Rivandy Lex : Modern Military

Rivandy Lex : Modern Military
Episode Spesial : Hari Natal di Moskow


__ADS_3

6 Januari 2026, jam 07:34, seorang gadis yang berjalan dengan senang hati. Dia berjalan dengan suasana riang. Baju gamis warna violet dan kerudung violet. Ia sedang menuju ke suatu tempat yang dianggap spesial baginya. Dia merupakan gadis kecil yang sedang berada dalam pertumbuhan.


"Tidak sabar ada Natal. Aku akan mengajak Sayangku untuk merayakannya," gumamnya dalam hati.


Ia pun segera menuju ke apartemen yang nomor 301. Ia membunyikan bel dengan hari yang riang dan dengan tingkah seperti anak kecil. Tak lama kemudian, ada gadis yang membuka pintu itu. Ia adalah Akishima Renji, siswi Kelas I Saintek C.


"Moshi-Moshi! Ini siapa?” Tanya Akishima membuka pintunya.


Ia melihat ada seorang gadis yang mengenakan kerudungnya.  Baju gamis yang cantik dan manis itu berada tertuju di pandangan Akishima. Akishima tidak mengenal gadis itu. Ia memutuskan untuk mengatasi gadis asing.


“Kamu siapa? Ada yang bisa dibantu?” Tanya Akishima ramah kepada orang asing.


“Hei! Kamu tahu Rivandy dimana? Aku ingin mengatakan sesuatu padanya,” tanya Sheeran dengan aura berbunga-bunga sekaligus menghina Akishima.


“Kamu siapa? Aku tidak mengenalmu,” cekal Akishima dengan tegas.


“Apa?! Kamu tidak tahu siapa sainganmu? Ini aku Sheeran,” cocor Sheeran.


“Huft! Aku tidak percaya padamu. Kau pasti mata-mata dengan alat microphone yang terpasang di telingamu,” tuduh Akishima dengan teknik halusinasinya.


“Apa? Yang benar saja! Aku tidak melakukan itu," cekal Sheeran menanggapi tuduhan Akishima.


“Kau adalah organisasi kegelapan yang akan menculik Pangeran. Kau adalah seorang mata-mata dari bawahan Gin, antagonis dari Detektif Conan. Aku tidak akan memaafkanmu,” jelas Akishima dengan pakaian seperti seorang detektif.


“Rasanya aku ingin memukulmu,” gumam Sheeran ingin memukul Akishima dengan membara.


“Coba saja kalau bisa!” Tantang Akishima berpose sebagai seorang petinju.


“Kau benar! Ayo kemari!! Aku akan menghajarmu,” tekad Sheeran.


Sebelum pertengkaran terjadi, ada seorang pangeran yang menghampiri keributan itu. Ia sama sekali tidak konsentrasi karena ada keributan. Ia mencoba keluar dari apartemen dan melihat kedua gadis yang sedang bertengkar.


“Akishima. Kamu berisik sekali. Ada apa?” Aku mencoba bergerak menuju Akishima.


“Rivandy! Hati-hati! Dia datang kesini untuk menculikmu,” tegur Akishima agar hati-hati.


Aku tidak mendengar peringatan dari Akishima. Aku menghampiri gadis berkerudung itu. Aku tidak terlalu mengenal seorang gadis yang mengenakan aksesoris itu. Aku tidak terlalu mengenal gadis itu dan menyadarinya bahwa ia adalah Sheeran.


“Kamu siapa?” Tanyaku melihat Sheeran yang mengenakan kerudungnya.


“Kya!! Rivandy juga?” Sheeran terkejut dengan pertanyaanku.


"Ini aku. Istrimu," jawab Sheeran padaku.


"Siapa istriku?" Tanyaku tidak mengenali Sheeran.


Sheeran menangis tersedu-sedu dengan melihatku yang tidak mengenalnya. Aku dan Akishima tidak tahu apa yang dia pikirkan. Akhirnya, aku mengajaknya masuk ke apartemenku dan segera mengobrol sesuatu tentangnya.


[*^*]


"Jadi kamu Sheeran?" Tanyaku mengetahui gadis berkerudung violet itu adalah Sheeran.


"Aku istrimu. Kamu tega sekali," rengek Sheeran ingin menangis.


