan orang yang perhatian padaku. Aku juga … senang bertemu denganmu," pesan terakhirku di tengah suhu yang semakin dingin.
"Tidak! Jangan katakan itu! Kalau kamu mati, siapa yang akan menikahiku? Siapa yang akan mengambil keperawananku? Siapa … siapa yang akan menjadi Pangeranku?" Sheeran mulai mengaku.
"Kalau kamu mati, aku … tidak bisa bertemu dengan Aurora, dan Evelyn. Mereka … akan menyalahkanku atas kematianmu. Aku … akan dibawa ke pasar malam oleh mereka dan aku … menjadi seorang gadis cabul selamanya," ungkapnya tidak bisa menahan tangisannya.
Sheeran mulai menangis keras dengan keputusasaannya. Ia dengan tidak memiliki ide untuk menaikkan suhu tubuhku. Semua cara sudah dilakukan. Tidak ada yang berhasil. Suhu tubuhku semakin menurun sampai -10 derajat. Ini membuat Sheeran tidak bisa melakukan apapun.
Hanya ada satu jalan yang Sheeran pilih. Ia memilih pilihan yang terakhir. Ia melakukan itu untuk mengembalikan suhu tubuhku. Ini pilihan terakhir. Jika Sheeran bisa mengembalikan suhu tubuhku, aku akan selamat. Jika tidak, aku akan mati. Ini adalah satu-satunya pilihan daripada tidak sama sekali.
Ia memutuskan untuk mengembalikan suhu tubuhku dengan cara yang ia sering lontarkan kepadaku. Ia selalu bertingkah mesum padaku, sehingga membuat Akishima tersinggung.
"Persetan dengan apapun! Aku akan menyembuhkanmu sekarang juga! Aku memutuskan … aku akan mengakhiri status perawanku disini."
Ia membuka pakaiannya dan membuangnya. Ia juga membuang pakaian dalamnya. Ia melakukan seperti seorang istri yang mesum pada suaminya.
Ia melakukan penetrasi pada tubuhku dan melepaskan semua kesuciannya padaku. Ia tidak peduli lagi dengan itu. Ia tidak ingin menjadi gadis perawan lagi. Ia akan menjadi gadis cabul untuk suaminya.
Ia teringat pada kata yang membuatnya tertekan. ]enjadi tidak nyaman saat ia membayangkan suatu kata yang tidak mengenakannya.
"Pilih mana? Kau mau menjadi gadis cabul atau kamu membunuh pangeran? Pilihlah dengan bijak! Aku akan menunggumu,"
"Kalau Rivandy mati, aku akan membawamu ke pasar malam, desu."
"Aku serahkan Rivandy padamu. Jika dia mati, aku akan menghajarmu."
"Tolong serahkan Rivandy padamu! Kau harus merawatnya! Kalau dia mati, kau akan menjadi korban bullying."
Dengan pikiran yang membuat tertekan itu, Sheeran melakukan semua ini. Ia terus mempercepat penetrasi agar bisa menaikkan suhu tubuhku.
"Aku mohon. Hiduplah! Hiduplah! Hiduplah! Hiduplah! Hiduplah!" Sheeran melakukan penetrasi sambil menangis.
"Aku mohon, Rivandy. Jangan mati! Aku akan menghangatkanmu. Aku siap menjadi gadis cabul untukmu. Karena, … aku suamimu,"
Dengan pengakuan itu, Sheeran mengalirkan cairan hangatnya ke tubuhku. Ia merasa keenakan karena cairanku memasuki tubuhnya. Dengan itu, dia melakukannya lagi karena sudah kecanduan dengan tindakan mesumnya.
Kemudian, ia menciumku dan melakukan penetrasi lagi sampai puas. Ia melakukan itu agar aku tetap hidup.
Setelah puas, Sheeran merasa lelah. Ia tidak memiliki tenaga lagi untuk melanjutkan pekerjaan sebagai istri. Akhirnya, ia tidur bersamaku dan memelukku dengan erat. Ia berharap kami mati bersama. Itu saja sudah cukup.
Jangan khawatir, Suamiku! Aku akan menjadi gadis cabul. Gadis cabul yang selalu menggodamu ~ Sheeran Chezka.
__ADS_1