"Oo. Kamu mengenakan kerudungmu? Maafkan aku!" Aku meminta maaf kepada Sheeran.


"Tidak apa-apa. Kamu tidak tahu penampilanku. Aku berjanji akan menjadi istri yang baik," balas Sheeran memaafkanku.


"Tch! Cosplay terus! Mengaku sebagai istri Rivandy adalah gadis yang paling lebay," cetus Akishima duduk di kotatsu.


"Maaf saja. Rivandy sudah resmi menjadi istriku," respon Sheeran dengan tatapan kemenangan.


"Hah?! Jangan bercanda! Kau tidak akan bisa menang melawanku. Kau butuh 10000 tahun untuk mengalahkanku," oceh Akishima memakan jeruk.


"Kalau begitu, aku akan menunjukkan siapa yang menjadi istri idaman untuk Rivandy," tekad Sheeran membara seperti api.


"Aku tidak takut! Aku akan menjadi Hinata Hyuga, istri idaman bagi Naruto. Lalu, kau akan menjadi Haruno Sakura, istri beban bagi Sasuke," balas Akishima.


"Argh! Tidak akan kumaafkan! Aku akan menghajarmu sekarang juga." Sheeran berniat untuk untuk menghajar Akishima.


Akishima dan Sheeran bertengkar lagi. Mereka beradu mulut untuk menentukan siapa yang menjadi istri idaman untukku. Pada saat itu, aku menikmati hangatnya kotatsu itu. Aku sudah tidak memerlukan alat penghangat ruangan lagi. Jadi, Akishima membuang alat itu dan memberikan kotatsu padaku secara gratis. Aku memanggil Sheeran yang sedang bertengkar.


"Sheeran," panggilku menoleh Sheeran.


"Aku ingin sekali keluar dari sini dan mengajakmu. Aurora dan Evelyn tidak keberatan dengan ajakanku," harapku Sheeran mengerti.


"Benarkan? Aku akan mengajakmu sekarang juga, Sayangku," terima Sheeran dengan mata cintanya.


"Tapi, … kotatsu sangat nyaman. Aku tidak mau keluar. Di sana dingin sekali," tolakku ingin berbaring di kotatsu.


"Eh? Sayang? Ayolah, Sayang! Kita harus pergi! Aku mau jalan-jalan bersama dengan romantis," rengek Sheeran membujukku untuk pergi.


"Tidak mau! Akishima sudah menghangatkan tubuhku. Jadi, aku tidak mau keluar," rengekku seperti anak kecil.


Sheeran berusaha membujukku. Akishima tersenyum tipis karena kemenangannya. Tidak ada peluang lagi untuk Sheeran. Aku selalu diseret ke tempat yang hangat.


[*^*]


Jam 12:13, di sebuah cafe modern, Andela dan Eleva duduk di kursi di tengah pemandangan kota Moskow itu. Mereka memesan minuman mereka di layar pemesanan. Cafe itu mirip sekali dengan pertemuanku dengan Neesan untuk pertama kalinya.


"Eleva. Eleva," panggil Andela dengan antusias.


"Apa?" Eleva hanya memandang kota Moskow yang diguyur salju.


"Kita merayakan Natal lagi, lho," jelas Andela dengan antusias.


"Hah? Bukankah kita sudah merayakannya 25 Desember?" Tanya Eleva langsung menoleh pada Andela.


"Itu di Amerika. Ini Rusia, lho," jelas Andela memberitahu Eleva.


"Terserah." Eleva masih cuek pada Andela.


"Aku ingin bertemu Santa Claus dan meminta hadiah darinya. Hadiah yang bagus untuk gadis sepertiku," oceh Andela seperti ibu-ibu.


"Jangan katakan itu lagi!" Eeva mengeluarkan aura intimidasinya.


"Eh? Why?" Tanya Andela tidak tahu dengan perasaan Eleva.


"Kau membuatku ketakutan setengah mati dan trauma setengah mati. Kalau kau melakukan itu lagi saat natal, aku akan membunuhmu," ancam Eleva dengan haus darahnya.


"Jangan minta Vodka ke Santa Sialan itu lagi!” Eleva membentak Andela.


"Huft! Padahal, kita ingin merasakannya berduaan. Melakukan hal romantis saat Natal, seperti berdekatan di pemandangan yang luar biasa, berpelukan, berciuman, dan melanjutkannya ke tahap selanjutnya. Aku jadi basah sendiri," oceh Andela berniat melakukan hal yang mesum.


"Kita masih remaja dan jangan bilang itu lagi!" Eleva menegur Andela yang mulai mesum.


Suasana itu menjadi ramai karena Andela selalu mengoceh hal yang mesum. Eleva mendengar guyonan itu. Tapi, dia tidak terlalu keberatan. Ia mengerti bagaimana cara menghadapi gadis mesum seperti Andela.

__ADS_1


[*^*]


Jam  15:00, ketiga gadis itu sedang berkumpul di apartemen Zera. Mereka datang ke sana untuk mengajaknya ke suatu tempat. Mereka menunggu seseorang untuk


“Zera!” Panggil Sinta.


“Zera. Ayo! Kita harus berangkat. Aku juga ingin mengajak Rivandy,” sambung Diana dengan antusias dengan Hari Natal.


“Aku sangat bersyukur kita bisa merayakan Natal 2 kali dalam setahun. Ini seperti mimpi saja,” lanjut Sinta dengan bahagianya.


“Zera. Ayo! Aku ingin mengajak Aurora dan Evelyn. Rivandy harus istirahat di apartemennya,” ajak Nina sudah mengajak Aurora melalui aplikasi Telegram.


Zera keluar dari apartemennya dan melihat para gadis yang imut dan lucu dengan mengenakan pakaian Santa  Zera dengan pakaian piyama menerima ajakan itu dan berniat untuk mengganti pakaiannya.


“Aku ganti baju dulu.” Zera berniat untuk menutup pintu apartemennya.


“Bolehkah aku membantumu?” Tawar Sinta senang hati.


“Tidak boleh!” Larang Zera dengan menatap SInta dengan sinis.


“Ayolah! Aku akan melayanimu,” lanjut Sinta memohon dengan tulus.


Zera menutup pintunya dengan keras. Sinta yang ditolak itu tidak tahu bahwa Zera membenci seseorang. Diana dan Nina harus menunggu Zera selama 2 menit untuk ganti baju.


“Zera membenciku,” resah Sinta sambil menangis keras.


“Tidak. Zera ganti baju dulu lalu dia akan kemari. Ok?” Nina memeluk Sinta dengan aura keibuan dan istri idaman.


“Umu.” Sinta mengangguk dengan pelan.


“Yah … aku ingin segera lulus di akademi ini dan menikahi Rivandy,” tekad Diana dengan bersungguh-sungguh.


“Sainganmu sangat banyak, lho,” lanjut Nina.


Setelah berbincang 2 menit, Zera mengenakan mantel yang imut. Ia juga mengenakan syal dan sarung tangan tipis untuk menangkal cuaca dingin itu.


“Ayo! Kue Natal,” ajak Zera berjalan meninggalkan apartemennya.


“Ayo beli Vodka untuk mabuk!” Ajak Snta yang membuat Zera merinding.


"Kau akan membunuh Zera kalau kamu melakukan itu,” tegur Nina mendengar kata Vodka.


“Kamu akan menakuti Rivandy lagi dan aku akan menyembuhkannya,” lanjut Diana dengan mata berbintangnya.


Mereka pergi menuju ke mall dan segera membeli sesuatu, yakni kue Natal.


[*^*]


Jam 14:55, di suatu taman yang ditutupi salju, ada dua gadis yang sedang bersantai di bawah pohon menikmati indahnya kota Moskow pada musim dingin itu.


“Akhirnya, libur juga. Aku tidak mau mengerjakan tugas lagi,” keluh Dina bersyukur.


Lisa dengan santainya menjawab, “Tapi, kita harus latihan dulu."


“Latihan terus!! Apa kamu tidak lelah?” Tanya Dina protes dengan aktivitas Lisa.


“Tidak. Aku tidak merasakan apapun,” jawab Lisa tidak merasakan kelelahan apapun.


Dina menghela nafasnya karena mendengar jawaban yang tidak diharapkan. Ia merespon, “Aku terpaksa mengikuti Klub Militer bersamamu. Aku mendengar laporan dari Ketua Klub Militer bahwa kau ….”


“Kamu menggunakan tanganmu untuk melampiaskan hasratmu ke foto Pangeran,” celetuk Dina menyatakan secara tidak sengaja.


Lisa menjadi malu karena mendengar aibnya. Wajah Lisa menjadi memerah karena perilaku buruknya diberitahu oleh Dina. Maka dari itu, Lisa menjadi malu dan memarahi dengan menggembungkan pipinya.


“Hentikan itu, dasar bodoh! Aku … aku ingin mengajaknya untuk menjadi lebih kuat. Dia akan menjadi Ace Spyxtria Tahun Kelima,” jelas Lisa dengan nada Tsundere.


“Sudahlah! Aku tidak mau membicarakan itu lagi.” Dina menjadi tidak mood untuk membahas itu.


“Kamu mengikuti Klub Pangeran? Apa yang kamu dapatkan?” Tanya Lisa mengalihkan pembicaraan.


“Aku mendapatkan Julukan Scout Coconut. Bersamaan dengan Farah."


“Oh. Begitu. Aku harap kita bisa mendekati Pangeran itu dan melahap cairannya,” harap Lisa dengan serius.


“Dan kau tidak perlu melampiaskan diri dengan tanganmu sendiri,” lanjut Dina


“Berisik!”


[*^*]


Jam 17:12, ada sebuah mobil panjang warna hitam yang melaju dengan kecepatan 30 km per jam. Para sopir itu mengendarai mobilnya sesuai dengan perintah Tuan Putri (Ojou-Sama). Saat itu, aku dan kedua kakakku sedang menemaninya untuk berbelanja. AKu menanyakan sesuatu padanya mengenai hadiah natal yang cukup mahal itu.


“Nona. Anda sudah membeli banyak barang. Sweater dari merk Cardinal. Ini tipe pria. Untuk apa?”  Tanyaku


“Aku akan memberikannya ke Pangeran,” jawab Nona Claveriska dengan antusias.


“Bukankah ini berlebihan? Kau membayarnya dengan ₽ 20.000. Padahal, harganya lebih murah,” sanggahku melihat kejanggalan.


“Kamu ini bagaimana? Itu untuk pangeran tercinta. Aku ingin sekali melahapnya,” ucap Aura-Neechan dengan haus darahnya.


“Nona. Kamu harus tahu caranya untuk mendapatkan pangeran. Aku tidak mau mendengar curhatan dari adikku kecil ini.” usul Spinz-niichan dengan santai dan menahan tawanya.


“Siapa yang kau bilang adik kecil?” Aku sedikit tersinggung dengan Spinz-niichan.


“Tidak ada.” Spinz-niichan mengalihkan pandagannya.


Aku tidak terlalu ingin melakukan sesuatu. Aku hanya dipermainkan oleh kedua kakakku. Tidak terlalu ingin memulai masalah lebih rumit lagi. Jadi, aku hanya diam saja.


Aku menatap Kota Moskow yang bergerak. Padahal, itu adalah hal yang semu. Tak lama kemudian, Nona Claveriska menoleh padaku dan menanyakan “Spinx. Kamu kenal Pangeran Rivandy?”


“Iya. Aku mengenalnya. Dia mengeluh padaku. Nona memberikan buket bunga jumlah genap, sehingga dia ingin mati karena pemberian itu,” jawabku tidak pikir panjang membuat Nona Claveriska bersalah atas tindakannya.


“Jangan beritahu aku tentang ini lagi!” Nona Claveriska merasa bersalah dengan kejadian itu.


“Karena itu, Kakak Rivandy (Cherry Spyxtria) menghukumku dengan larangan menggunakan pakaian dalam ke akademi,” jelas Nona Claveriska merinding.


“Pantas saja kamu memegang rok dengan ketat dan pakaianmu,‘ dugaku benar.


“Sepertinya, Ojou-sama sudah mulai mesum.” Spinz-niichan mengejek Nona Claveriska.


“Diamlah!” Cocor Nona Claveriska.


“Jangan khawatir, Nona! Aku akan mengajarimu jadi gadis yang mesum untuk pangeran,” usul Aura-neechan dengan sarannya.


“Sudah kubilang jangan katakan itu lagi! Aku tidak mau bertemu dengannya lagi!” Keluh Nona Claveriska karena tidak ingin mendengar nama Kochou-Sensei lagi.


Kami mengobrol lagi dengannya dan tak lama kemudian sudah sampai di tempat yang kami tuju untuk melakukan sebuah rencana untuk mendapatkan Rivandy-dono. Rencana itu akan menyebabkan Perang Cinta.

__ADS_1


[*^*]


Jam 11:12, aku berjalan bersama keempat gadis yang selalu melekat. Kami mencari barang untuk Natal nanti. Aku terpaksa meninggalkan kotatsu yang kusayangi karena sangat hangat. Entah kenapa aku menjadi kecanduan karena Akishima membuang alat penghangat ruangan ke tempat sampah.


Kotatsu. Maafkan aku! Aku harus pergi bersama mereka berempat.


Jam 12:23, kami sudah sampai di Mall yang sangat mewah. Itu adalah Mall GUM. Mall yang sudah dihias dengan hiasan Natal. Karena itu, kami menutup mata sebelum mengetahui apa saja hadiah yang diberikan untuk Natal nanti.


Terpaksa aku kehilangan saldo kartu kreditku. Mereka ingin aku membayarnya semua hadiah itu.


Padahal, aku ingin sweater Arcade Ahri. Karena Eleva mengajakku bermain League of Legends, aku mengetahui karakter Ahri.


Tapi, aku tidak mengharapkan itu. Hanya 0,000012% untuk mendapatkannya. Aku jadi tidak mengerti lagi dengan perhitungan matematika itu.


Jam 19:00, tak terasa waktunya semakin indah dan malam. Kami menghabiskan waktu sebelum merayakan malam Natal di Moskow. Pemandangan yang semakin indah dengan kristal salju yang turun di kota Moskow.


Sial! Uang kartu kreditku langsung terkuras dengan cepat.


Kami berkumpul di pohon Natal yang besar itu. Pohon dengan unsur modern sangat kental.. Itu yang mengajak kami untuk memandang pemandangan yang sangat indah dan menawan itu. Aku tidak merasakan suasana Natal yang indah sebelumnya. Ini pertama kalinya aku merasakan keindahan malam.


Tidak hanya aku, sebagian kecil siswa dan siswi yang sedang liburan memandang pohon Natal yang besar itu. Pemandangan malam dan dipenuhi hiasan Natal membuat kota menjadi lebih hidup. Meskipun Natal ditetapkan pada tanggal 25 Desember (Ulang Tahun Bella), namun ini Rusia. Natal dirayakan pada tanggal 7 Januari.


Aku bersama Sheeran dengan memegang tangannya dan menyeretnya ke tempat pancuran. Setelah sampai di pancuran dekat Pohon Natal yang besar itu, aku berhadapan langsung padanya dan mengatakan sesuatu yang serius untuknya.


“Sheeran. Aku ingin mengatakan sesuatu untukmu,” tekadku dengan serius.


Sheeran terkejut dengan pernyataan serius itu. Ia tidak mengerti apa yang aku pikirkan mengenai itu. Rasanya hatinya ingin meledak.


“Apakah dia akan menyatakan cintanya padaku?” Pikir Sheeran yang polos.


“Kyaa! Aku ingin mendengarnya lebih lanjut lagi.” lanjutnya ingin merasa jatuh cinta.


“Aku harap Ia mengajakku ke hotel dan melampiaskan hasratnya padaku,” harap Sheeran dengan pikiran mesumnya.


“Sheeran … aku berterima kasih padamu.  Karena kamu, aku merasa menjadi lebih baik. Jadi, terima kasih Sheeran. Aku menyukaimu.” Aku membalas tembakan Sheeran.


Aku tidak bisa menahan perasaan itu Aku terpaksa menyampaikan sesuatu pada Sheeran. Aku mempercayainya. Kalau dia tidak ada, aku akan mati pada musim dingin.


Sheeran terharu karena rasa cintanya padaku sudah terbalaskan. Ia tidak menyangka aku melakukan itu. Itu membuat tangisan bahagia di setiap perasaan cinta itu.


“Sayang. Aku mencintaimu. Selamat Natal, Sayangku Cintaku!” Sheeran memelukku dengan hangat.


“Iya. Selamat Natal,” balasku memegang tangannya.


“Sial! Aku mendapatkan zonk,” pikir hati Sheeran yang licik merasa kecewa dengan pernyataanmu itu.


Setelah pelukan itu, Aurora dan Akishima mendatangi kami yang romantis. Mereka dengan kesalnya tidak mendapatkan momen langka itu. Momen yang sekelas dengan Status Legendary pada Game RPG.


“Hoi! Apa yang kau lakukan, Rivandy? Jangan ajak dia ke hotel!” Omel Akishima mendekatiku.


“Kamu kawin lari dengannya,” lanjut Aurora menggembungkan pipinya.


“Aku akan mengambil saldo kartu kreditmu lagi,” lanjut Aurora mengambil dompetku.


“Kumohon, jangan lakukan itu lagi! Saldoku sedang sekarat karena kalian,” gumamku melihat tingkah Aurora.


Setelah itu, kami berjalan pulang ke apartemenku. Aurora mengajak Evelyn untuk menginap di apartemenku. Aku menjadi lebih menerima daripada menolaknya. Sesampainya di apartemenku pada jam 22:00, kami memilih begadang dan menghabiskan waktu dengan hangat. Mereka berlomba-lomba agar bisa mendapatkanku. Ini sedikit berlebihan. Tapi, aku menerimanya lagi.


Jam 00:01, kami memutuskan untuk tidur seranjang lagi. Kami harus tidur karena menjaga tubuh remaja kami. Aku menjadi sasaran keempat gadis itu.


Tidak apa-apa. Menjadi Pangeran Harem itu tidak terlalu buruk juga ~ Rivandy Lex.


--------********-----------


Ilustrasi



Rivandy Lex


Kelas I Saintek A


Main Character



Aurora Sentinel


Kelas I Saintek A


Heroine Character



Akishima Renji


Kelas I Saintek C


Heroine Character


[Caution!]


[Dilarang mencuri gambar ini dengan mengambil screenshot dan mengklaim gambar ini tanpa seizin dari pemilik. Hak cipta dilindungi undang-undang]


[Undang Undang 28 No Tahun 2014]


[Pelindungan Hak Cipta dilakukan dengan waktu lebih panjang sejalan dengan penerapan aturan di berbagai negara sehingga jangka waktu pelindungan Hak Cipta di bidang tertentu diberlakukan selama hidup pencipta ditambah 70 (tujuh puluh) tahun setelah Pencipta meninggal dunia.


Pelindungan yang lebih baik terhadap hak ekonomi para Pencipta dan/atau Pemilik Hak Terkait, termasuk membatasi pengalihan hak ekonomi dalam bentuk jual putus (sold flat).


Penyelesaian sengketa secara efektif melalui proses mediasi, arbitrase atau pengadilan, serta penerapan delik aduan untuk tuntutan pidana.


Pengelola tempat perdagangan bertanggung jawab atas tempat penjualan dan/atau pelanggaran Hak Cipta dan/atau Hak Terkait di pusat tempat perbelanjaan yang dikelolanya.


Hak Cipta sebagai benda bergerak tidak berwujud dapat dijadikan objek jaminan fidusia.


Menteri diberi kewenangan untuk menghapus Ciptaan yang sudah dicatatkan, apabila Ciptaan tersebut melanggar norma agama, norma susila, ketertiban umum, pertahanan dan keamanan negara, serta ketentuan peraturan perundang-undangan.


Pencipta, Pemegang Hak Cipta, pemilik Hak Terkait menjadi anggota Lembaga Manajemen Kolektif agar dapat menarik imbalan atau Royalti.


Pencipta dan/atau pemilik Hak Terkait mendapat imbalan Royalti untuk Ciptaan atau produk Hak Terkait yang dibuat dalam hubungan dinas dan digunakan secara komersial.


Lembaga Manajemen Kolektif yang berfungsi menghimpun dan mengelola hak ekonomi Pencipta dan pemilik Hak Terkait wajib mengajukan permohonan izin operasional kepada Menteri.


Penggunaan Hak Cipta dan Hak Terkait dalam sarana multimedia untuk merespon perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.]


[Masih ngeyel, aku tidak mau tahu. Aku bakal ngambek]

__ADS_1


__ADS_2